Menyamakan Paradigma Pendidikan Usia Dini

Nanik Sumarviati, S.Pd., M.Pd

Nanik Sumarviati, S.Pd., M.Pd bersama civitas PAUD Kabupaten Sidoarjo.

Awal tahun 2026 ini segenap lembaga pendidikan Kabupaten Sidoarjo dikenalkan dengan beberapa pejabat baru di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satunya yakni Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal Nanik Sumarviati, S.Pd,. M.Pd.

Tetapi, sebenarnya ia bukan orang baru di pendidikan Sidoarjo. Pasalnya, sebelum menerima jabatan struktural tersebut ia lama berada di sekolah sebagai pendidik.

Nanik menjelaskan, ia diangkat menjadi abdi negara sejak 1992 silam. Ia mengawali karir sebagai guru sekolah dasar hingga tahun 2010. SDN Lemahputro 1 jadi tempat pertamanya mengabdi sebagai ASN.

“Sudah 34 tahun mengabdi di pendidikan,” jelas wanita yang hobinya bersepeda itu.

Setelah 18 tahun mengajar, ia pun mendapat kesempatan memimpin sekolah tersebut. Menariknya, SDN Lemahputro 1 juga dikenal sebagai sekolah penyelenggara inklusi. Selama kurang lebih 5 tahun ia mengelola sekolah dasar yang dilengkapi layanan khusus tersebut.

Karena kontribusinya di SDN Lemahputro 1 ia pun diangkat menduduki jabatan memimpin lembaga khusus lainnya yakni UPTD ABK. Lembaga tersebut fokus melayani anak-anak berkebutuhan khusus mulai dari asesmen hingga terapi.

Usai melaksanakan berbagai macam tugas, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membutuhkan kehadirannya untuk mengisi jabatan Kepala Seksi Pembinaan Kelembagaan dan Pendidikan Dasar. Posisi tersebut ia tempati selama 3 tahun. Kemudian jabatannya dinaikkan menjadi kepala bidang hingga saat ini.

Nanik mengatakan, mengawali jabatan itu ia mulai dengan program parenting. Artinya, menyamakan persepsi tentang pendidikan anak usia dini tak hanya di sekolah tetapi juga di rumah.

“Paradigma pendidikan harus merata. Tidak hanya di sekolah saja, tetapi orangtua harus tahu dan paham,” terang Nanik.

Nanik Sumarviati bersama keluarga besar

Menurutnya, masih ada ketidakpahaman tentang pendidikan anak usia dini. Pendidikan yang seharusnya penuh dengan bermain jadi pendidikan serius yang menuntut anak-anak bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Realita yang ia temui, masih ada orangtua yang memberikan banyak program kepada anak-anak. Sehingga potensi dan karakter anak tidak muncul. Bahkan, tidak terasah dan cenderung hilang.

Ia pun menjelaskan, terdapat 6 pondasi penting yang menjadi dasar untuk mengasah golden age anak. Mulai dari mengenal nilai agama dan budipekerti; keterampilan sosial; kemampuan bahasa dan interaktif; kematangan kognitif; keterampilan motorik; dan pemaknaan belajar yang positif.

Dari enam pondasi tersebut, terang Nanik, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukan yang utama. “Artinya, yang diutamakan dan ditekankan adalah emosional dan karakter, bukan calistung,” terangnya.

Nanik mengakui, masih ada orangtua dan satuan pendidikan menjadikan calistung sebagai ukuran utama. Bahkan, menganggap calistung sebagai standar anak masuk sekolah dasar. Ada pula intervensi orangtua kepada satuan pendidikan terkait program di sekolah.

“Terkadang satuan pendidikan lebih menuruti orangtua yang tak paham. Anak kelas 1 yang bisa baca tulis merupakan bonus. Kalau dipaksakan ada efeknya,” ungkap Nanik

Menurutnya, anak kelas 1 bisa baca tulis adalah bonus. Namun, kalau dipaksakan akan berdampak negatif. Hal itu terjadi pada anak pertamanya yang berkembang menjadi anak yang superior.

“Contoh sederhana pelajaran matematika. Di PAUD anak tidak boleh dikenalkan simbol atau angka. Tetapi berupa contoh dan wujudnya,” kata Nanik.

Ia menegaskan, perkembangan terbesar otak anak yakni hingga usia 7 tahun. Pasalnya, pada masa tersebut sambungan-sambungan otak terkoneksi secara maksimal.

Artinya, lanjut Nanik, anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan secara kognitif saja melainkan kecerdasan secara emosional. “Aspek kognitif membantu kesuksesan sekitar 20 persen saja, 80 persennya emosional,” jelas Nanik.

Karena itu pendidikan di PAUD dan TK hanya diarahkan ke gerak dan laku. Pasalnya, pondasi pertama hingga ketiga mengarah pada memaksimalkan dan mengasah emosional.

Hobi bersepeda Nanik Sumarviati, S.Pd., M.Pd.

Ia berharap bantuan operasional sekolah digunakan untuk mengoptimalkan kompetensi guru supaya memiliki wawasan dalam mengoptimalkan potensi anak. Terutama dalam memberikan stimulus anak-anak untuk bermain sambil belajar.

Pada awal jabatannya Nanik akan menyiapkan perangkat asesmen untuk menstandarkan pendidikan usia dini. Standar pelayanan minimal harus tercapai. Sementara yang sudah besar atau sudah tercapai didorong untuk berinovasi.

“Selain ada program pengembangan potensi berkelanjutan, ada asesmen materi wajib untuk guru-guru,” ujar Nanik.

Artinya, bagi satuan pendidikan yang telah mencapai standar bisa melanjutkan membuat program pengembangan. Sementara yang belum mencapai standar akan diberikan pelatihan dan pendidikan tambahan.

Nanik pun memberikan perhatian khusus terkait masih terjadinya bullying di pendidikan usia dini. Ia berkeyakinan jika pemahaman tentang hal itu ada pada awal masa sekolah akan berdampak positif ke pendidikan lanjutan. Intinya, empati akan terbentuk lebih awal.

Dampaknya, anak-anak akan peka dan peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Selain itu, ada program coding dan artificial intelligence dasar untuk anak-anak juga tak luput dari perhatian Nanik. Program tersebut selain mengenalkan juga mengarahkan anak-anak memanfaatkan teknologi secara positif. Selain itu, mengubah ke digitalisasi PAUD dan TK.

Nanik juga memaparkan bahwa ia juga menyiapkan program untuk UPT Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNf SKB). Pasalnya, sekolah tersebut terus berkembang menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

“Kalau di sana sudah cukup lengkap. Areanya luas dan bisa dikembangkan. Peralatannya juga bisa ditambahkan,” kata Nanik.

Selain bisa bersekolah, murid di SPNf SKB juga bisa mengasah keterampilan seperti salon kecantikan, menjahit, potong rambut, dan yang terbaru yakni pelatihan barista.

Muridnya pun bervariatif. Mulai anak disabilities, putus sekolah, hingga asisten rumah tangga. Karena itu, satuan pendidikan tersebut dituntut optimal memberikan layanan pendidikan tanpa memandang keterbatasan dan status. (Nis)

Bersama jajaran struktural Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *