
Pada tahun 2025 ini bangsa kita menutup penghujung bulan kemerdekaan dengan tragedi demonstrasi berdarah yang menelan korban jiwa. Sebuah peringatan yang biasanya dirayakan dengan suka cita selama sebulan penuh harus berhiaskan suasana mencekam dan tangisan.
Demokrasi yang seharusnya jadi solusi permasalahan bangsa, pada Agustus tahun ini harus berubah jadi permasalahan bangsa. Rakyat dan wakilnya seolah tak merasa mewakilkan dan mewakili dalam menjalankan roda demokrasi.
Alat-alat negara yang seharusnya menjaga, mengayomi, mengabdi kepada rakyat harus dihadapkan pada situasi yang membingungkan dan penuh resiko.
Jika ini sebuah proses pembelajaran menuju negara yang kuat dan berdaulat, berarti bangsa ini tidak belajar dari reformasi 1998 lalu. Berarti bangsa ini telah menghianati para pejuang reformasi yang gugur saat itu.
Artinya, bangsa ini tidak pernah menghargai pengorbanan mereka yang telah rela kehilangan nyawa. Dan mereka yang telah mengihlaskan harta hingga kehormatan demi sebuah bangsa yang berharap bisa maju, kuat, dan unggul.
Sebagai pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang telah membiasakan diri dengan harmonisasi sosial tentunya kondisi tersebut sangat memprihatikan. Pasalnya, harmonisasi telah dirusak oleh oknum-oknum yang tidak kontemplatif dalam menyikapi persoalan.
Seharusnya mereka paham bahwa penyelesaian persoalan dan konflik sosial membutuhkan pengalaman dan latihan dalam waktu yang tak singkat.
Seperti yang selama ini dilakukan keluarga besar FKUB. Untuk bisa meredam hingga menyelesaikan persoalan keumatan harus berlatih selama bertahun-tahun. Mulai dengan membaca teori-teori sosial hingga belajar tentang strategi komunikasi.
Meski telah berlatih dan berusaha upgrading kemampuan kami masih merasa memiliki keterbatasan untuk menjangkau berbagai sendi kehidupan umat. Kekurangan tersebutlah yang menjadikan kami terus belajar, mawas diri, dan berhati-hati dalam berkomunikasi.
Tetapi, keterbatasan bukan merupakan halangan dalam menjaga kondusifitas di masyarakat. FKUB Sidoarjo telah memodifikasi perannya supaya luwes dan luas dalam mengemban amanat menjaga kerukunan dan kondusifitas kawasan.
Di FKUB kita belajar menyatukan nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam setiap agama. Supaya mendorong terciptanya perdamaian sekaligus motivasi dalam membentuk suasana harmonis.
Kita harus paham bahwa kondisi masyarakat kita heterogen dari segi budaya hingga ekonomi. Sehingga nilai-nilai dan kearifan beragama jadi titik temu sekaligus harapan menyelesaikan konflik dan permasalahan kebangsaan.
Semoga setiap kejadian dan tragedy yang menimpa bangsa ini jadi cambuk untuk tidak mengulangi tragedi di masa mendatang. Dan semoga kepentingan politik tidak lebih penting dari kepentingan kemanusiaan.







