
Cabang olahraga beladiri hingga hari ini masih menjadi andalan Sidoarjo dalam ajang kompetisi tingkat regional maupun nasional. Seperti ajang KONI Cup Indonesia Taekwondo Series yang digelar di Banten 26-28 Agustus 2022 lalu.
Dalam ajang tersebut 1 wakil Sidoarjo bernama Rehanita Kusuma berkesempatan mewakili Jawa Timur. Ia merupakan atlet yang berlaga di kategori Poomsae dan berhasil membawa medali emas kelas individual putri.
Rehan tentunya jadi kebanggaan Jawa Timur, terutama Kota Delta Sidoarjo. Pasalnya, ia satu-satunya harapan bagi Sidoarjo. “Saya satu-satunya dari Sidoarjo, dan alhamdulillah berhasil jadi juara pertama,” terang Rehan, sapaannya.
Ia menjelaskan bahwa untuk memenangi kejuaraan tersebut ia harus bisa menyempurnakan 12 jurus. Jurus-jurus tersebut yakni Taeguk 1-8, Koryo, Keumgang, Taebek, Sipjin, dan Pyongwon.
“Selain harus hafal, bentuk gerakan-gerakannya harus sempurna. Semisal kalau pukulan, maka tangan harus lurus ke depan, tidak boleh serong kanan ataupun kiri,” ungkap peserta didik kelas 10 SMAN 2 Sidoarjo itu.
Sehingga, untuk menyempurnakannya butuh waktu bertahun-tahun. Jika dihitung dari lama latihan Rehan yang dimulai sejak kelas 1 sekolah dasar, maka wajar jika bisa menyebet juara nasional.
Bakatnya pun tidak dapat diragukan setelah 1 tahun latihan ia berhasil menjadi juara I. Kemenangan pertamanya itupun didapatkan dari pertandingan di luar Sidoarjo, tepatnya di Surabaya.
Karirnya pun akhirnya berlanjut hingga ada 28 medali yang sudah ia kumpulkan. Medali tersebut ia dapatkan bukan hanya dari kategori Poomsae saja melainkan juga dari kategori Kyorugi.
Karena sebelum ia menggeluti Poomsae Rehan menggeluti Kyorugi selama kurang lebih 6 tahun. Setelah itu ia memutuskan untuk berpindah ke Poomsae karena beberapa alasan.
Di antaranya dorongan dari orangtuanya yang tidak menginginkan Rehan mengalami cidera serius yang berakibat kecacatan. Ia dan orangtuanya sadar bahwa Taekwondo merupakan olahraga ekstrem yang bisa saja seorang atlet mengalami luka permanen.
“Mama sih bilang untuk pindah kelas saja, karena masa depan masih panjang,” kata Rehan.
Selain itu, ada keinginan dan cita-cita untuk masuk akademi kepolisian yang pastinya tidak diperkenankan pendaftar memiliki cacat fisik. Sehingga, pertarungan fisik harus dihindari.
“Rencana mau daftar Akpol, jadi harus jaga-jaga jangan sampe cacat,” ungkap Rehan.
Meski telah memenangi kejuaraan nasional, Rehan mengaku ingin mengejar prestasi yang belum sempat ia raih, yakni juara di Porprov dan seleksi Puslatda.
Poomsae jadi pilihan Rehan karena dalam kategori tersebut tidak banyak persaingan, berbeda dengan Kyorugi yang penuh dengan atlet berbakat dan regenerasinya lebih cepat. Meskipun di Poomsae tidak dituntut harus bertarung tetapi ada tingkat kesulitan yang harus dikuasai.
Atlet yang berkembang pesat bersama Klub Hercules itu mengaku hingga kini masih menjalani latihan intensif. Terhitung sekitar 4 jam dalam sehari, yakni pagi dan sore hari.
Ia pun tidak hanya latihan di satu tempat saja. Ada Klub Hercules, Puslatcab Sidoarjo, dan SPOP Jatim yang terus menempa kemampuannya.
Latihan rutin yang dijalaninya merupakan bagian dari penyempurnaan gerakan. Terutama untuk jatuhan usai melakukan tendangan. Selain itu, ada kuda-kuda yang harus sempurna ketika hendak atau selesai melakukan gerakan.
Bakat olahraga yang dimiliki Rehan sangat tampak, terbukti selain prestasi Taekwondo ia pernah mencatatkan rekor juara pada cabang olahraga atletik. Yakni kategori lari jarak pendek atau sprint.
Tak tanggung-tanggung, prestasi yang pernah ia peroleh dalam atletik hingga mencapai tingkat kabupaten. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Namun, ia tak tergiur dengan prestasi lari. Sehingga Rehan pun harus kembali memilih dan menekuni Taekwondo untuk mengatarkan masa depan.
“Dulu sempat ikut lari dan pernah juara. Tapi, saya lebih tertarik ke Taekwondo. Jadi ya, kembali latihan fokus lagi,” ungkap Rehan.
Saat ini pun Rehan mulai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Pasalnya, dari pemusatan latihan yang dijalani ada honor yang ia terima setiap bulan.
Honor tersebut dari SPOP Jawa Timur dan Puslatcab Taekwondo Sidoarjo. Besarannya pun cukup menggiurkan bagi atlet yang masih usia sekolah, yakni satu juta Rupiah dan 300 ribu Rupiah. “Kalau dari Jatim satu juta, kalau dari kabupaten 300 ribu,” sebutnya.
Bagi Rehan, nominal itu untuk mencukupi keseharian Rehan, selain pertandingan. Ia pun cukup terbantu dengan kontribusi tersebut karena sudah selayaknya atlet nasional mendapatkan biaya untuk kebutuhan tertentu.
Menjadi atlet professional di usia sekolah terinspirasi dari Sang Kakak Octavia Indra Karisyani yang merupakan atlet dayung. Meskipun, orangtuanya bukan merupakan atlet, alias bukan keluarga atlet.
Namun, orangtuanya tak pernah nanggung dalam memberikan dukungan. Bahkan, orangtuanya mengaku tak jarang harus izin meninggalkan pekerjaan karena harus mendampingi Rehan beraktivitas.
Tak hanya itu, untuk pertandingan di luar kota pun peran orangtua Rehan sangat bermanfaat. Wajar, karena seorang atlet butuh dukungan sebagai penyemangat untuk bertanding.








