
Taekwondo jadi olahraga beladiri yang ternyata butuh waktu lama untuk bisa berprestasi. Hal itu diakui oleh Achmad Ariffudin Yusuf seorang atlet Taekwondo dari SMPN 1 Gedangan.
Yusuf sapaannya mengaku, untuk bisa meraih puluhan medali hingga seperti saat ini dibutuhkan latihan keras sejak kelas 1 sekolah dasar. Dalam seminggu pun ia harus menjalani 3 kali latihan dengan durasi waktu 2 hingga 3 jam.
“Seminggu 3 kali latihan. Rabu, Jumat, dan Ahad. Sejak kelas 1 SD,” kata Yusuf.
Untungnya, kata Yusuf, jarak dari rumah ke tempat latihan tak terlalu jauh. Saat masih SD ia latihan di Desa Pepe, Sedati. Namun, tempat latihan di dekat rumahnya itu harus berpindah ke Gedangan karena direnovasi.
“Sekarang latihan di lapangan Futsal Desa Wedi,” ujar anak ke-2 dari dua bersaudara itu.
Ia juga mengaku, awal mengikuti latihan Taekwondo tidak untuk mengejar prestasi. Intinya, hanya untuk olahraga. “Dulu cuma ikut-ikutan saja. Orangtua cuma kasih pilihan Karate apa Taekwondo,” ngakunya.
Memilih Taekwondo pun karena belum banyak mengetahui olahraga asal Negeri Ginseng itu. Artinya, hanya asal pilih dan tak memiliki banyak pertimbangan. Tetapi, pilihan tersebut ternyata mendorongnya untuk terus berlatih.
Yusuf pun mengatakan, setelah beberapa tahun berlatih di klub, orangtuanya pun menyuruh untuk mencoba ikut pertandingan. Intinya, mengikuti pertandingan pun karena coba-coba.
“Disuruh orangtua ikut pertandingan, siapa tahu bisa juara. Karena orangtua ingin saya dapat jalur prestasi,” terang Yusuf.

Selang beberapa tahun pun ia mulai membuktikan dengan raihan juara tingkat kabupaten. Sehingga, syarat untuk mendapatkan jalur prestasi pun diperoleh. Dan berhasil masuk SMPN 1 Gedangan melalui jalur prestasi.
Hingga kelas 9 ini Yusuf telah mengoleksi sebanyak 16 medali emas, 8 perak, dan 2 perunggu. Ditambah dengan piagam dan sertifikat.
Di balik kesuksesannya mengumpulkan medali ada latihan keras yang harus ia jalani. Selain itu, ada cidera yang tak terhitung jumlahnya. Beratnya lagi, rasa bosan yang terkadang menghampiri dan menghambat latihan.
“Kalau cidera sering. Yang paling berat itu bosan,” jelas Yusuf.
Saat cidera, kata Yusuf, ia harus istirahat latihan sedikitnya seminggu hingga sebulan. Tergantung cidera yang dialami, seperti yang sering ia alami yakni cidera pergelangan kaki dan lutut.
Sementara itu, rasa bosan lebih berbahaya untuk karir Yusuf. Pasalnya, tak hanya menghambat usaha dan kerja keras, juga dapat menghentikan prestasi dan cita-cita.
“Saya pernah hampir 2 tahun tidak dapat juara sama sekali. Saya sampai stres karena 5 kali pertandingan gagal terus. Mau ikut kejuaraan tidak percaya diri,” ungkap Yusuf.
Karena kegagalan itulah membuatnya frustasi dan sempat akan berpindah menggeluti cabang olahraga lainnya. Bola Voli dan Futsal jadi alternatif olahraga yang sempat ingin ia geluti.

Untungnya ia sadar bahwa kekalahan itu disebabkan karena jarangnya latihan. Artinya, rasa bosanlah penyebab kegagalan tersebut. Sehingga, orangtuanya pun menyemangati untuk kembali fokus ke Taekwondo.
Meskipun kembali fokus ke Taekwondo, Futsal dan Voli tidak ia tinggalkan. Pasalnya, kedua olahraga tersebut ia jadikan alternatif di tengah kebosanan latihan Taekwondo.
“Kadang-kadang ikut Futsal sama teman-teman,” ujar Yusuf.
Usai kembali fokus berlatih, gelar juara yang ia idam-idamkan pun berhasil ia peroleh. Saat itu ia dipanggil oleh tim Popda Sidoarjo untuk bertanding di tingkat provinsi di Bangkalan tahun 2024.
Gelar juara I dan medali emas kembali ia raih. Tak hanya itu, hadiah uang pembinaan sebesar 8 juta Rupiah ia bawa pulang untuk dipersembahkan ke orangtua.
“Alhamdulillah menang. Semua uangnya saya berikan ke orangtua,” kata siswa Taekwondo Prime Akademi itu.
Yusuf merupakan atlet Taekwondo yang ditunjang dengan postur tubuh yang ideal. Meski ia belum mengukur tinggi badan, jika dibandingkan dengan anak seusianya, tinggi bandanya cukup menonjol.

Seorang atlet Taekwondo sangat ditunjang oleh tinggi badan. Terutama mereka yang memiliki kelebihan panjang kaki. Pasalnya, beladiri tersebut didominasi oleh gerakan kaki.
“Untuk mengukur jangkauan ke lawan pastinya pakai kaki,” terang Yusuf.
Kaki tak hanya untuk menyerang, tetapi juga jadi tumpuan melakukan gerakan. Sehingga tak heran jika cidera sering terjadi pada kaki. Tenaga yang dikeluarkan pun difokuskan ke kaki.
Taekwondo saat ini jadi prioritas utama Yusuf untuk meraih cita-cita. Usai lulus SMP ia berkeinginan masuk SMA Taruna dengan jalur prestasi.
Tetapi, menurut Yusuf, untuk bisa masuk ke sekolah milik negara itu tidak cukup dengan portofolio prestasi Taekwondo. Pasalnya, yang jadi pertimbangan utama yakni potensi akademik selama di sekolah.
“Semoga bisa Taekwondo jadi pelengkap untuk menambah poin saat tes masuk Taruna,” harap peserta didik kelas 9 itu.
Beberapa guru pun membenarkan bahwa nilai pelajaran Yusuf di kelas di atas rata-rata kebanyakan peserta didik. Meskipun, aktivitas latihan dan pertandingannya cukup padat. (Nis)








