
Sekolah yang terletak di wilayah barat Sidoarjo memang memiliki karakter berbeda dengan sekolah yang berada di wilayah lain.
Pasalnya, Sidoarjo barat terkenal dengan cirikhas masyarakat yang heterogen. Ada yang cenderung agamis, ada yang cenderung nasionalis.
Menariknya lagi Sidoarjo barat terkenal karena menjadi salah satu persinggahan Raja Majapahit di masa silam. Tepatnya, di wilayah yang disebut dengan Alas Tarik.
Karena itu, tak jarang ditemukan peninggalan sejarah masa lalu berupa petilasan, candi, situs, dan lain-lain.
Kearifan tersebut dimanfaatkan sekolah-sekolah di Sidoarjo barat untuk menunjukkan karakter dan kelebihannya. Seperti SDN Kedungbocok yang sering tampak dengan cirikhas masyarakat yang cinta dan senang dengan budaya Jawa.
Kepala SDN Kedungbocok Endi Pertama Putra, S.Pd mengaku, ketika peserta didiknya mengikuti perlombaan tema yang dipilih selalu tentang Sidoarjo barat. Seperti tentang Sidoarjo tempo dulu.
“Kalau ada lomba-lomba seperti puisi, poster, dan lain-lain biasanya pakai tema yang berhubungan dengan budaya,” kata Endi.
Dan, hal tersebut berdampak positif bagi sekolah. Karena tampak menarik dan berbeda dengan sekolah kebanyakan.
Namun, untuk karakter SDN Kedungbocok seperti halnya desanya. Memiliki kultur agamis.
“Sekolah kulturnya agamis. Memang ada 2 cirikhas di Sidoarjo barat ini, agamis dan nasionalis,” ungkap Endi.
Karakter itu pula yang menjadikan sekolah menyesuaikan dalam memberikan pelayanan pendidikan. Sehingga, peserta didik bisa merasakan sentuhan keagamaan di sekolah.
Wujud dari pembelajaran tersebut berupa adanya ekstrakurikuler Banjari dan Qiraah. Peminatnya pun cukup banyak, karena setiap kelas terdapat anak yang masuk ekstrakurikuler tersebut.
“Peminat cukup banyak kalau Banjari. Mungkin karena masyarakat sini yang cenderung agamis,” kata Endi.
Sebagian besar masyarakat Kedungbocok juga menempatkan anak-anak mereka ke pesantren. Pesantren menjadi alternatif utama meneruskan pendidikan anak-anak setelah sekolah dasar maupun sekolah menengah.
Meski dikelilingi masyarakat agamis dan berada di pinggiran kota sekolah itu ternyata memiliki keunggulan ekstrakurikuler drumband. Salah satu yang bikin SDN Kedungbocok terkenal yakni ekstrakurikuler tersebut.
Ekstrakurikuler drumband juga yang mendorong anak-anak desa lain bersekolah di Kedungbocok.

Pihak sekolah juga memanfaatkan drumband untuk beberapa kegiatan, seperti pawai. Kegiatan rutin seperti pawai Hari Kemerdekaan RI dan karnaval desa.
Pawai merupakan media mempromosikan sekolah ke masyarakat. Sekaligus pembuktian, meskipun sekolah desa yang jauh dari perkotaan ada kegiatan modern yang digalakkan.
Hal itupun menunjukkan bahwa semangat berinovasi tetap diutamakan di sekolah. Bahkan menjadi keniscayaan, karena sebagian besar guru-guru di Kedungbocok dipenuhi guru-guru muda. Kepala sekolahnya pun guru penggerak angkatan 7.
“Mumpung banyak yang masih muda, mereka saya ajak memikirkan inovasi sekolah,” kata Endi.
Keberadaan kepala sekolah yang baru dilantik tahun inipun berencana akan melakukan perbaikan di lingkungan sekolah. Pasalnya, luas SDN Kedungbocok perlu dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat.
“Di depan harus diperindang karena sudah ada tempat untuk tanaman merambat,” kata Endi.
Di sisi sebelah timur juga bisa ditambahi pohon-pohon seperti cemara untuk memperindah halaman sekolah. Selain itu, perlu dibuatkan tanaman toga untuk pembelajaran anak-anak di sekolah.
“Kalau ada tanaman toga, manfaatnya bisa double. Tanamannya bisa diambil dan bisa buat belajar anak-anak secara langsung,” terang kepala yang berdomisili di Jombang itu.
Kedatangan kepala sekolah baru itupun mendapatkan pekerjaan cukup berat yang harus segera diselesaikan. Yakni, perbaikan gedung perpustakaan yang selama beberapa tahun tidak bisa digunakan.
Permasalahan tersebut dikarenakan bagian atap gedung telah rapuk. Artinya, ada kemungkinan besar untuk ambruk.
“Sudah mengajukan bantuan tapi sepertinya tahun depan. Karena perlu penambahan jumlah anggaran,” terang Endi.
Letak SDN Kedungbocok sangat strategis. Karena berdekatan dengan SMPN 1 Tarik. Adapun sebuah sekolah taman kanak-kanak berada tepat di sampingnya.
Pihak sekolah saat ini juga sedang memetakan potensi lainnya yang terdapat di sekolah. Pasalnya, ada salah satu peserta didik kelas I menjuarai lomba silat.
“Anak ini masih kelas satu. Siapa tahu ada potensi lainnya,” kata Endi.
Pihak sekolah juga mendorong berbagai kepengurusan organisasi profesi seperti MKKS dan KKG di kecamatan untuk menyelenggarakan berbagai macam lomba. Karena kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk menyalurkan potensi anak.
“Kalau ikut lomba terkadang tidak melalui seleksi di kecamatan karena memang tidak ada lombanya. Jadi, langsung ditunjuk gitu saja,” pungkas Endi. (Nis)








