
Masih terngiang di telinga ucapan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang sempat viral di media sosial, “guru itu beban negara”. Tak lama kemudian disusul dengan Menteri Agama Nasaruddin Ummar yang mengatakan bahwa guru jangan cari uang seperti pedagang.
Kedua pernyataan tersebut seolah bertolak belakang dengan seorang guru SDN Banjarkemantren 2 bernama Siti Komariyah. Pasalnya, saat ini ia merasakan dua kesuksesan secara bersamaan. Yakni, sebagai guru dan pedagang di market place.
Kesuksesannya menjadi guru ia tunjukkan dengan terpilih mewakili Zona 5 mengikuti lomba inovasi pembelajaran tingkat provinsi yang diselenggarakan PGRI Jawa Timur tahun ini. Sementara itu, kesuksesan lainnya karena ia telah menjadi seorang pengusaha dan pedagang yang omsetnya mencapai ratusan juta per bulan.
“Alhamdulillah, bisa mencapai 3 digit. Tapi itu omset loh ya,” jelas Ria sapaannya, saat ditemui di sela-sela jam mengajar di SDN Banjarkemantren 2 Kecamatan Buduran, Sidoarjo.
Kesuksesannya menjadi guru mulai tampak pada 2024 lalu. Ria sempat menempati posisi ke-2 dalam lomba yang sama. Ia sukses dengan media belajar yang ia buat bernama Etera.
Etera adalah singkatan dari Energi Terbarukan dan Ramah Alam. Sebuah media pembelajaran sederhana yang membantu anak-anak memahami energi alam yang setiap hari bisa ditemui dan dimanfaatkan.
Etera, jelas Ria, merupakan media pembelajaran untuk kelas 5. Media tersebut memanfaatkan energi panas matahari sebagai sumber tenaga listrik. Kemudian energi tersebut diubah menjadi energi gerak untuk kebutuhan manusia.
Tak puas dengan keberhasilan Etera, ia kembali membuat media pembelajaran lagi. Berharap bisa meraih kemenangan di posisi puncak saat diikutkan lomba tingkat provinsi tahun ini.
Ia pun membuat media pembelajaran sederhana lagi dengan memanfaatkan air yang mengalir untuk memutar generator listrik. Sekilas, media tersebut mirip seperti pembangkit listrik tenaga air. Karena itu ia beri nama Pelita (Pembangkit Listrik Tenaga Air).
Beberapa media pembelajaran yang dirancang oleh Ria sempat mendapat sorotan dan perhatian media lokal hingga nasional. Bahkan, stasiun televisi nasional Kompas TV mendatanginya. Pasalnya, ia memposting semua karyanya di akun sosial media.
Terutama media pembelajaran yang ia produksi sendiri di rumah. Mulai dari proses pembuatan hingga penggunaan. Adapula media refleksi dan evaluasi pembelajaran berbentuk multimedia yang juga mendapatkan banyak respon dari netizen.
Sementara itu, kesuksesan sebagai pedagang dan pengusaha ia buktikan dengan membuka usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Ia memiliki toko online yang menyediakan alat-alat tulis, kebutuhan kantor, dan media pembelajaran. Jumlah varian dan itemnya pun sudah mencapai ratusan.
Ria mengatakan, awal menjalankan usahanya ia lakukan berdua dengan adiknya. Karena permintaan yang terus meningkat ia putuskan untuk menambah pekerja.
Saat ini ia telah memiliki 5 orang karyawan di rumah. Setiap hari mereka harus memenuhi hingga 50 pesanan. Karyawanya terbagi menjadi beberapa bagian mulai dari bagian packing, desainer, dan videografer.
“Sekarang sudah bisa ditinggal ngajar karena di rumah ada yang melayani,” terang Ria.
Ria menambahkan, jika dibandingkan dengan mengajar di sekolah umum gaji karyawannya lebih besar. Belum lagi jika mereka bisa berinovasi atau membuat produk untuk menambah varian barang-barang di etalase toko.

Ia mengakui, permintaan akan bertambah bahkan berlipat saat awal tahun ajaran baru. Momen itu adalah puncak orderan dan omset tokonya. Bahkan, terkadang para pekerja harus lembur.
Selain melayani penjualan ia juga memproduksi beberapa media pembelajaran pesanan konsumen. “Ada yang buat sendiri, ada yang ambil dari penyedia barang kemudian kita jual lagi,” jelasnya.
Toko online milik Ria melayani penjualan mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Kurir pun tampak berlalulalang menghampiri rumah Ria setiap hari. Karena itu menambah tenaga kerja adalah sebuah keniscayaan, terutama yang memiliki keterampilan dan kemampuan tertentu.
“Dengan begitu saya bisa membantu mengurangi beban negara,” kata Ria sambil tersenyum.
Guru kelas 5 itu senang dengan adanya karyawan di rumahnya. Selain membantu usahanya, mereka telah berkontribusi meningkatkan mutu pendidikan, mengurangi angka pengangguran, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan iklim usaha di Sidoarjo.
Meski Ria seorang pengusaha tak jarang ia membantu guru-guru di SDN Banjarkemantren 2 membuat media pembelajaran. Karena itulah tak sedikit yang terinspirasi dan mengikuti jejak Ria. Artinya, mereka termotivasi membuat media pembelajaran untuk anak-anak di sekolah.
“Sekarang banyak guru-guru di sekolah yang meniru bikin konten dan media belajar. Dan suasana pembelajaran jadi aktif,” kata Ria.
Anak-anak yang awalnya selalu tanya waktu istirahat dan pulang berubah jadi antusias mengikuti pelajaran. Seolah waktu belajar di kelas terlalu cepat.
Usaha dan kreativitas Ria dimulai pada 2023 lalu. Berawal dari rasa jenuh dan bosan menjalani keseharian mengajar di sekolah setiap hari. Hal itu kemudian mendorongnya mencari dan membuat aktifitas untuk menghilangkan kejenuhan.
Tak hanya konten pribadi, ia juga menyempatkan membuat konten edukasi seperti keseharian mengajar di kelas. Kemudian konten tersebut ia bagikan ke wali peserta didik, guru-guru, dan pengikut di media sosialnya.
“Terkadang aktivitas mengajar sehari-hari bikin jenuh. Ya, sudah sepulang sekolah bikin konten,” terang Ria.
Ia pun tak menyangka bahwa beberapa konten diminati netizen. Terutama wali peserta didik SDN Banjarkemantren 2. Sehingga, ia memutuskan untuk selalu membagikan konten pendidikan kepada para orangtua.
Respon para orangtua beragam. Mulai dari hanya memberikan like hingga komentar. Tak sedikit pula respon positif dan menyemangatinya untuk terus berinovasi.
“Akhirnya, saya tidak hanya mengajar saja. Saya coba bikin media pembelajaran sederhana yang gampang dan tak membutuhkan banyak biaya,” ucap guru PPPK itu.
Dikarenakan konten yang ia buat unik dan menarik, jumlah pengikut di Instagram dan TikTok miliknya terus bertambah. Akun Instagram miliknya saat ini sudah mencapai 198 ribu pengikut. Sementara akun TikTok sudah mencapai lebih dari 80 ribu pengikut.
Kepala SDN Banjarkemantren 2 Khadid Priyanto mengapresiasi keberhasilan Ria. Pasalnya, ia merupakan satu dari beberapa guru sekolah tersebut yang karirnya meningkat.
“Sebelumanya ada Pak Suyatno, Bu Sri Wahyuni, Bu Edra, Pak Taufan Kusuma Wardana yang naik jabatan jadi kepala sekolah sekarang,” ungkap Khadid.
Sebagai pimpinan ia berkewajiban mendukung kemajuan karir guru-guru SDN Banjarkemantren 2. Terutama kepada guru-guru yang menyempatkan membuat media pembelajaran di sekolah. (Nis)








