
Mengabdikan diri sebagai pendidik sejak 1992 merupakan perjalanan panjang bagi Asiyah, S.Pd., M.M. Ia mengawali karir sebagai guru di SDN Sidoklumpuk di Kota Sidoarjo.
“Sudah lumayan lama, sekitar tahun 1992 saya sudah mengajar di Sidoklumpuk,” kata Asiyah.
Hingga akhirnya karir itu terhenti karena ia lulus ujian sebagai kepala sekolah pada tahun 2014.
Selama menjadi kepala sekolah Asiyah dikenal sebagai sosok yang hati-hati dalam menggunakan anggaran sekolah. Pantang baginya menggunakan anggaran sekolah untuk aktivitas yang tidak sesuai dengan rancangan penganggaran.
“Wis, pokoknya saya berpesan kepada bendahara jangan main-main memakai uang negara,” tegas Asiyah.
Ia menganggap uang negara untuk program sekolah tidak dapat diganggu peruntukannya. Sehingga, proses pembahasan rancangannya harus jeli dan penuh perhitungan.
Jika dirasa anggaran pemerintah tidak cukup untuk kegiatan pengembangan sekolah, ia memilih untuk menunggu sponsor dalam menopang kegiatan sekolah.
Di SDN Pucang III yang dipimpinnya saat ini ternyata tak sepi dari tawaran program untuk anak-anak. Salah satu yang sering yakni sosialisasi makanan sehat.
Yang memberikan sosialisasi yakni pihak perusahaan. Keberadaan program perusahaan yang masuk ke sekolah menjadi penopang pengembangan pendidikan. Pasalnya, beberapa hal tidak dapat dilakukan oleh sekolah.
Menariknya, hampir setiap bulan ada perusahaan-perusahaan makanan dan susu hadir. Penyuluhan tak hanya diperuntukkan untuk anak-anak, tetapi juga bagi para orangtua.
“Ini ada dari Choki-choki yang ke sekolah dan banyak lainnya,” kata Asiyah.
Sebagai kepala sekolah yang tugasnya mengelola, supervisi, dan mendorong untuk Kewirausahaan menguatkan dirinya untuk terus melakukan upgrade wawasan. Selain itu, menjadi teladan dalam memberikan semangat belajar dan mengajar.
Meskipun jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, yakni di Desa Lebo, ia mengaku tak merasa berat. Pasalnya, bagi Asiyah berat atau ringan sebuah tugas harus dijalankan dan dinikmati.
Apalagi statusnya sebagai abdi negara, maka tidak punya cara lain untuk tidak melakukan. Apalagi tugas tersebut berhubungan dengan menata masa depan anak.
Sebelum menjadi kepala SDN Pucang III, ia sempat bertugas di beberapa sekolah seperti SDN Cemengbangkalan dan Urangagung I. SDN Kedungkendo pun tak luput dari sentuhan Asiyah.
Semakin banyak ia mengelola sebuah sekolah, semakin banyak pengalaman untuk manata pendidikan. Artinya, untuk mematangkan kepemimpinannya tidak cukup bagi Asiyah berada di satu sekolah saja.
Terutama memaksimalkan peran guru. Karena itu Asiyah juga sempat mengajar di salah satu sekolah dasar yang ada di Pucang tahun 2007.
Meski karakter anak-anak di Sidoklumpuk dan Pucang tak memiliki perbedaan yang mencolok, karena dua-duanya berada di kota. Tetapi, tipe kepemimpinan kepala sekolah dan kultur gurunya berbeda.
Saat itu, sekolah di Pucang merupakan sekolah favorit. Tak sedikit peserta didiknya adalah anak orang-orang yang ekonominya menengah ke atas.
Saat diberlakukan sistem zonasi pun, sekolah dasar yang berada di Pucang masih tetap bertahan menjadi sekolah favorit. Pasalnya, letaknya cukup strategis karena berada di pusat kota Sidoarjo.
“Sekolah di kota ya harus bagus. Apalagi dekat dengan titik kumpul orang, Alun-alun,” kata Asiyah.
Hingga saat ini, SDN yang terletak di sebelah utara Alun-alun tersebut masih ramai didatangi para pendaftar setiap tahun. Artinya, mereka tak hanya membutuhkan pendidikan tetapi juga merasakan kemudahan untuk mengaksesnya.
Karena itulah, lanjut Asiyah, selama ia menjabat sebagai Kepala SDN Pucang III ada keinginan untuk terus membenahi sekolah. Mulai fasilitas hingga inovasi pembelajaran.
Sejak ditunjuk menjadi kepala sekolah ia terus mengusahakan SDN Pucang III sebagai sekolah yang sedap dipandang. Selain itu, banyak program inovatif yang diberikan guru-guru untuk anak-anak.
Asiyah pun menceritakan pengalaman selama menjadi guru. Ia menganggap bahwa guru merupakan profesi menyenangkan.
Pasalnya, seorang guru bisa bertemu langsung dengan murid dan orangtua. Mereka memiliki bermacam-macam karakter dan berbagai macam curhatan.
“Senang kalau jadi guru, bisa ketemu anak-anak sama banyak orang langsung. Dan, itu berkesan,” kata Asiyah.
Pertemuan tersebut menurut Asiyah berharga. Karena guru dan orangtua saling mengetahui perkembangan anak. Yang terpenting yakni menentukan treatment untuk anak-anak.
Ia pun membandingkan dengan saat ini saat menjabat sebagai kepala sekolah. Jika kepala sekolah informasinya menunggu dari guru.
Jika guru tidak memberikan informasi, maka kepala sekolah tidak akan tahu. Intinya, jarang informasi langsung yang didapat oleh kepala sekolah.
Selama di SDN Pucang III, ia telah banyak menata dan menambah fasilitas sekolah. Mulai dari mendirikan panggung kreasi hingga pagar pembatas kelas.








