
April 2024 jadi momen bersejarah bagi Wenny Arie Puji Susanti. Pasalnya, saat itu ia diangkat jadi kepala sekolah setelah kurang lebih 16 tahun mengabdikan diri sebagai guru BK.
Meski saat ini ia telah mengabdi di SMP, Wenny ternyata memiliki riwayat mengajar di berbagai tingkatan, mulai SD hingga SMA. “Saya pernah ngajar di SD. Waktu itu masih kuliah, jadi guru bantu sambil menunggu wisuda,” kata Wenny.
Ia mengaku senang pernah mendampingi anak-anak di berbagai tingkatan. Pasalnya, mendampingi anak-anak adalah passion yang muncul sejak di bangku kuliah. Saat ini passion itu mengantarkannya meraih jabatan sebagai pucuk pimpinan di sekolah.
Ia pun menegaskan bahwa jabatan tersebut tidak pernah ia rencanakan. “Waktu ikut Program Guru Penggerak saya ngikut saja semua prosesnya. Bersedia? Iya,” ungkapnya.
Tidak adanya rencana menjadi kepala sekolah dikarenakan jadi guru BK sudah membuatnya nyaman. Artinya, karir tersebut sudah membuatnya bersyukur karena banyak membantu anak-anak membentuk dan menguatkan karakter.
Keikutsertaannya dalam Program Guru Penggerak karena ingin update keilmuan. Pasalnya, materi yang diberikan dalam program tersebut tak sedikit yang baru dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Sayang kalau dilewatkan. Terutama kebijakan pendidikan yang baru dan berbagai materi untuk pengembangan diri,” ujar wanita kelahiran Lamongan itu.
Pengembangan diri lainnya yakni mengabdi di SMA swasta. Di sekolah itu ia bekerja selama 3 tahun. Selama mendampingi anak-anak di sekolah itu ia juga belajar tentang standar pelayanan optimal dengan menerapkan ISO. Selain itu, sekolah tersebut juga telah berstatus RSBI dan telah menjalin hubungan internasional.
Tak cukup dengan itu, saat mengabdi di SMPN 1 Taman ia juga dipercaya sebagai staf kurikulum. Tak sedikit materi tentang manajemen pendidikan juga ia pelajari. Ia pun membantu mengelola Kelas Cerdas Istimewa (KCI).
Berbagai pengalaman tersebut mematangkan Wenny menduduki posisi sebagai pimpinan sekolah saat ini. Periode awal di SMPN 2 Buduran ia memetakan potensi sekolah dengan mengkombinasikan program lanjutan dan program baru.
Menurutnya, SMPN 2 Buduran telah memiliki program penguatan karakter yang menjadi unggulan sekolah sejak lama, seperti kegiatan keagamaan. Selama di sekolah tersebut program itu akan dilanjutkan.
Tak hanya melanjutkan, Wenny juga mengembangkan program sekolah dengan kegiatan baru yang dinamai Kombespol. Nama itu merupakan singkatan dari Komunitas Belajar SMPN 2 Buduran Profesional for Learning.
Kombespol mengharuskan guru-guru terus meningkatkan kemampuan dan profesionalisme.
“Itu sudah jadi program rutin bagi guru-guru. Saat anak-anak mengaji, guru-guru ikut Kombespol,” kata Wenny.
Wenny menambahkan, Kombespol jadi wadah menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. Pasalnya, dalam forum tersebut para guru terus-menerus digembleng dengan berbagai wawasan untuk pengembangan pembelajaran.
Selain itu, mereka juga didorong untuk terus berinovasi. Tujuannya yakni keberhasilan sekolah melaksanakan kurikulum deep learning dengan menonjolkan karakteristik yang dimiliki sekolah.
“Kalau belajar sendirikan terbatas. Kita hadirkan narasumber, bisa juga saling sharing,” terang Wenny.

Wenny menganggap, peran kepala sekolah jadi kunci perubahan di lembaga pendidikan. Artinya, keinginan untuk mengubah sekolah akan cepat terealisasi jika menduduki jabatan tersebut.
“Kalau jadi gurukan harus menunggu kepala untuk ACC,” terang kepala sekolah yang diangkat jadi ASN pada 2010 lalu.
Selain itu, yang menjadi motivasinya memimpin sekolah adalah kebijakan kepala sekolah bisa berdampak luas. Artinya, jika positif maka semua akan merasakan manfaatnya, begitu pula sebaliknya.
Wenny merasa, background pendidikan dari guru BK linier dengan jabatan kepala sekolah. Pasalnya, BK adalah bagian dari sekolah untuk mengawal keberhasilan anak-anak selama bersekolah. Bahkan, mengarahkan anak-anak menentukan masa depan.
“Awal pendaftaran calon kepala sekolah motivasinya itu. Dan, saya jadi kepala sekolah benar-benar bisa dirasakan secara luas oleh warga sekolah karena pendampingannya bukan kepada anak-anak saja,” kata Wenny.
Periode awal menjabat sebagai kepala sekolah ia menghadirkan tutor dari Amerika bernama Michelle Lee. Ia didatangkan untuk pendampingan pembiasan Bahasa Inggris di sekolah.
Tak hanya itu, Miss Lee sapaannya juga memberikan nilai-nilai dan budaya positif yang ada di Amerika. Ia pun mengaku ingin belajar nilai-nilai dan budaya nasional. Menariknya, Wenny juga selalu hadir dalam pembelajaran bersama Miss Lee.
“Meskipun saya kepala sekolah, ya juga ikut belajar juga. Tetap harus ing ngarso sung tulodo,” kata Wenny.
Peran aktif Wenny diharapkan berimbas kepada anak-anak. Mereka akan termotivasi untuk belajar karena suasana belajar di sekolah mulai dari kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan masih terus belajar.
Wenny berharap, keberadaan Miss Lee selama 2 tahun di SMPN 2 Buduran menciptakan kultur sekolah baru. Artinya, sekolah dengan keunggulan aktif dalam berbahasa Inggris. Mengubah paradigma bahwa bisa berbahasa Inggris itu sesuai yang menyenangkan.
Wenny pun membeberkan, usaha mendatangkan Miss Lee dilakukan selama 2 tahun. Pada tahun pertama pihak dari Miss Lee hanya memberikan pembelajaran secara daring. Pasalnya, untuk mendatangkan langsung butuh persyaratan tertentu.
“Ada syarat-syaratnya, meskipun Miss Lee tidak kita gaji alias gratis,” jelas Wenny.
Selain itu, pihak sekolah harus mencarikan tempat tinggal selama program berlangsung. Uniknya, tempat tinggalnya tidak kontrak atau kos, tetapi dititipkan di rumah warga.
Selama di rumah warga Miss Lee dianggap sebagai anak angkat atau asuh di dalam keluarga. Tujuannya, supaya ia bisa berinteraksi langsung dengan orang Indonesia setiap hari. Dan program pertukaran budaya bisa langsung diterapkan setiap hari.
“Miss Lee selama 2 tahun hidup bersama keluarga barunya, di Indonesia,” kata Wenny.
Miss Lee merupakan bagian dari sebuah lembaga sosial internasional bernama Peace Corps. Lembaga tersebut menyediakan layanan pendidikan dan budaya secara gratis.
Untuk mendapatkan program tersebut cukup dengan melayangkan pengajuan ke website resmi Peace Corps. Setelah itu, lembaga tersebut melakukan verifikasi secara bertahap. (Nis)








