
Pada akhir Juni 1946, KH Saifuddin Zuhri di rumah mertuanya – di Purworejo – menemani istrinya yang sedang menunggu kelahiran anak ketiga.
Suatu malam, setelah isya KH Saifuddin Zuhri mendengar suara mesin mobil dan klakson dengan nada kode khusus yang sangat ia kenal, yaitu mobil Chevrolet Cabriolet milik KH Wahid Hasyim. Mobil itu berhenti di sebelah kanan rumahnya. KH Saifuddin Zuhri segera menjemput kedatangan KH Wahid Hasyim.
“Yaaa khair…” seru KH Wahid Hasyim dengan tersenyum lebar. Ia selalu melukiskan kegembiraan dengan kalimat yaaa khair…; kegembiraan bercampur pujian karena harapannya menjadi kenyataan. “Assalamualaikum,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Waalaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh,” jawab KH Saifuddin Zuhri sambil menjabat tangan KH Wahid Hasyim.
“Apa kabar… Apa kabar?”
Rasyad, santri Tebuireng yang menemani KH Wahid Hasyim menurunkan koper dari bagasi mobil. Kemudian, KH Saifuddin Zuhri menyiapkan kamar untuk KH Wahid Hasyim serta menyediakan handuk dan sabun di kamar mandi.
“Biarlah saya tidur di musala ini saja,” kata KH Wahid Hasyim setelah mandi, ketika melihat di dekat kamar mandi ada musala.
“Kami telah menyiapkan kamar mandi untuk Gus. Selain itu, di musala banyak nyamuk,” kata KH Saifuddin Zuhri.
“Tidak apa-apa! Musala berbentuk panggung seperti ini mempunyai sirkulasi udara yang baik. Kalau toh ada nyamuk ya biar saja. Anggap saja kita ‘bersedekah’ sedikit darah kepada nyamuk-nyamuk,” kata KH Wahid Hasyim.
KH Saifuddin Zuhri meminta KH Wahid Hasyim bersedia menempati kamar tamu yang telah disiapkan. Yang tidur di musala Rasyad saja, ditemani KH Saifuddin Zuhri.
Ketika KH Wahid Hasyim sedang makan bersama KH Saifuddin Zuhri dan Rasyad, datanglah H. Ichwan dan H. Azhari, paman istri KH Saifuddin Zuhri. Kemudian Solichun, kakak istri KH Saifuddin Zuhri.
“Monggo… Monggo!” Kata KH Wahid Hasyim mengajak mereka makan.
“Terima kasih, baru saja makan dan kenyang,” jawab H. Azhari.
“Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi dalam kabinet, ” kata Azhari setelah menanyakan kabar keselamatan.
“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” kata KH Wahid Hasyim. Jawaban jenaka itu mengundang tawa serentak.
“Tapi kami tetap menyesal karena pemimpin kita tidak dipakai oleh pemerintah,” kata Ichwan dengan nada sendu.
“Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah saya pakai sendiri…” kata KH Wahid Hasyim, kembali mengundang tawa.
“Kenapa ya, dijadikan menteri kok cuma sebentar?” H. Azhari masih penasaran.
“Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin kan mengingatkan kita: Wa mal hayaatud dunya illa mata’ul ghurur (dan kehidupan duniawi itu hanya kesenangan tipuan)…, memangnya orang jadi menteri untuk selamanya?” kata KH Wahid Hasyim berusaha meneteramkan hati.
“Tentu ada golongan yang dengki melihat ada pemimpi NU menjadi menteri, membuat NU menjadi besar,” kata Solichun.
“NU menjadi besar bukan lantaran ada tokohnya jadi menteri. Dan Insya Allah NU tidak akan menjadi kecil hanya karena tidak ada tokohnya yang menjadi menteri. Selagi masih dipimpin oleh para ulama, NU akan tetap menjadi besar, insyaallah,” kata KH Saifuddin Zuhri.
“Wa maa tadri maadzaa taksibu ghodan…, orang bisa beramal banyak dan bermanfaat di mana saja, sekalipun tidak menjadi menteri. Kebanyakan orang menganggap jabatan menteri itu kehormatan dan kemuliaan. Padahal, itu tak lebih dari sekadar amanat yang harus dipertanggungjawabkan,” kata KH Wahid Hasyim mengakhiri santapannya. (Nawawi A. Manan, dari buku: An Autorized Memoirs KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren)



