Cucu Nyi Roro Kidul

Oleh: Nawawi A. Manan

Gambar ilustrasi.

Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo; jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).

Suasana  di  Pasar Gemolong, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah,  sepi pada bulan Suro (Muharam) lalu. Para pengunjung hanya berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak ada orang berbelanja dalam jumlah besar  untuk  melaksanakan  hajatan, seperti khitanan dan pernikahan. Diberitakan Solotrust.com (25/7), omzet para pedagang berkurang cukup signifikan.

Masih banyak orang Jawa percaya bulan  Suro adalah saat Nyi Roro Kidul mantu (menikahkan putra/putrinya). Mereka tidak melaksanakan hajatan karena membersamai hajat Nyi Roro Kidul dianggak ora ilok (tidak etis), tidak akan membawa berkah, bahkan bisa  mengakibatkan  musibah.

“Masyarakat tidak boleh  melaksanakan hajatan pada bulan Suro karena pada bulan Suro Nyi Roro Kidul mantu adalah alasan tidak masuk akal,” kata seorang khatib pada Jumat awal Muharam lalu dengan lantang.

Dia menjelaskan, kaum Muslimin dilarang melaksanakan kegiatan  bersifat suka cita karena  bulan Suro atau Muharam dianggap sebagai bulan duka cita.  Pada 10 Muharam (Asyura)  61 Hijriyah  terjadi tragedi besar; Sayyadina  Husein bin Ali, cucu Rasulullah SAW, terbunuh di Padang Karbala.

“Jadi, bukan karena Nyi Roro Kidul mantu,” katanya.

Dikutip detik.com (23/12/2023) dari buku Kanjeng Ratu Kidul dalam Perspektif Islam Jawa, dikisahkan bahwa pada masa berdirinya Kerajaan Mataram Islam  gelombang tsunami  menghantam Segara Kidul (Laut Selatan). Panembahan Senapati  memanfaatkan peristiwa itu dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul sebagai strategi mendapatkan dukungan politik dan melegitimasi pemerintahannya.

Disebutkan, mitos   tersebut  sebagai bagian  strategi Ki Juru Martani untuk membangun rasa hormat masyarakat. Sebagai  penasihat utama, ia merasa  Panembahan Senapati tidak akan mendapat pengakuan layak sebagai raja, meskipun dia bagian dari  trah Brawijaya V. Pertemuan kedua sosok tersebut bisa  menjadi suatu bentuk legitimasi kekuasaan Mataram Islam yang baru berdiri sehingga rakyat  akan tunduk di bawah otoritas Sang Raja.

Pristiwa   Nyi Roro Kidul mantu pada bulan Suro hanya mitos, tetapi  larangan melaksanakan hajatan adalah  kearifan para ulama pada zaman permulaan Islam. Pemikiran  masyarakat Jawa masih   dilingkupi  takhayul karena, menurut Primbon Jawa, Pulau Jawa adalah pusat kerajaan gaib terbesar di Nusantara. Para ulama menggunakan mitos Nyi Roro Kidul sebagai dasar larangan pelaksanaan hajatan disesuaikan dengan kondisi psikologis masyarakat berdasar dalil takallaman naasa biqadri ‘uqulihim (berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka).

Selain melakukan transformasi  ajaran Islam melalui  akulturasi budaya, ketika menyiarkan ajaran  Islam  para ulama juga menciptakan legenda, tembang dolanan, dongeng, syair-syair, dan lain-lain. Misal, pujian Saben Malam Jumat. Intinya, pada setiap malam Jumat para ahli kubur pulang untuk mengharapkan kiriman bacaan Alquran dari keluarganya. Jika tidak mendapat yang diharapkan, mereka kembali ke alam kubur dengan bercucuran air mata.

Isi syair itu adalah mitos, tetapi sangat evokatif. Syair itu diciptakan untuk memotivasi agar kaum Muslimin membaca Alquran pada sayyidul ayyam. Hanya pada malam Jumat karena jika setiap hari mungkin berat. Jadi, anjuran itu  juga bi qadri ‘uqulihim.

“Kok saben taun mantu, putrane Nyi Roro Kidul niku cacahe pinten, Cak?” tanya si A ketika menikmati kopi  setelah Muharaman di langgar depan rumah saya.

“Saben taun mantu mulai zaman Panembahan Senapati (pertengahan abad ke-16) wis pira jumlah putune Nyi Rara Kidul?” tanya si B.

Yang paling menggelitik pertanyaan si C, “Cak, adakah di antara cucu Nyi Roro Kidul yang berteman dengan Jenengan?”.

Saya jelaskan bahwa cucu Nyi Roro Kidul ada 2 jenis, yaitu cucu biologis dan cucu psikologis. Yang berkawan dengan saya adalah cucu-cucu psikologis. Mereka manusia biasa, tetapi memiliki sifat seperti tokoh  dalam mitologi: absurd, menggelikan, dan menjengkelkan.

Di antara mereka  menjadi metamorfosisnya kancil dan memainkan adegan dongeng Kancil Dadi Merak. Banyak generasi tingwe  tiba-tiba menjadi manusia hedonis karena kepintarannya memanfaatkan hubungan patronase.  Akan tetapi, setelah  sang patron dibondo KPK, mereka kembali menjadi kancil yang dikejar penjual cilok.

Foto penulis saat berada di salah satu pure di Lombok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *