Melayani Pendidikan Anak Karyawan Pabrik

Peserta didik berprestasi, guru, dan kepala SDN Wadungasih 2.

Letaknya yang diapit perusahaan-perusahaan besar di Desa Wadungasih, Kecamatan Buduran menciptakan suasana SDN Wadungasih 2 berbeda dengan sekolah-sekolah lain di Sidoarjo.

Selain areanya terlihat kecil, anak-anak yang bersekolah juga sebagian besar bukan anak-anak penduduk asli Wadungasih.

Artinya, di sekeliling sekolah adalah pabrik-pabrik, pastinya ada hunian bagi para pencari kerja dari luar kota atau daerah. Hunian tersebut berupa tempat kos, rumah kontrakan, dan perumahan.

Plt. Kepala SDN Wadungasih 2 Suyatno mengaku, tak sedikit dari peserta didiknya meskipun kelahiran Sidoarjo tetapi orangtuanya berasal dari daerah lain. Dan mereka masih belum menjadi warga Desa Wadungasih.

“Banyak siswa kita memang anak-anaknya orang kos,” terang Suyatno.

Berbeda dengan SDN Wadungasih 1 yang ditempati anak-anak warga asli desa. Mereka pun pastinya penduduk asli yang menetap.

Tidak seperti masyarakat yang kos atau kontrak yang terkadang menetap karena kontrak kerja. Ketika kontrak kerja usai mereka akan berpindah tempat. 

Suyatno menambahkan, hal itulah yang menjadi cirikhas atau pembeda SDN Wadungasih 2. Sehingga, peserta didiknya fluktuatif karena menyesuaikan para pekerja pabrik.

Untuk saat ini, jumlah peserta didik sekolah tersebut cukup banyak. Tercatat ada 315 peserta didik.

Menariknya, meskipun sekolahnya kecil dan terbatas jumlah lokalnya pihak sekolah harus menampung anak-anak yang mendaftar di sekolah itu berapa pun jumlahnya.

“Ya mau gimana lagi. Kasihan anak-anak,” ungkap Suyatno.

Untuk menyiasati jumlah peserta didik yang melebihi batas maksimal kuota, pihak sekolah menerapkan sekolah pagi dan siang. Selain itu juga ada kelas A dan B mulai dari kelas 1 hingga 6.

“Kami cuma punya 7 lokal. Idealnya kan 12 lokal,” terang Suyatno.

Untuk menjalankan proses belajar mengajar, pihaknya membagi kelas 1, 5, dan 6 masuk pagi hari. Selain kelas tersebut dimasukkan siang.

Dengan area sekolah yang terbatas, Suyatno bersama guru-guru berusaha mengatur dan menata peruntukannya. Jika dipaksakan, maka penambahan harus dilakukan secara vertikal.

Hal itu cukup wajar, karena tempat parkir tidak tersedia. Area bermain anak-anak pun hanya memanfaatkan halaman sekolah.  Sehingga tak heran, jumlah permainan yang bisa dilakukan anak-anak masih terbatas.

Jika ada kegiatan olahraga, terang Suyatno, biasanya pihak sekolah memanfaatkan lapangan desa dan lapangan perumahan yang letaknya tak jauh dari sekolah.

Sementara, untuk kegiatan pengembangan, Suyatno mengaku pihak sekolah tidak memaksakan. Pasalnya, hal itu mengacu pada kesepakatan para wali peserta didik.

“Seperti kegiatan ODL, kami bicarakan dulu dengan wali murid. Takutnya, biayanya memberatkan bagi mereka,” kata Suyatno.

Kondisi sebagian besar wali peserta didik yang merupakan anak para pekerja pabrik mengharuskan pengelola sekolah harus memaklumi dan memberikan dispensasi. Artinya, keterbatasan yang mereka miliki harus menjadi pertimbangan.

Karena hal itulah yang mengharuskan pihak sekolah untuk dekat dengan wali peserta didik. Pihak sekolah menginginkan untuk mengutamakan kerja sama dengan para orangtua. 

“Ini saya mencoba untuk mengadakan ekstrakurikuler drum band. Sudah coba saya sampaikan, semoga hasilnya bagus,” kata Suyatno.

Nantinya, yang menangani adalah paguyuban orangtua. Pihak sekolah hanya menyediakan tempat dan pelatih.

Suyatno pun menyinggung keterlibatan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah. Pasalnya, dulu sempat ada bantuan yang diperuntukkan untuk pengembangan sekolah.

Namun, saat Suyatno menjabat sebagai kepala sekolah sudah tidak ditemukan lagi bantuan itu. Padahal, antara sekolah dengan pabrik saling berkaitan.

“Kita inikan memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak para pegawai pabrik,” ungkap Suyatno.

Intinya, seharusnya pihak perusahaan mengerti bahwa SDN Wadungasih 2 membutuhkan bantuan untuk pendidikan anak-anak para pegawainya.

Jika hal itu terwujud, pihak sekolah bisa melakukan pengembangan supaya bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain.

“Saya tidak tahu, padahal dulu ada bantuan dari pabrik-pabrik untuk setiap kegiatan di sekolah,” ujar Suyatno.

Namun, saat ini cuma ada 1 perusahaan yang masih memberikan bantuan. Tetapi, wujudnya berupa hewan kurban yang diberikan saat hari raya Idul Adha.

Selain perhatian dari perusahaan, sekolah juga membutuhkan atensi dari pemerintah desa. Terkait keamanan anak-anak saat keluar masuk sekolah.

“Tahu sendirikan, banyak kendaraan besar yang keluar masuk pabrik. Dan itu mengkhawatirkan,” jelas Suyatno.

Untuk menyiasati hal itu, pihak sekolah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar penjaga pintu sekolah. Apalagi saat pagi dan sore hari.

Bunyi knalpot kendaraan besar itu juga jadi masalah ketika melintas depan sekolah.

Setiap anak berprestasi diberikan hadiah khusus dari sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *