
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar kegiatan Berbakti untuk Negeri di Sidoarjo. Program kegiatannya kali ini berupa Pelatihan Pengolahan Sampah menjadi Kompos dan Bawang Merah.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Luminor tersebut merupakan program kerja sama BRIN dengan Komisi VII DPR RI.
Hadir membuka pelatihan anggota Komisi VII DPR RI Saikhul Islam yang sekaligus menyemangati para peserta pelatihan untuk gemar bercocok tanam. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan keunggulan pertanian.
“Pertanian tidak sekedar kegiatannya menanam saja. Ada proses awal yang harus dilakukan salah satunya menyediakan pupuk,” terang Saikhul, Sabtu (15/10/2022).
Ia pun menegaskan supaya masyarakat tidak berharap kepada program pemerintah saja, karena program itu sifatnya tidak terus menerus. “Jangan berharap kepada program pemerintah karena itu sifatnya hanya pemantik,” katanya.
Intinya, masyarakat kalau ingin bercocok tanam harus mandiri, mulai dari pembibitan, penyediaan pupuk, hingga proses pemanfaatan hasil pertanian. Sementara itu pemerintah memberikan dukungan berupa pelatihan dan beberapa penunjang lainnya.
Senada dengan Saikhul, salah satu pengusaha muda di wilayah Krian, Sidoarjo M. Abud Asyrofi mengatakan bahwa perkembangan zaman mengharuskan kita untuk mandiri dan swasembada, terutama dalam hal pangan. Pasalnya, saat ini dunia sedang menghadapi krisis ketidakpastian pangan yang disebabkan oleh perang.
“Beberapa waktu lalu presiden menyampaikan, intinya Indonesia harus siap dengan resesi global yang saat ini sudah menimpa beberapa negara,” kata Abud.
Ia menambahkan, himbauan pemerintah harus disambut masyarakat dengan mempersiapkan berbagai macam kebutuhan utama, yakni pangan. “Masyarakat harus paham dan bisa mandiri terkait penyediaan bahan pangan. Dari hulu ke hilir harus dipersiapkan,” imbuhnya.
Pemerintah bersama DPR RI telah menunjukkan keseriusan dengan memberikan program pelatihan yang lengkap dan dilaksanakan secara berkelanjutan.
Kegiatan pelatihan kali ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari perwakilan petani dan kelompok masyarakat. Antusias mereka tampak saat menerima materi praktek membuat pupuk kompos.
Karena dalam materi tersebut memberikan solusi untuk percepatan proses pengomposan dengan menggunakan bahan alami yang bisa didapatkan dari lingkungan sekitar.
Seorang Analis Perkebunrayaan BRIN Riki Ruhimat yang menjadi salah narasumber menjelaskan, untuk mempercepat pengomposan membutuhkan bioaktivator yang tidak perlu beli, tetapi cukup dengan mengambil tanah di sekitar yang masih tampak subur.
Pasalnya, lanjut Riki, tanah yang masih subur mengandung banyak mikro organisme yang bisa mempercepat pengomposan. “Bio activatornya tidak perlu beli,” terangnya.








