Senyum dan Air Mata Pak Saha

Oleh: Nawawi A. Manan

Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo; jamaah Asosiasi bukan Gus (AsiaBagus).

Selain pada malam Jumat, peziarah di makam Mbah Kudu tidak  banyak, hanya sekitar   15 orang. Mereka adalah orang-orang kelas bawah, terutama pedagang pasar dan pedagang kaki lima yang rejekinya  kurang lancar.

Saya (penulis) sampai di lokasi  itu – sekitar 10 tahun lalu —  tidak berziarah, hanya singgah  membeli kopi setelah bersilaturahim dengan seorang kiai kampung  sangat tidak terkenal, yang  omongan dan gurauannya  sangat futuristik dan inspiratif.

“Mbah Kudu meniko sinten, Pakde?” tanya teman saya kepada pak  Saha, penjual kopi dan juru kunci makam Mbah Kudu.

Setelah menyuguhkan 2 gelas kopi dan sepiring gorengan di depan kami, pak  Saha mengambil rokok kemudian duduk di tikar bersama kami.

“Miturut cerita saking bapak kula, beliau adalah santri  Syekh Jumadil Kubra yang ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di daerah ini,” kata pak Saha.

Tidak ada orang tahu nama Mbah Kudu sebenarnya. Masyarakat memberi laqab  “Mbah Kudu” karena di sekitar makam terdapat beberapa  pohon mengkudu.

Makam Mbah Kudu  ditemukan ayah pak Saha pada 1960-an, ketika mencari rumput untuk pakan kambing. Sejak saat itu, setiap Kamis sore,  pak Saha disuruh ayahnya membersihkan areal sekitar makam. Pak Saha menjadi juru kunci  mulai akhir 1990-an  atas permintaan Mbah Kudu ketika   kesliut  saat mendengarkan siaran wayang kulit melalui  radio.

“Ha, suk emben iki  akeh wong susah.  Dheweke  bakal teka menyang omahku saperlu ndedunga. Mula kowe tak jaluk ngancani, ya!” kata pak Saha menirukan pesan Mbah Kudu.

Pak Saha  melaksanakan pesan itu sebulan kemudian, hanya pada malam Jumat, karena setiap pagi  harus mencari nafkah sebagai buruh tani. Dia berjaga setiap malam setelah membuka warung kopi atas permintaan para peziarah, dengan modal dari para peziarah. Sejak saat itu jumlah  peziarah kian meningkat. Bahkan, mereka bertahan hingga larut malam.

“Langkung sae menawi dipun wontenaken haul, Pakde,” kata saya kepada pak Saha.

Pak Saha manggut-manggut sambil  tersenyum agak lama.

“Saya yakin warga dan pemerintah desa sangat mendukung,” tambah kawan saya.

Pak Saha menceritakan, haul Mbah Kudu pernah dilaksanakan atas prakarsa dua orang pemuda desa, selama 3  hari. Hari pertama, berdoa bersama di makam Mbah Kudu diikuti semua warga desa; hari kedua, hadrah Ishari se-kabupaten; hari ketiga, pengajian umum.

Pemerintah dan warga desa sangat antusias karena semua biaya kegiatan ditanggung oleh para pemrakarsa. Warga desa hanya menyediakan konsumsi untuk istighotsah. Tahun berikutnya masyarakat menolak kegiatan haul karena  hanya dimanfaatkan oleh para pemrakarsa untuk mengunduh dana APBD.

“Mbah Kudu namung dimanfaataken  kangge pados rejeki,” kata pak Saha.

“Wonten makelare, Pakde?” tanya saya.

“Kirang langkunge ngaten, Mas,” jawab pak Saha.

Dengan uang sedekah,    pemerintah desa membenahi areal di sekitar makam untuk memberikan kenyamanan kepada peziarah. Warung  pak Saha yang semula hanya angkringan bambu juga direhabilitasi.

“Pak  Lurah ingin memberikan sebagian uang sedekah sebagai gaji saya. Tapi  mboten kula terami, Mas!” kata pak Saha.

“Mengapa, Pakde?” tanya saya.

“Kula rumaos isin, Mas,” kata pak Saha dengan suara tertahan.

“Nggih mboten manapa, Pakde,” kata teman saya.

“MBah Kudu niku sampun seda nanging  saget biyantu  panguripan dateng tiyang ingkang taksih urip. Lha mosok kula ingkang  taksih urip…. “ kata pak Saha sambil mengusap air matanya.

Sejak Covid-19 melanda,  hingga saat ini, saya tidak pernah berziarah ke makam Mbah Kudu. Pak Saha juga sudah tiada, tetapi senyum dan air matanya sering membayang di pelupuk mata saya. Senyum satir terhadap  avonturirisme;   air mata nestapa akibat berbagai kelancungan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *