
Meskipun tidak memiliki lahan yang luas untuk memberikan dukungan olahraga bagi peserta didiknya, SMPN 3 Waru ternyata memiliki sederetan atlet berbakat yang prestasinya hingga tingkat nasional.
Kepala SMPN 3 Waru Mas Husein, S.Pd., M.Pd mengaku bahwa sekolah yang dipimpinnya memiliki keterbatasan luas tanah. “Luasnya cuma 2041 Meter Persegi,” ngakunya.
Artinya, lanjut Husein, dengan luas sebesar itu tidak ada lapangan yang luas untuk kegiatan seperti Sepak Bola atau olahraga lapangan lainnya. Pasalnya, luas tanah tersebut harus dibagi dengan bangunan kelas, perkantoran, dan fasilitas sekolah lainnya.
Meskipun dengan area terbatas dan tidak bisa leluasa untuk dijadikan tempat olahraga, prestasi peserta didik di bidang olahraga di sekolah itu cukup moncer. Salah satunya yakni dari cabang olahraga beladiri Tarung Derajat dan Sepatu Roda.
Dalam olahraga Tarung Derajat ada nama Queen Molas Nugrahani yang ternyata telah menyimpan sederetan medali di antaranya juara I Kejurprov tahun 2021 di Surabaya kategori tarung bebas dan Juara III Kejurprov 2022 kategori seni.
Queen, sapaannya mengaku, memang di sekolah masih belum terdapat ekstrakurikuler Tarung Derajat tetapi ia mengembangkan bakat dan minatnya di klub dan di luar sekolah.
Meski di sekolah masih belum menyediakan fasilitas untuk menunjang bakatnya, ia mengaku tidak pernah surut semangatnya dalam menjalani latihan.
“Selama ini latihannya di klub. Karena di sekolah masih belum ada,” tutur Queen.
Ia berharap, dengan prestasi yang ditunjukkan ke sekolah dan disaksikan banyak temannya ada ketertarikan anak-anak untuk ikut latihan Tarung Derajat. Jika mereka tertarik dan bersedia ikut besar peluang akan membuka ekstrakurikuler Tarung Derajat di SMPN 3 Sidoarjo.
Atlet yang sempat menggeluti olahraga Wushu itu sangat berharap ada ekstrakurikuler Tarung Derajat di sekolahnya supaya dapat menunjang minat dan bakatnya. Selain itu, latihan di sekolah akan meringankan beban latihan karena selama ini ia berlatih di Surabaya.
Latihan di sekolah menjadi alternatif untuk mengasah kemampuan dan bisa mengenalkan olahraga asli Indonesia itu kepada anak-anak. “Kan, kalau MOS itu ada promosi ekstrakurikuler, jadi kita bisa demo di depan anak-anak,” ujarnya.
Prestasi terbaru Queen yakni juara III kategori seni gerak ranger putri tahun 2022 ini. Tahun sebelumnya, di kategori berbeda ia mendapatkan juara I kategori tarung dalam ajang Kejurprov tahun 2021.
Saat itu, lanjut Queen, harus melawan salah satu atlet terbaik Popnas Jatim. Dan hasilnya, ia unggul telak dengan kemenangan KO.
Ia mengaku, kemenangan yang ia dapatkan jadi modal optimisme untuk memenangkan pertandingan selanjutnya. Tetapi, pada tahun 2022 ia harus pindah kelas atau kategori, tepatnya di seni.
Gadis yang pernah mengalami cidera tangan saat kelas 3 sekolah dasar itu harus menyemangati dirinya untuk kembali bangkit berlatih dan bertanding kembali. Saat itu cidera yang ia alami ketika menggeluti beladiri Wushu.
Bagi Queen, Wushu jadi olahraga beladiri pertamanya yang ia kenal dan tekuni. Selama kurang lebih 4 tahun ia berlatih Wushu, hingga akhirnya memutuskan untuk fokus ke Tarung Derajat.
Meski pernah cidera cukup parah, Queen mengaku tidak mempermasalahkan. Orangtuanya pun demikian. Pasalnya, ia dan keluarganya memahami resiko dalam olahraga tersebut.
Meskipun pindah dari Wushu ke Tarung Derajat, kedua olahraga itu merupakan olahraga ekstrem dan beresiko tinggi.
Tak heran jika para atletnya harus mengenakan perlindungan total ketika bertanding. Selain itu, fokus terhadap serangan lawan pun jadi kunci mengurangi resiko.
“Body protector-nya mulai kepala hingga kaki,” kata Queen.
Anak pertama dari 3 bersaudara itu mengatakan, meskipun beresiko ia mendapatkan dukungan maksimal dari keluarganya. Sehingga, apapun yang terjadi merupakan bagian dari konsekuensi menggeluti olahraga beladiri.
Queen pun menjelaskan, Tarung Derajat merupakan olahraga yang terinspirasi dari pertarungan jalanan yang kemudian dibawa ke arena kejuaraan dan secara resmi menjadi cabang olahraga. Federasi kepengurusannya juga telah ada di berbagai kota.
Dalam kategori seni, Tarung Derajat yang dipergakan secara berkelompok membutuhkan sebuah kekompakan. Dalam setiap gerakannya pun dinilai kekuatan, kekompakan, ketepatan, dan kecepatan yang sama antara atlet 1 dengan lainnya.
Namun, untuk kategori tarung membutuhkan keuletan. Artinya, kemampuan fisik sangat menentukan ketika berhadapan dengan lawan.
Saat ini Queen bercita-cita ingin mengulang kesuksesan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Tahun 2022 ini ia tidak dapat mengikuti even bergengsi itu karena usianya yang masih kurang 1 tahun. “Belum cukup umur tahun ini ikut Porprov,” ungkapnya.
Federasi tidak mengizinkan dengan pertimbangan kekuatan tulang yang masih rentan pada usia anak-anak yang menginjak dewasa. Namun, untuk pertandingan lain faktor usia tidak menjadi pertimbangan.
Pasalnya, Queen mengaku sempat bertanding melawan anak SMA. Padahal, saat itu ia masih kelas 5 sekolah dasar. Pertimbangannya yakni tinggi dan berat badan yang sama.
Selain Tarung Derajat, ada prestasi atlet SMPN 3 Waru yang tak kalah moncer, yakni Shelove Deena Rohman seorang atlet Sepatu Roda yang saat ini juga jadi figur anak berprestasi di sekolah. Sederetan prestasi juga ia raih mulai tingkat kabupaten hingga kejuaraan terbuka berlevel nasional.
Deena mengaku bahwa ada sekitar 23 piala dan medali yang telah ia kumpulkan. “Ada kurang lebih 23 tropi dan medali di rumah, ” katanya.
Perjalanan karir Sepatu Roda Deena berawal dari melihat para atlet latihan di GOR Sidoarjo. Kemudian ia sempat mencoba berseluncur dengan sepatu pinjaman.
Deena juga mengaku, sempat mengikuti perlombaan dengan modal Sepatu Roda pinjaman. Pasalnya, saat itu ia belum resmi gabung dalam sebuah klub. Dan pertandingannya pun dilaksanakan di luar kota yakni Surabaya.
“Waktu itu ada lomba di Surabaya, pengen ikut tapi belum punya sepatu. Ya sudah cari pinjaman,” ngaku Deena.
Bahkan, pada perlombaan tersebut atletnya bercampur antara laki-laki dan perempuan karena masih pemula. Dan kejutan pun terjadi saat Deena berhasil finish di urutan pertama.
Kemenangan tersebut mencatatkan rekor yang jarang diperoleh oleh atlet-atlet kebanyakan. Selain itu, Deena disebut sebagai atlet dengan bakat alami yang bisa diharapkan meraih prestasi untuk Sidoarjo.
Di usianya yang sangat belia, ia sempat masuk dalam Training Center (TC) untuk kejuaraan Piala Ibu Negara (PIN). Sebuah kejuaraan bergengsi tingkat nasional yang selalu dinanti para atlet.
Namun, ketika melakoni (TC) ia mengalami cidera serius pada lutut kaki kanan dan kiri. Waktu TC pun dirasa tidak tepat karena dilaksanakan pada bulan puasa. Sehingga, sangat berat untuk dijalani.
“Cidera karena kemungkinan over training. Sehabis subuh saja harus menjalani 5 Kilometer. Setelah duhur dan sehabis tarawih latihan lagi sampe jam 10 malam,” jelas Deena.
Jelang akhir tahun 2022 Deena juga disibukkan dengan TC lagi. Pasalnya ia akan mengikuti seleksi atlet PON. Untuk ikut seleksi tersebut para pesepatu roda harus lolos dan terdaftar sebagai atlet Puslatda atau atlet yang pernah berjaya di PIN.
Selain itu, ada prestasi lain yang dimiliki Deena di ajang bergengsi seperti juara III Porprov Jawa Timur 2022 dan juara III kejuaraan nasional ITS OPEN di Surabaya.







