Diapit Pabrik dan Mulai Diminati

SDN Sidomulyo

Kepala SDN Sidomulyo Kecamatan Buduran Vera Beti Istanti, S.Pd., M.M usai menerima piagam dari INOVASI.

SDN Sidomuyo Kecamatan Buduran satu di antara sekolah yang letaknya diapit banyak perusahaan. Mulai sisi bagian kanan, kiri, depan, dan belakang dipenuhi perusahaan yang telah berdiri sejak lama di Desa Sidomulyo.

Kepala SDN Sidomulyo Vera Beti Istanti menjelaskan bahwa posisi sekolah yang dipimpinnya lebih dekat dengan pabrik ketimbang rumah penduduk. Sementara itu, sebagian besar rumah penduduk letaknya berdekatan dengan sekolah lain. Artinya, berdekatan dengan SDN Wadungasih 1 dan 2.

Hal itulah yang menyebabkan selama bertahun-tahun penerimaan peserta didiknya sedikit. Artinya tak memenuhi kuota atau batas maksimal rombel. Bahkan, sempat hanya menerima 5 hingga 6 anak.

“Yang sebelah sana dekat dengan SDN Wadungasih 1. Yang sana lagi dekat dengan SDN Wadungasih 2,” terang Vera.

Karena itu, saat ditugaskan memimpin sekolah tersebut Vera harus melakukan terobosan supaya memikat masyarakat memasukkan anaknya ke SDN Sidomulyo. Tahun ini pun sedang mengusahakan mengakses bantuan untuk pengembangan sekolah, seperti penambahan ruang TIK.

Selain itu, ia juga dihadapkan dengan kondisi sekolah lainnya yang kurang mendukung dalam belajar mengajar. Di antaranya halaman sekolah yang setiap musim hujan digenangi air. Adapun peralatan pendidikan yang juga belum dimiliki sekolah seperti proyektor dan lain-lain.

Vera mengaku, keterbatasan dukungan sekolah dikarenakan sedikitnya jumlah peserta didik. Hal itu berpengaruh terhadap bantuan operasional sekolah yang diterima.

“Bantuan sekolahkan berdasarkan jumlah anak. Kalau sedikit, ya sedikit jumlah bantuannya,” ujar mantan guru SDN Entalsewu itu.

Karena keterbatasan itulah, lanjut Vera, pihak sekolah tidak dapat melakukan banyak pembenahan. Bantuan dari selain pemerintah seperti perusahaan sekitar tidak bisa diterima karena pihak perusahaan telah menjalin komitmen dengan pemerintah desa.

Vera mengatakan, selama setahun sejak SK pengangkatan terbit beberapa usaha sempat ia jalankan. Salah satunya dengan mempererat hubungan dengan wali peserta didik. Selain itu, ia mendatangkan pihak-pihak dari luar sekolah seperti Kepolisian untuk pengembangan pendidikan.

Keterlibatan mereka diharapkan bisa mendongkrak popularitas sekolah dengan terlibat dalam kegiatan secara langsung. Selain itu, memberikan masukan untuk mendukung inovasi sekolah.

“Polsek Buduran memberi materi tentang kedisiplinan, nasionalisme, patriotisme. Dan mereka jadi inspektur upacara,” kata Vera.

Usaha memajukan sekolah, lanjut Vera, dimulai sejak mengikuti lomba Adiwiyata. Meskipun tidak berhasil menjadi juara, SDN Sidomulyo ternyata menarik perhatian para pemerhati lingkungan. Salah satunya, sebuah lembaga bernama INOVASI dari Australia.

Kegiatan belajar asik dan menyenangkan di sekolah.

INOVASI memiliki program bernama Pendidikan Perubahan Iklim (PPI) yang mengikutkan SDN Sidomulyo dalam program tersebut. Tak hanya pendidikan dan pelatihan, lembaga tersebut juga menggelar lomba dan memberikan bantuan kepada sekolah.

“Awal kami diminta perwakilan 3 orang dari sekolah. Ternyata juga ada dari dinas dan juga Kemenag,” kata Vera.

Salah satu lomba yang diselenggarakan INOVASI yakni lomba poster. Dalam lomba tersebut, anak-anak SDN Sidomulyo berhasil meraih juara III.

Tak hanya mendapatkan apresiasi dan ilmu tentang merawat lingkungan, pihak sekolah juga menerima tawaran lain untuk program pengembangan sekolah ramah lingkungan. Salah satunya menerima bantuan pengadaan biopori.

Bantuan biopori sangat diharapkan oleh sekolah. Pasalnya, untuk menghilangkan genangan air. Menariknya, SDN Sidomulyo mendapat 20 buah biopori yang ditanam di titik genangan air di halaman sekolah.

“Alhamdulillah. Dulu sebelum ada biopori kasihan anak-anak kalau upacara pas musim hujan,” terang Vera.

Dengan adanya biopori di halaman sekolah, air hujan cepat terserap. Meskipun masih terjadi genangan air, namun tak berlangsung lama.

Vera mengatakan, genangan air di halaman sekolah dikarenakan rendahnya permukaan tanah. Jika diukur, ketinggiannya lebih rendah dari jalan di depan sekolah. Sehingga air mengalir dan berkumpul di sekolah.

Setelah permasalahan genangan air dapat diatasi, pihak sekolah berinisiatif untuk mengelola sampah. Yakni dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Karena itu, saat ini setiap kelas memiliki 2 tempat sampah yang peruntukannya berbeda.

“Dulu bak sampah hanya satu. Karena itu sampahnya bercampur. Sekarang sudah dipisahkan dari awal pembuangan,” kata Vera.

Setelah dipisahkan, kedua jenis sampah tersebut ternyata memiliki nilai ekonomis dan edukatif bagi sekolah dan anak-anak. Sampah plastik dapat didaur ulang dan sampah organik seperti daunan bisa dijadikan madia belajar.

“Daunan kita jadikan karya dan kreasi siswa. Sampah plastik untuk dijadikan aksesoris,” kata Vera.

Dengan munculnya berbagai macam ide dan program sekolah, antusias warga dan orangtua mulai tampak. Tak sedikit orangtua menawarkan bantuan jika sekolah membutuhkan. Yang mengejutkan, ada beberapa orangtua yang memindahkan anaknya ke SDN Sidomulyo.

“Ada orangtua yang betulin kipas angin, bawa makanan, dan lain-lain. Ini mulai ada yang ingin pindah sekolah ke sini,” ungkap Vera.

Ia menambahkan, sebelum kehadirannya di sekolah itu penerimaan pendaftaran tak pernah lebih dari 12 peserta didik.

Dengan munculnya berbagai kegiatan baru di sekolah diharapkan penerimaan setiap tahun mencapai jumlah batas maksimal rombel, yakni 28. Tahun ini harapan itu tampak dengan capaian 27 peserta didik.

“Pengawas sekolah sempat kaget. Kok bisa dapat segitu,” ungkap Vera.

Meski telah menarik perhatian masyarakat, pihaknya akan terus melakukan inovasi terkait pembangunan karakter kepedulian lingkungan. Yang terpenting, terus melakukan sosialisasi terkait lingkungan tak hanya kepada guru dan murid tetapi juga kepada wali peserta didik.

Keinginan membantu anak-anak kurang mampu pun akan direalisasikan tahun ini. Dengan menjalin kerja sama antara sekolah dan BAZNAS Sidoarjo. Pasalnya, lembaga tersebut memiliki program pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak kurang mampu. (Nis)

Suasana religious di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *