
Seminggu sebelum pelaksanaan khitanan, Inur minta ditunda tahun depan. Ia ketakautan setelah mendengarkan godaan teman-temannya. Untungnya, ulem-ulem (kartu undangan) belum diedarkan.
“Soal makanan bukan masalah, tetapi pemilik terop, kursi, dan spiker, pasti marah jika digagalkan,” kata cak Patah, bapaknya Inur.
Seketika itu cak Patah saya ajak ke rumah paman bersama Inur. Paman memberikan segelas air putih kepada Inur.
“Sida sunat ya, Nur?” kata paman beberapa saat kemudian.
Inur mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Cak Patah tampak lega.
Paman adalah tipe kiai kampung masa lalu, berperan sebagai ri’ayatul ummah, pembimbing dan pengayom masyarakat. Selain mengajar anak-anak belajar membaca Alquran, tajwid, nahwu, dan ilmu fiqih dasar, ia membantu menyelesaikan berbagai persoalan syarakat sesuai kemampuannya.
Dikutip nu.or.id (6/8/2022), Wakil Rais ‘Aam PBNU K.H. Anwar Iskandar mengatakan bahwa para kiai zaman dulu tidak pandai pidato, tapi doanya mustajab. Kalau kiai zaman sekarang pidatonya bukan main dan pintar ndalil, tetapi doanya tidak mustajab.
“Sudah diludahi sampai basah kuyup, (orang sakit) tidak sembuh-sembuh,” kata K.H. Anwar Iskandar.
Ungkapan bermuatan kegelisahan seperti itu pernah disampaikan Almaghfurlah K.H. M. Faishol Ridlwan (Wakil Ketua PCNU Sidoarjo 1992-1996), dalam haul keluarga seorang pengurus PC GP Ansor Sidoarjo pada sekitar awal 1990-an.
Pada masa lalu, kata Yai Faishol, yang jadi jujukan masyarakat ketika menghadapi persoalan adalah para kiai. Seiring dengan perkembangan zaman, peran kiai semakin surut.
“Pada zaman dulu, orang sakit gigi datang ke kiai minta disuwuk. Sekarang, orang sakit gigi berobat ke puskesmas,” kata Yai Faisol.
Seperti K.H. Anwar Iskandar, Yai Faishol hanya menyebutkan ma’lul tanpa menjelaskan illat-nya. Jawaban tentang illat itu saya peroleh pada sekitar 5 tahun lalu.
Setelah banyak orang sakit darah tinggi, stroke, dan lain-lain sulit disembuhkan secara medis dan menguras harta, saya mencari keturunan cak Pi’i, tukang pijat bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit berat dengan memijat bagian tubuh tertentu, isyaratnya muncul setelah cak Pi’i membaca rapal (doa berbahasa Jawa).
“Gak ana sing isa, Cak!” kata Usup, anak ketiga cak Pi’i.
“Kenapa?” tanya saya.
Usup menceritakan, bapaknya mewariskan ilmunya kepada Topa, si bungsu, tetapi Topa hanya bisa mengamalkan sekitar 5 tahun karena tidak pernah tirakat.
“Bapak tidak pernah berpuasa sunnah karena tidak bisa meninggalkan kopi dan rokok klobotnya, tapi selalu cegah dhahar klawan guling,” kata Usup.
Selain itu, Topa sering minta imbalan berlebihan, apalagi jika pasiennya orang kaya. Ia pernah melakukan tirakat untuk mengembalikan kesaktiannya, tetapi tidak berhasil. Meskipun ia telah membaca rapal berkali-kali, bagian tubuh pasien yang harus dipijat tidak muncul.
“Bapak tidak begitu, bahkan tidak berharap imbalan karena tujuannya hanya tulung. Jadi, bashirah-nya Topa tertutup karena terlalu mengejar bisyarah, Cak!” kata Usup.
Saya tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa, Cak?” tanya Usup.
“Aku kelingan dawuhe kiaku biyen.”

Penulis adalah Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo; jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).







