
Ada cerita menarik dari ngopi malam Sabtu bersama pembina Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Sidoarjo Nawawi A. Manan. Ia bercerita tentang seorang kader NU di Sidoarjo berinisial MN, seorang aktivis yang dikenal tekun, tak banyak bicara, dan selalu serius.
Suatu ketika MN jatuh cinta kepada NG, pengurus salah satu ormas kepemudaan. Wasilah yang diciptakan MN untuk mendekati NG sangat brilian, mengajak NG dan kawan-kawan kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten menyusun kurikulum muatan lokal tentang lingkungan hidup.
Kabarnya, MN menggandeng beberapa LSM. Proses pun telah dilalui, seperti menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh LSM. Para tokoh LSM bukan orang sembarangan. Mereka memiliki wawasan luas, kaya akan referensi dan data. Mereka juga disegani oleh para pejabat dan pembuat kebijakan daerah.
“Lak wis top ta? Wong sing diajak arek-arek LSM (Top banget karena yang diajak para tokoh LSM),” tegas Nawawi sambil tertawa.
Singkat cerita, ketika program tersebut masih digodok salah satu kader NU memberikan informasi kepada pembina Lesbumi itu. Ia bercerita bahwa inisiatif MN membuat kurikulum Lingkungan bukan murni idealisme seorang aktifis.
“Maksudnya?” tanya Nawawi.
Ia menjelaskan, MN sebenarnya sedang menyusun strategi untuk mendapat perhatian NG.
Kurikulum Lingkungan merupakan sarana untuk MN bisa bertemu dengan NG secara intensif.
Para tokoh LSM dan ormas dilibatkan untuk memperkuat alibi supaya rapi dan tidak tampak bahwa ada strategi percintaan di balik pembuatan kurikulum.
“Nek bener kaya ngono aja diterusno,” kata Nawawi tegas.
Para pengurus ormas pun tidak lagi menghiraukan MN. Karena itu, MN menganggap bahwa Nawawi merusak rencananya.
Selang beberapa hari setelah rencana itu gagal, MN dipanggil oleh Nawawi. Tanpa basa-basi, Nawawi bertanya kepada MN, “Di antara mereka, siapa yang memiliki pemahaman pada paham kurikulum?”
“Nggih mboten enten,” jawab MN.
Setelah itu Nawawi berkata kepada MN, dirinya tahu bahwa ada maksud lain di balik rencana penyusunan Kurilulum Lingkungan.
“Nek pengen nyekel manuk gak ora perlu babati alase (kalau ingin menangkap burung tidak perlu menebang hutan,” cetus Nawawi kepada MN.
MN diam dan tersipu malu.
Sebenarnya, dalam hati dan pikiran Nawawi bercampur aduk antara marah dan tertawa. Pasalnya, ia tak menyangka demi mendapatkan seorang gadis MN membuat strategi yang sistematis, massif, dan terstruktur rapi.
Tokoh-tokoh penting LSM dan ormas itu dibuat tidak menaruh kecurigaan sedikit pun bahwa ada maksud lain. Mereka terbuai oleh gombalan MN yang saat itu masih junior. (Nis)



