
Tahun ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo dibuat bangga oleh seorang Lionel Anson Setiawan. Pasalnya, peserta didik kelas 6 SDK Petra 13 itu meraih medali perak OSN tingkat Nasional pada September lalu.
Putra Yohanes Agung Setiawan itu menjelaskan, sejak TK ia suka dengan pelajaran berhitung. Tetapi setelah itu ia berganti kegemaran dengan bermain piano klasik hingga kelas 4.
Saat di ke kelas 4 ia mulai mendalami Matematika lagi. Motivasinya adalah untuk mengikuti lomba dan ingin berkuliah di luar negeri.
Namun, dibalik keberhasilannya ada kegagalan yang sempat ia alami. Kegagalan itu mendorongnya untuk belajar maksimal. Alhasil, saat kelas 5 usaha kerasnya membuahkan hasil.
Ia pun berhasil meraih medali emas di olimpiade Matematika Internasional di Thailand. Lawannya pun tak tanggung-tanggung, ada Vietnam, Brazil, Hong kong, Malaysia, Singapore, dan lainnya.
“Sebelumnya, pernah dapat emas di Thailand,” ungkap Anson saat ditemui di SDK Petra 13, Rabu (1/10/2025).

Ia menambahkan, kegagalan dalam beberapa lomba yang pernah ia ikuti seolah jadi hal yang menakutkan. Karena itu, durasi belajarnya pun ditambah. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari ia bisa menghabiskan waktu 8 jam untuk belajar Matematika.
Mulai di sekolah, tempat les, dan di rumah. Saat di rumah, ia belajar bersama papa dan mamanya.
Sosok Yohanes Agung Setiawan memiliki peran besar mengajari di rumah hingga memberikan semangat untuk tekun dan disiplin mendalami Matematika. Ia tahu bahwa Matematika adalah ilmu yang membutuhkan proses pemahaman yang tak singkat.
Bahkan, Anson harus mengorbankan cita-citanya menjadi pianis profesional supaya bisa jago Matematika. Saat ini, bermain piano hanya sebatas penyaluran hobi.
“Cita-cita pengen jadi pianis,” ujar Anson.
Namun, Anson mengaku berkat latihan piono classic logika berfikirnya terbentuk. Pasalnya, latihan piano juga belajar menghitung rumus notasi dan chord.
Saat ditemui, Anson pun membagikan pengalamannya saat mengikuti OSN Nasional lalu. Hari pertama ia harus menyelesaikan sesi 1 dengan soal teori 1 sebanyak 25 pertanyaan yang harus dijawab selama 1 jam. Setelah itu, ada ia harus menyelesaikan soal teori 2 sebanyak 15 pertanyaan yang dijawab selama 90 menit.
Pada hari ke-2, ia dihadapkan pada soal eksplorasi. Ada 6 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 2 jam. Soal tersebut tidak memiliki rumus cepat. Para peserta harus menganalisa soal kemudian mencari strategi untuk menyelesaikan.
Anson mengaku, tak semua soal bisa ia selesaikan. Adapula soal-soal yang membuatnya ragu dengan jawaban yang ia berikan. (Nis)








