
Bermodal bakat yang diturunkan dari sang ayah sorang atlet beladiri muda Sidoarjo bernama Rafi Akbar Kurniawan bisa meraih banyak juara di kejuaraan bergengsi mulai tingkat kabupaten hingga provinsi.
Rafi merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara. Ayahnya, Mochammad Suheri merupakan pelatih Karate. Namun, Rafi saat ini fokus menekuni cabang olahraga Wushu, bukan Karate.
Tetapi Rafi mengaku, awal mula ia mengenal beladiri adalah menjadi seorang Karateka. Saat itu ia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak setingkat TK A.
Berlatih Karate merupakan pilihan dirinya sendiri. Tidak ada paksaan dari orangtua atau keluarga. Ia hanya melihat sang kakak Dani Akbar Hermawan berlatih kemudian membawa pulang medali ke rumah.
“Awalnya kelas TK A mulai latihan. Karena tertarik lihat kakak latihan, terus juara,” terang Rafi.
Ketertarikan itu berlajut hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut latihan bersama kakak dan teman ayahnya. Dukungan ikut latihan mendapat perhatian dari ayah yang juga melatih di beberapa dojo Karate di Sidoarjo.
Karena dukungan itulah Rafi tekun dan terus latihan hingga saat ini. Ia pun tidak ingin mengecewakan ayah dan keluarganya, sehingga ia termotivasi untuk selalu berprestasi.
Kembali ia menegaskan, bahwa kakaknya selalu jadi bagian penting dalam memotivasi. Hingga hari ini pun sang kakak selalu mengingatkan untuk giat berlatih dan bisa mengalahkan lawannya di arena.
“Dulu beradu sama kakak. Banyak-banyakan medali,” ujar Rafi.
Hal itupun keterusan hingga sekarang. Seolah tak ada alasan bagi Rafi saat bertanding tidak membawa pulang tropi, apapun pun tingkat juaranya. Bahkan, saat ini jumlah perolehan medali sudah melebihi kakaknya.
Puncak karir Rafi hingga di usianya yang ke-16 tahun di antaranya berhasil mendapatkan medali emas di Porprov 2022 dan Kejurprov 2022 Jawa Timur. Menariknya, Rafi bertanding di cabang olahraga yang berbeda.
Di Porprov ia dipertandingkan di cabor Sambo, sementara di Kejurprov ia harus tanding di cabor Wushu. Keduanya berhasil membawa medali emas untuk Sidoarjo.
Rafi menjelaskan, ia bisa menekuni 2 macam beladiri dikarenakan tempat latihan yang sama, yakni di klub Sambo dan Wushu Yanitra Sukodono.
Bagi Rafi, kedua cabang olahraga tersebut saling melengkapi. Pasalnya, ada kekurangan dan kelebihan di masing-masing cabor tersebut. Sambo melatih Rafi belajar bantingan dan kuncian, sedangkan Wushu melatihnya mendapatkan kecepatan tendangan dan pukulan.
Namun, Rafi mengaku ingin lebih mendalami dan menguasai Wushu. “Saya sih lebih suka Wushu,” ngakunya.
Sebelum menekuni Wushu, ia mengaku sempat ikut latihan Karate, sama seperti ayah dan kakaknya. Karate jadi cabor pertama yang diikuti Rafi, tetapi memutuskan berpindah ketika kelas 5 sekolah dasar.
Pada cabor Karate pun ia sempat menorehkan prestasi dengan meraih prestasi di kejuaraan tingkat kabupaten.
Berselang beberapa tahun setelah pindah ke Wushu, ia sudah bisa membuktikan dirinya dengan prestasi pertama di kejuaraan tingkat kabupaten. Namun, tidak meraih juara pertama dan harus puas dengan juara ketiga.
“Saya waktu itu ikut kelas 70 Kilogram, tapi sebenarnya bobot saya kurang lebih 42 Kilogram,” terang atlet kelahiran Surabaya itu.
Keputusannya untuk berpindah cabang olahraga dikarenakan ia puas dengan penilaian yang ada di Wushu. “Kalau di Wushu jelas, banting berapa nilainya, dan lain-lain,” katanya.
Berpindah ke Wushu dan Sambo bukan berarti meninggalkan Karate sepenuhnya. Pasalnya, cabor Karate juga masih memberi kesempatan untuk latihan, bertanding, dan berprestasi.
Usia menjuarai Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Rafi juga berniat masuk pemusatan latihan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Nasional. Pasalnya, di tempat tersebut memberikan kesempatan mengikuti kejuaraan Wushu tingkat nasional hingga international.
“Kalau sudah masuk di sana, enak. Pastinya, banyak pengalaman. Tapi syaratnya tidak boleh pindah-pindah cabang olahraga,” kata Rafi.
Maski berbakat dalam cabang olahraga beladiri, Rafi mengaku masih harus bisa memilih dan memilah pertandingan dan kejuaraan. Sehingga, ia hanya memilih mengikuti kejuaraan resmi dan berjenjang dibanding dengan mengikuti kejuaraan terbuka.
“Kalau pertandingan open ada, tapi saya tak pernah ikut, karena kata ayah tidak ada jenjangnya,” ungkap peserta didik SMK Antartika 2 itu.
Namun, Rafi tidak menampik bahwa kejuaraan terbuka juga sangat penting. Ia mengakui bahwa kejuaraan terbuka membuka kesempatan bagi atlet untuk menambah pengalaman. Selain itu, hadiah yang diperoleh juga lumayan menggiurkan.
Rafi mengatakan, masa depannya kelak ingin kuliah jurusan pendidikan olahraga di Unesa. “Saya hanya ingin masuk kuliah olahraga saja,” kata Rafi.
Latihan yang ia lakoni setiap hari menjadikan ia tangguh dalam bertanding. Selama pertandingan Wushu ia belum pernah sekalipun merasakan terkena bantingan. “Alhamdulillah, belum sempat kena banting. Kalau banting lawan sering,” jelasnya.
Peserta didik kelas 10 SMK Antartika 2 itu mengaku selain latihan rutin ada pula latihan fisik yang diprogramkan pelatih. Latihan tersebut waktunya juga menyesuaikan moment, seperti sebelum menjalani pertandingan atau event tertentu. (Nis)








