
MTs. Sabilil Khoir yang terletak di Desa Glagaharum, Kecamatan Porong adalah satu di antara sekian sekolah yang terdampak bencana lumpur Lapindo.
Tragedi itu menyisahkan dampak yang belum usia hingga saat ini. Sabilil Khoir yang dulunya bisa menerima 3 rombongan belajar setiap tahun, kini penerimaannya pun berkurang.
Kepala MTs. Sabilil Khoir M. Saifulloh Asy’ari mengatakan, berkurangnya penerimaan peserta didik dikarenakan tenggelamnya beberapa desa di Kecamatan Porong. Pasalnya, desa-desa itu letaknya tak jauh dari sekolah.
“Dulu ada Desa Renokenongo, Balongbendo. Kan murid kita juga dari desa-desa itu,” kata Saifullloh.
Ia menambahkan, Sabilil Khoir menjadi lembaga pendidikan favorite desa-desa tersebut. “Anak-anak kita dulu dari 7 desa,” ungkapnya.
Meskipun terdampak hingga saat ini, pihak sekolah mengaku belum pernah menerima bantuan atau kompensasi dari Lapindo. Padahal, tak hanya berimbas pada berkurangnya jumlah peserta didik, anak-anak di sekolah itu kerap merasakan bau gas yang keluar dari sumber lumpur.
Kondisi itu dialami selama belasan tahun, bahkan hingga sekarang. Selain berkurangnya penerimaan peserta didik baru, banyak anak-anak yang pindah sekolah karena relokasi atau pindah rumah.
“Dulu sempat parah, sekarang sudah berkurang baunya. Maklum, jarak dari sekolah ke pusat semburan tidak jauh,” terang Pak Sep.
Menyikapi permasalahan tersebut pihak sekolah tetap mengusahakan untuk bisa bertahan dan menjaga keberlangsungan sekolah. Usaha mempertahankan sekolah dilakukan dengan promosi ke sekolah dasar atau madrasah sekitar Desa Glagaharum.
Alhasil, sekolah itupun tetap bertahan hingga sekarang, meski dengan jumlah peserta didik yang tidak seperti dulu.
Saifulloh mengkelaim, sebenarnya masyarakat masih memberikan kepercayaan kepada Sabilil Khoir untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak.
Pasalnya, MTs tersebut sudah memiliki segmen khusus di Kecamatan Porong. Karena sejak didirikan, lulusan Sabilil Khoir bisa diterima di sekolah favorite.
“Lulusan kita, selain yang mondok, itu semuanya diterima di sekolah negeri -sebelum ada zonasi. Artinya, 100 persen diterima di negeri,” jelas Pak Sep, sapaannya.
Hal itu berlanjut hingga sekarang. Bahkan, selalu mendapat apresiasi dari SMK atau SMA penerima karena lulusan Sabilil Khoir selalu taat dan tertib.
Menurut Pak Sep, kesan positif dari sekolah-sekolah tersebut dikarenakan pembiasan yang dilakukan di Sabilil Khoir. Maklum, karena sekolah Islam dengan karakter ke-NU-an.
“Lingkungan sekolah memang banyak pondok. Masyarakatnya juga NU semua,” kata Pak Sep.
Bukti diterimanya lulusan di sekolah-sekolah favorite terus dipromosikan kepada sekolah-sekolah SD maupun Madrasah. Pastinya, dengan program sekolah unggulan yang telah dijalankan.
“Saya sampaikan ketika ke sekolah SD. Kalau ingin bisa meneruskan ke sekolah negeri ya SMPnya di MTs. Sabilil Khoir,” terang Pak Sep.
Sabilil Khoir saat ini sedang melaksanakan program deseminasi sekolah yang diinisiasi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo. Sekolah tersebut menjadi 1 di antara 7 sekolah yang ditunjuk.
Program deseminasi merupakan kegiatan belajar bersama yang merujuk pada MTs. Muslimat NU Pucang. Sekolah yang telah menjalankan pembelajaran bilingual. Artinya, menggunakan standar pendidikan internasional.
“Bagi MTs. Sabilil Khoir itu sangat bagus. Karena ada perpaduan pembelajaran ala NU dengan luar negeri,” kata Pak Sep.
Sementara itu, MTs. Sabilil Khoir juga telah menjalankan program leadership kepada anak-anak. Leadershipnya bukan seperti pada umumnya, melainkan Islamic Leadership yang membekali anak-anak dengan kecakapan ilmu agama.
Ilmu agama yang dimaksud adalah amalan keseharian yang biasanya dilakukan masyarakat, seperti hafal surat-surat pendek dalam Alquran. Kemudian mereka juga hafal bacaan-bacaan dalam tahlil.
“Leadershipnya bisa memimpin masyarakat dalam kegiatan di desa atau lingkungan,” terang Pak Sep.
Selain itu, terang Pak Sep, anak-anak juga dibekali kecakapan master of ceremony (mc). Karena, kebutuhan di masyarakat akan mc sangat banyak. “Setiap ada acarakan pasti butuh mc,” terangnya.
Adapun kompetensi lain, yakni seni membaca Alquran yang dikhususkan kepada anak-anak yang memiliki bakat dan minat qiraah. “Bagi yang memiliki bakat qiraah kita bimbing,” tuturnya.
Dengan adanya kemampuan baca Alquran yang ditopang dengan kemampuan Bahasa Inggris dari pembelajaran bilingual diharapkan menambahkan daya saing lulusan Sabilil Khoir.
Masyarakat pun tidak hanya tahu, tetapi bisa merasakan langsung hasil pembelajaran di sekolah. Hal itu menjadi target yang diterapkan oleh sekolah setiap tahun.
Yang menjadi karakter kuat lainnya, anak-anak juga dibekali kemampuan membaca kitab-kitab yang diajarkan di pesantren. Tujuannya, supaya mereka menjaga kultur organisasi besar yang menaunginya.
Literasi anak-anak lengkap, ada bacaan umum dan bacaan keislaman. Supaya mereka bisa hidup menyesuaikan perkembangan zaman tetapi tetap dilandasi agama yang kuat.
“Penting selalu update zaman, tetapi juga diikuti akhlak,” kata Pak Sep.
Pak Sep selalu berharap, kemampuan akademik anak-anak selalu berjalan diiringi akhlak. Sehingga, kemampuan mereka tetap terkontrol oleh karakter yang ditumbuhkan saat di Sabilil Khoir. (Nis)








