
Sidoarjo School Festival (SSF) kembali digelar MKKS SMK Swasta di Lippo Plaza Sidoarjo. Kegiatan tersebut merupakan wujud kemandirian sekolah-sekolah swasta dalam mengelola pendidikan.
Ketua panitia SSF Indra Wahyu Suliswanto mengatakan, SSF merupakan ajang untuk menunjukkan kualitas sekolah vokasi sekaligus promosi jurusan dari 79 sekolah yang ada di Sidoarjo.
“Bagi kami, pendidikan vokasi masih menjadi harapan Indonesia Emas tahun 2045 mendatang,” kata Indra, Kamis (18/1/2024).
Ia menambahkan, SSF juga menjadi wadah menampilkan karya dan inovasi SMK yang ada di Sidoarjo. Terbukti, selama 3 hari stand yang disediakan panitia penuh dengan karya anak-anak.
Tak hanya itu, panggung kreasi yang tersedia di tempat acara pun tak pernah sepi dengan pertunjukan. Pasalnya, berbagai perlombaan digelar di panggung tersebut, di antaranya E-Sport, cipta lagu, tari, hingga pemilihan Duta SMK.
Indra mengakui bahwa sekolah vokasi tak hanya menjadi jembatan pendidikan untuk meraih karir, tetapi juga menjadi bagian untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan.
Sementara itu di tempat berbeda, pemenang Duta SMK dari SMK 10 November Panji Wiratama Putra mengaku senang berkesempatan ikut lomba tersebut.
“Motivasi saya ingin menambah pengalaman dan ilmu. Sekaligus, mengangkat nama baik sekolah,” kata Tama sapaannya.
Ia menjelaskan, setelah masuk dalam 10 duta terbaik, selama sehari ia digembleng dengan diberikan beberapa pelatihan. Di antaranya tentang kepemimpinan, motivasi, public speaking, dan lain-lain.
“Ada 70 peserta yang ikut, kemudian diambil 10,” jelas Tama.
Di balik keberhasilannya menjadi Duta SMK ternyata ia telah mengikuti kegiatan serupa di sekolah. Pasalnya, di SMK Sepuluh November terdapat kegiatan yang bernama King and Queen.
“Kriterianya hampir sama, yakni smart dan cakep,” kata Tama.
Peserta didik kelas XI Jurusan Perbankan Syariah itu merupakan sosok anak berpenampilan sederhana. Sikapnya pun terkenal sopan kepada guru dan ramah kepada anak-anak lainnya. Tak heran kalau Tama juga dipercaya menjadi ketua OSIS.
Menariknya, selama bersekolah ia memakai sepeda ontel dari rumahnya yang berjarak sekitar 4 Kilometer.
Ia lakukan itu karena selain senang bersepeda juga ingin menghemat uang sakunya –di saat teman-temannya banyak yang memakai sepeda motor–.
Kegiatan SSF tahun ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadispedikbud) Kabupaten Sidoarjo Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd. Bahkan, ia membuatkan surat edaran kepada sekolah-sekolah SMP untuk berkunjung dan mengikuti lomba di SSF.
Sebagai Kadispedikbud ia berpesan kepada SMK-SMK supaya menjadi harapan anak-anak melanjutkan jenjang pendidikan. Artinya, SMK harus berkembang sesuai zaman dan kebutuhan anak-anak.
“Supaya exist SMK harus bisa menjadi be the first. Jika tidak bisa, harus menjadi be the best. Jika tidak bisa keduanya, maka harus menjadi be the unique,” kata Tirto.
Artinya, ada yang menjadi pelopor, pengembang, dan menciptakan keunikan. (Nis)








