
Akhir bulan Kemerdekaan 2025 ini punya banyak kesan dan pesan. Tak hanya kesan baik tetapi juga kesan yang tak baik. Orang bijak bilang, “semua pasti ada hikmahnya”.
Tetapi, untuk menuju ke hikmah tersebut terkadang ada rasa pahit, duka, dan perasaan yang mungkin tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Kesan baiknya adalah masih terselenggaranya pesta kemerdekaan hingga di akhir bulan. Ada karnaval, jalan sehat, pentas seni, dan masih banyak kegiatan lainnya. Seolah bagi mereka kemerdekaan ini bagian penting yang niscaya dirayakan.
Alasan mereka pun jelas, bahwa perayaan itu adalah wujud penghormatan kepada pahlawan yang telah mengorbankan banyak hal demi nasib anak, cucu, dan generasi di masa depan yang terbebas dari penjajahan.
Karena itu, bagi mereka bulan Agustus adalah masa-masa untuk menunjukkan bahwa kita hari ini telah menghirup udara kemerdekaan. Pengorbanan para pahlawan tidak sia-sia karena anak cucunya saat ini telah hidup tanpa adanya penjajahan seperti dulu.
Sementara Kesan kurang baiknya yakni terjadi gejolak sosial di beberapa daerah. Mulai dari ibu kota negara kemudian merembet ke daerah-daerah. Korban jiwa pun tak luput dari tragedi ini, mulai dari yang terluka hingga meninggal. Selain itu, harta dan benda juga jadi korban. Fasilitas pemerintah dan fasilitas umum juga tak luput dari sasaran pengerusakan.
Karena itu, kita hidup di dunia ini harus paham bahwa setiap manusia diberi beban oleh Tuhan bernama resiko. Resiko memiliki ukuran. Ada yang ringan, berat, dan sangat berat.
Terkadang resiko itu datang tanpa kita sadari. Terkadang pula menyakitkan karena merenggut sesuatu atau banyak hal yang tak pernah kita duga.
Sebagai manusia yang masih mengedepankan akal sehat dan percaya kepada Tuhan, hendaklah kita semua bersiap untuk menyambut resiko itu. Bersiap artinya mendekatkan diri kepada Tuhan supaya bisa menerima dengan keyakinan bahwa resiko yang diberikan Tuhan beratnya tidak melebihi kemampuan kita.
Selain itu, kita juga harus mengelola diri kita menjadi pribadi yang selalu berhati-hati dalam menjalan kehidupannya ini. Karena terkadang resiko datang karena ulah kita sendiri yang meremehkan prilaku kita tanpa berfikir panjang.
Semoga kita kelak jadi umat beragama yang bisa tersenyum di akhir episode kehidupan ini. Dan menjadikan setiap tragedi sebagai resiko dan pembelajaran untuk menyongsong masa depan. Amin!







