K.H. Muhammad Shidiq Disuguhi Daging Babi

Foto ilustrasi.

Meski rencana pendirian jamiyah NU sudah mendapat restu dari gurunya –Mbah Kholil Bangkalan – melalui tasbih dan tongkat disampaikan santri As’ad Syamsul Arifin, Mbah Hasyim Asyari tidak segera melaksanakan karena sikap kehati-hatiannya.

Rencana tersebut dilaksanakan pada Januari 1926 di Surabaya. Sebelum pelaksanaan, Mbah Hasyim mengutus 2 orang santri, Wahab dan Masjkur, untuk minta restu kepada 2 orang alim. Wahab berumur 30 tahun dan Majskur 23 tahun. Mereka kemudian  dikenal sebagai KH Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam PBNU 1947-1971) dan KH Masykur (Ketua Umum PB NU (1950—1956).

Orang alim yang dimintai restu Mbah Hasyim ialah  KH Yasin Bangkalan dan  KH Muhammad Shiddiq (Mbah Shiddiq) Jember. KH Yasin adalah menantu Mbah Kholil, sedangkan Mbah Shiddiq adalah santri Mbah Kholil dari Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Shiddiq dikenal sebagai  kiai yang melahirkan orang-orang mulia. Di antara puteranya ialah KH Mahfud Shiddiq (Ketua PBNU 1937-1942) dan KH Ahmad Shiddiq (Rais Aam PBNU  1984- 1991). Mbah Shiddiq juga dikenal sebagai Kiai Pedagang yang mengislamkan Jember. Karena, selain berdakwah beliau  berprofesi sebagai pedagang kain, sarung, kopyah, kitab, dan lain-lain.

Pada suatu pagi Mbah Shiddiq akan menjual barang dagangannya ke Arjasa, kota kecamatan di sebelah utara kota Jember. Ketika beliau sampai di stasiun Jember, kereta  sudah berangkat. Keterangan dari kepala stasiun, kereta berikutnya akan berangkat pada pukul 10.00.

Ketika menunggu kedatangan kereta, Mbah Shiddiq bertemu seorang penghulu yang rumahnya di dekat stasiun. Penghulu tersebut menawarkan agar Mbah Shiddiq berkenan menunggu kereta di rumahnya.

Menjelang pukul  10.00, Mbah Shiddiq minta izin untuk Kembali ke stasiun. Sebagai penghormatan kepada Mbah Shiddiq, penghulu memberi salam tempel satu rupiah (saat ini sekitar Rp 100.000,-).

“Karena sampeyan memberi  sedekah  satu rupiah, saya  urung ke Arjasa karena niat saya ke Arjasa mencari untung satu rupiah,” kata Mbah Shiddiq.

Setelah meninggalkan stasiun,  Mbah Shiddiq ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur. Ketika sampai di rumah, Mbah Shiddiq tertidur karena kelelahan. Dalam tidur, beliau bermimpi bertamu ke rumah penghulu yang memberinya sedekah. Beliau disuguhi hidangan daging babi.

Ketika terbangun, Mbah Shiddiq memerintah santrinya untuk membuang barang-barang belanjaan yang telah beliau beli di pasar dengan uang pemberian penghulu.

Mbah Shiddiq adalah ulama alim dan wirai. Beliau selalu dijaga oleh Allah SWT dari rejeki yang diperoleh dengan cara tidak halal. (Nawawi A  Manan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *