
Memiliki area dan lingkungan yang luas tak selalu menjadi keunggulan bagi sekolah. Pasalnya, kelebihan tersebut merupakan tantangan yang harus dikelola secara menyeluruh.
Seperti SDN Sidokepung 2 yang luasnya mencapai 2855 Meter Persegi. Luas tersebut ditambah lagi dengan area bantaran sekaligus sungai yang berada di depan sekolah hingga jalan raya.
Sekilas dari luar, sekolah itu memang menarik untuk dipandang. Karena pihak sekolah memperindah halaman dengan pepohonan dan cat bangunan yang tampak kinclong.
Tetapi di balik keindahan SDN Sidokepung 2 itu ternyata masih menyimpan masalah klasik yang tak kunjung usai hingga saat ini. Yakni, sungai depan sekolah yang kondisinya tak menentu.
Kepala SDN Sidokepung 2 Nur Rohmah mengatakan, keberadaan sungai di depan sekolah sebenarnya menjadi nilai plus jika bisa dirawat. Tetapi, kalau tidak bisa malah sebaliknya.
“Sebenarnya bagus, ada pemandangan anak-anak lewat sungai,” kata Nur.
Tetapi, karena tidak terawat dan sering kotor, alhasil merusak tampilan sekolah. Apalagi jika sampah sudah menumpuk karena mampet, pasti akan merusak pemandangan sekolah.
Kondisi tersebutlah yang sempat merenggut harapan dan kesempatan SDN Sidokepung 2 untuk dinobatkan sebagai sekolah sehat. Sebuah ajang bergengsi setelah Adiwiyata.
“Semua syarat sudah kami penuhi waktu itu. Selain itu, masukan-masukan dari pihak terkait juga kami jalankan, tetapi masih belum dapat,” kata Nur.
Nur menambahkan, usaha untuk memenuhi penilaian sekolah sehat telah diupayakan maksimal. Bahkan, menginformasi dan mengedukasi masyarakat sekitar sekolah juga telah dilakukan.

Setelah di cek list, kata Nur, semua standarisasi penilaian sekolah sehat sudah terpenuhi dan dilaksanakan secara baik pula. Namun, satu yang ada di lingkungan yang tidak bisa ia pastikan kondisinya, yakni sungai di depan sekolah.
Nur mengakui, kondisi sungai sering kotor. Padahal, juri sebelum masuk sekolah melewati sungai dulu.
“Kemungkinan kita gagal karena kondisi sungai pas kotor dan bau,” kata Nur.
Ia menambahkan, kondisi sungai tersebut memang labil. Terkadang terlihat bersih. Tak berselang lama ada saja sampah yang terbawa aliran air.
Usaha sekolah sudah maksimal dan sesuai standar saat penilaian. Seperti pengecatan bangunan dan fasilitas sekolah, memperbanyak tanaman, menciptakan rumah sehat sekitar sekolah, dan kader lingkungan sehat dari anak-anak.
Tak hanya itu, ada pula dokter kecil, polisi cilik, tanaman toga juga ada di sekolah. Kebersihan halaman dan kondisi makanan di kantin juga selalu terpantau.
Saat ditunjuk oleh dinas, terkait keikutsertaan lomba sekolah sehat pihak SDN Sidokepung 2 sudah menjelaskan secara detail. Ada permasalahan lingkungan yang tak kunjung usai. Namun, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan masih tetap memilih sekolah itu.
“Dari awal saya sudah bilang, kondisi sungainya ini bagaimana? Karena kami tidak bisa ngerawat sungai,” kata Nur.
Selain itu, sungai menjadi tanggung jawab dan wewenang pemerintah. Sekolah pun sempat meminta bantuan pemerintah desa untuk menjaga kebersihan sungai.
Pihak desa sempat memberi bantuan untuk menyuruh orang membersihkan sungai. Tetapi masih belum maksimal.

“Saya memaklumi, tidak mungkin membersihkan terus menerus selama 24 jam. Di sisi lain, sampah itu kadang ada kadang tidak,” terang Nur.
Nur memahami, bahwa penilaian sekolah sehat hampir sama dengan sekolah Adiwiyata. Artinya, ia tahu persis perlombaan tersebut, yang mengikutkan penilaian lingkungan sekitar sekolah.
Tak hanya permasalahan kebersihan sungai yang menjadi ganjalan, sungai itu juga butuh pengerukan. Jika musim kemarau pasti tampak dasar sungai yang berlumpur bercampur sampah di dalamnya.
Hal itu pula yang menjadi alasan pihak sekolah sempat menolak saat diikutkan lomba Adiwiyata. Dan parahnya, sudah bertahun-tahun masalah sungai depan sekolah tidak terselesaikan.
Nur curiga, sampah tersebut merupakan sampah kiriman dari barat desa. Pasalnya, masyarakat lingkungan sekolah sudah memiliki kesadaran bahwa jika membuang sampah ke sungai akan terhenti di depan sekolah.
“Tidak mungkin orang sekitar sekolah yang membuang, karena mereka sadar anak-anak merekakan sekolah di sini,” ungkap Nur.
Meski masih memiliki masalah dengan sungai, semangat anak-anak untuk berkegiatan di sekolah tak pernah surut. Di bulan Ramadan tahun ini mereka kerap bagi-bagi takjil di jalan depan sekolah.
Geliat meraih prestasi juga setiap tahun muncul. Non akademik maupun akademik. Seperti lomba catur dan pencak silat.
Komite sekolah pun selalu berperan aktif dalam kegiatan sekolah. Bahkan, ketika mereka diundang saat jam kerja. Keterlibatannya mencapai lebih 75 persen.
Nur mengkelaim, tak sedikit guru-guru SDN Sidokepung 2 juga kreatif dan inovatif. Sehingga, gelaran kesenian dan lomba-lomba sering diselenggarakan.
Pasalnya, guru-guru tahu kalau anak-anak senang untuk ditampilkan. Moment hari besar nasional pun jadi wadah untuk menunjukkan potensi anak-anak.
Nur berharap kepada semua pihak untuk turut serta menjaga sungai. Kepada pihak yang berwenang mengelola sungai diharapkan pro aktif merawat sungai depan sekolah.
Supaya sungai tidak menjadi penghalang dan pengganjal semangat anak-anak dalam belajar dan menuntut ilmu. (Nis)







