Geguritan dalam Media Berbahasa Indonesia

Nawawi A. Manan

“Kolom geguritan dalam tabloid PENA tidak lazim,” protes seorang   wartawan melalui pesan singkat.

“Benar, tapi kami berharap Anda memaklumi,” balas penulis.

Sebagai redaktur, penulis menyadari bahwa pemuatan tulisan berbahasa Jawa dalam media massa berbahasa Indonesia tidak lazim. Mungkin PENA adalah satu-satunya media massa berbahasa Indonesia yang menerbitkan tulisan berbahasa Jawa. Dalil pembenarnya, geguritan yang diterbitkan PENA karya peserta didik dan PENA adalah media pendidikan.

Kebijakan tidak tepat itu penulis lakukan untuk menjawab kegelisahan para guru SD pengampu pelajaran Bahasa Jawa di Kabupaten Sidoarjo setelah terjadi pergantian kurikulum. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 pelajaran Bahasa Jawa muatan lokal wajib Jawa Timur, materi tentang menulis hanya sebatas menulis kalimat, menulis aksara Jawa, menulis surat, dan menulis karangan berdasarkan gambar. Dalam Kurikulum 2013, materi munulis adalah membuat karya tulis, seperti:  laporan hasil observasi (kelas 3), geguritan (kelas 3 dan 4), naskah percakapan (kelas 4), ringkasan cerita dan berita (kelas 5), dan teks informasi (kelas 6).

Meskipun tidak berkomentar, banyak pengajar Bahasa Jawa di Jawa Timur   kurang sreg terhadap pelajaran Bahasa Jawa Kurikulum 2013. Mereka menilai materi dalam KTSP 2006 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya lebih tepat karena memahamkan peserta didik terhadap budaya Jawa, terutama  menulis aksara Jawa dan penggunaan unggah-ungguh basa dalam kehidupan sehari-hari yang kian terabaikan.

Mereka menilai pembelajaran disertai penugasan menulis lebih tepat disampaikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia mulai tingkat SD hingga SMA, seperti selama ini. Terutama di sekolah swasta, banyak pengampu pelajaran Bahasa Jawa pendidikannya tidak linier. Sehingga, ketika mengajarkan meteri tentang karya tulis mereka kesulitan karena mereka sendiri (maaf) belum tentu pernah melaksanakan.

 Bagi para guru berpendidikan linier dan menguasai materi merasakan beban karena dituntut harus bisa memublikasikan karya tulis peserta didik, terurama   geguritan. Karya tulis lain, seperti hasil observasi, naskah percakapan, dan ringkasan cerita bisa dipublikasikan melalui website sekolah atau web blog pribadi. Untuk geguritan, kurang afdol jika tidak dipublikasikan melalui media massa umum.

Kendalanya, media massa yang memberikan ruang untuk karya tulis anak-anak – apalagi berbahasa Jawa — tidak ada. Panjebar Semangat dan Jaya Baya, majalah berbahasa Jawa diterbitkan di Surabaya hanya memberikan ruang geguritan untuk para penulis dewasa. Begitu pula Titis Basa, majalah popular berbahasa Jawa krama diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Setelah berdiskusi dengan Drs. Moch. Syamsul Hidayat, M.Pd., Pengawas SD Kabupaten Sidoarjo yang menjadi anggota Tim Pengembang Kurikulum Provinsi  Jawa Timur,  mulai   pertengahan  2015 penulis  menyediakan kolom untuk geguritan (puisi) dan cerkak (cerpen). Sejak saat itu, setiap bulan tabloid PENA menampilkan 1 halaman geguritan karya peserta didik dan kadang-kadang plus 1 halaman karya guru. Karya-karya tersebut tidak melalui seleksi ketat karena tujuan pemuatannya untuk memotivasi.

Setengah tahun kemudian, peserta didik SMP dan SMA/SMK juga termotivasi menulis geguritan atau puisi, sehingga pemuatannya harus kami lakukan bergiliran.

Sejak sebelum menerbitkan geguritan, PENA sudah sering menampilkan artikel tentang kebudayaan lokal, terutama unsur kesenian. Penerbitan geguritan secara ajek memancing partisipasi pembaca untuk berkontribusi dengan menulis budaya Jawa, seperti tembang, karawitan, dan filosofi wayang.

Partisipasi tersebut memotivasi kami (tim redaksi PENA) untuk semakin sering menulis laporan tentang revitalisasi budaya masa lalu sebagai bagian dari pendidikan karakter. Di antara yang telah kami lakukan ialah menulis  laporan tentang pentingnya  budaya mendongeng sebagai sarana edukasi, terutama di rumah, seperti dilakukan   orangtua pada masa lalu. Laporan tersebut memotivasi guru TK dan PAUD di Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan lomba mendongeng dan pelatihan teknik  mendongeng.

Yang pengaruhnya cukup signifikan ialah laporan tentang reaktualisasi     permainan tradisional yang pada masa lalu dilaksanakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, seperti balap karung, balap egrang, dan panjat pinang. Setelah membaca laporan itu, banyak sekolah melaksanakan lomba permainan masa lalu yang sederhana dan berbiaya murah, tetapi seru, menghibur, dan sangat edukatif. Semakin berkurangnya penutur bahasa Jawa Krama, terutama generasi Jawa milenial, juga menjadi salah satu perhatian kami. Setelah kami menulis laporan tentang gerakan sehari (dalam seminggu) berbahasa Jawa di salah satu SD, seorang Kepala SD merencanakan semua warga sekolahnya sehari dalam sebulan harus menggunakan bahasa Jawa Krama. Selain itu, pada hari itu mereka menggunakan pakaian tradisional Jawa.

Penampakan kolom Geguritan dalam Tabloid PENA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *