
Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus)
Ketika atmosfer jagad Indonesia dipenuhi gema takbir warga NU, Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman menggelar sahur bersama di Gedung Grahadi Jl. Pemuda Surabaya bersama para tokoh Jawa Timur.
Kegiatan tak lazim itu dilaksanakan untuk memengaruhi masyarakat agar tidak mengikuti ikhbar 1 Syawal PBNU. Pemerintah sudah menetapkan 1 Syawal berbeda dengan keputusan PBNU. Perbedaan tersebut diciptakan dengan konteks kekuasaan.
Upaya menyatukan penetapan awal dan akhir Ramdhan dilaksanakan sejak abad ke-15 pada era Kesultanan Demak. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Kementerian Agama kali pertama menyelenggarakan sidang isbat pada 1962 berdasarkan rukyatul hilal didukung data hisab. Upaya tersebut dikukuhkan pada masa pemerintahan Soeharto dengan membentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR) pada 1972.
Dalam perkembangannya, Departemen Agama lebih mengutamakan metode hisab karena dianggap lebih pasti. Sidang isbat tetap dilaksanakan, tetapi rukyatul hilal diabaikan, dan hari Idul Fitri sudah diumumkan sejak jauh hari. Sejak saat itu, pemerintah dan NU sering terjadi perbedaan karena NU konsisten menggunakan metode rukyatul hilal.
Pada era 1990-an, ketika Presiden Soeharto menunjukkan otoritasnya sebagai “Raja Jawa”, perbedaan itu menimbulkan ketegangan. Situasi itu menimbulkan gairah warga NU untuk ikut melakukan rukyatul hilal agar bisa segera menyampaikan ikhbar.
Pada Ramadhan 1414 (Maret 1994), Tim Redaksi Majalah Ummat (PCNU Sidoarjo) berencana mengikuti rukyatul hilal PWNU Jawa Timur di Pantai Ujung Pangkah Gresik. Selain membantu memercepat ikhbar, kami akan menulis laporan pandangan mata tentang liku-liku rukyatul hilal. Kami tidak hanya bersemangat, tetapi juga hontok-hontok karena Menteri Agama Munawir Sjadzali sudah mengumumkan Idul Fitri pada Senin, 14 Maret 1994.
Rencana tersebut tidak terlaksana karena kami kesulitan mendapatkan mobil carteran. Pembina Ummat dan mentor saya di Jawa Pos H. Sholihin Hidayat (cak Sholihin) meminta saya (redaktur) mewawancara K.H. Chozin Mansur (Yai Chozin), sesepuh Ponpes Mambaul Hikam Tanggulangian, Sidoarjo. Yai Chozin adalah santri K.H. Mahfudz Anwar Seblak, Jombang, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU.
“Sebelum PBNU mengeluarkan ikhbar, kita sudah melakukan ikhbar dengan majalah, karena hasil hisab Yai Chozin selalu sama dengan hasil rukyat PBNU,” kata cak Sholihin.
Dengan sepeda motor pinjaman, saya meluncur ke Mambaul Hikam bersama Akhmad Jumani, fotografer dan penata letak Ummat, dengan menyangklong kamera Pentax.
Dua hari sebelum kami mewawancarai, Yai Chozin sudah ditelepon Yai Mahfudz Anwar untuk mengonfirmasi hasil hisab.
“Wingenane kulo ditelepon Yai Mahfudz, cocok-cocokan hasil itung-itungan. Insyaallah riyadine dinten Ahad,” kata Yai Chozin.
Jika biasanya tebit pada awal bulan, khusus edisi April, Ummat kami terbitkan pada pertengahan bulan untu kepentingan ikhbar. Pada Senin (7/4/1994), master cetak dan disket Verbatim kami kirimkan ke percetakan di Surabaya.
Sesuai jadwal, majalah kami terima pada Jumat siang. Jadi, paling lambat Sabtu sore Ummat sudah sampai di tangan pelanggan, sehingga mereka mengetahui hari Idul Fitri lebih awal tanpa harus merasakan ketegangan. Kami amat sangat kuciwa karena hingga hari H majalah belum dikirimkan.
Pada dua minggu kemudian, saya diberi tahu staf percetakan bahwa Ummat sengaja disabotase karena bos percetakan warga golongan ula’ika. Hukum yang kemudian berlaku ialah ngundhuh wohing pakarti atau in ahsantum ahsantum wa in asa’tum fa laha. Sekitar 5 tahun kemudian, perusahaannya bangkrut karena kuwalat.
PBNU menetapkan awal dan akhir Ramadhan berdasarkan perintah Rasulullah SAW dalam hadis muttafaq ‘alaih – dengan hisab sebagai penunjang — bukan karena mengikuti pemerintah. Sebab, NU didirikan sebagai wasilah para ulama untuk melanjutkan tugas kenabian, bukan untuk menghimpun dan menggadaikan umat sebagai kayu bakar kekuasaan.
Penulis merupakan salah satu Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).







