
Persoalan sampah rumah tangga kerap menjadi pekerjaan rumah yang rumit bagi pemerintah desa. Namun, tekad kuat ditunjukkan oleh Pemerintah Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Demi memperbaiki tata kelola lingkungan di wilayahnya, sebanyak 16 delegasi desa secara khusus mendatangi TPS 3R Cinta Mahesa di Desa Suwayuwo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Selasa (28/7/2026).
Kedatangan rombongan ini bukan sekadar berkunjung, melainkan untuk menimba ilmu secara langsung mengenai teknik budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Development of Efficient Food Agriculture yang diinisiasi oleh Stapa Center dan didukung penuh oleh Sampoerna Untuk Indonesia.
Direktur Stapa Center, Agus Rohmatulloh, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antarwilayah untuk mengatasi krisis sampah dari tingkat desa. Ia berharap formula sukses yang telah diterapkan di Desa Suwayuwo bisa dibawa pulang dan diterapkan secara adaptif di Sidopekso.
“Kami ingin keberhasilan dari TPS 3R Desa Suwayuwo ini dapat ditularkan ke desa-desa yang lain, sehingga permasalahan sampah dapat terkelola dengan baik,” ungkap Agus di hadapan para peserta.
Semangat serupa juga disuarakan oleh Kepala Desa Suwayuwo, H. Abdul Mujib. Di hadapan para delegasi Sidopekso, ia membagikan pengalaman suka-duka mengelola sampah di desanya, termasuk bagaimana menghadapi pandangan sebelah mata dari masyarakat.
“Sebagian orang masih cenderung memandang permasalahan sampah adalah hal yang tidak penting dan jauh dari nilai ekonomis. Kita harus bisa menepis anggapan ini dengan istiqomah dan tidak mudah menyerah!” seru Mujib memotivasi.
Sementara itu, Kepala Desa Sidopekso, Eva, tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Meskipun infrastruktur fisik TPS di desanya telah berdiri dan draf konsepnya sudah disiapkan, ia merasa pengayaan teknis di lapangan sangat dibutuhkan agar program tersebut benar-benar matang.
“Hasil dari pelatihan ini kami harapkan dapat menyempurnakan konsep yang ada dan dapat diimplementasikan dengan baik,” kata Kades Eva penuh optimisme.
Perwakilan Sampoerna Untuk Indonesia, Rusdiono, turut memberikan dorongan mental kepada para peserta. Ia menyarankan agar TPS 3R Cinta Mahesa dijadikan tolok ukur utama karena terbukti mampu berkembang meski berangkat dari keterbatasan fasilitas.
“Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, TPS ini dapat berkembang dan menjadi jujugan studi tiru dari berbagai daerah dan kelompok masyarakat,” puji Rusdiono.
Usai sesi seremoni yang berlangsung dari pagi hingga siang hari, suasana langsung cair tatkala para peserta diajak masuk ke materi inti. Bendahara KSM Cinta Mahesa, Lilik Minarni, membagikan tips manajemen kelembagaan yang rapi, sebelum akhirnya Ketua KSM Cinta Mahesa, Endro Winaryo, mengajak peserta terjun langsung ke lapangan. Di sana, para delegasi Sidopekso diajari detail mulai dari pemilahan sampah organik, siklus hidup maggot BSF, hingga cara mengolahnya menjadi pakan ternak berdaya jual tinggi.







