
Terletak di tengah perumahan tertua di Kota Sidoarjo jadi salah satu cirikhas SDN Sidokare 4 Kecamatan Sidoarjo. Perumahan itu bernama Erlangga yang letaknya bersebelahan dengan Pasar Larangan, Kecamatan Candi, Sidoarjo.
Perum Erlangga merupakan lokasi hunian lama yang ada di Kota Delta. Artinya, dibangun kala masih belum bermunculan perumahan di tersebut. Bahkan, ada yang meyakini Perumahan Erlangga adalah perumahan besar dan padat pertama yang bercokol di Sidoarjo.
Tak heran jika di tengah perumahan tersebut terdapat sekolah dasar milik pemerintah. Sidokare pun merupakan area perkotaan yang luas dan padat penduduk. Sehingga, tak heran jika memiliki 4 sekolah dasar negeri.
Jarak antar SDN Sidokare satu dengan lainnya pun cukup jauh. Untuk memberi kemudahan dan menjangkau anak-anak Sidokare maka dibangunlah 4 SD Negeri.
Namun, menurut kepala SDN Sidokare 4 Siti Khotimah saat ini yang bersekolah tidak hanya berasal dari Perum Erlangga saja. Pasalnya, sudah tidak banyak lagi anak-anak kecil di perumahan.
“Yang anak sini tidak banyak seperti dulu. Yang dulu sudah banyak yang lulus. Warganya pun sudah banyak yang tua,” terang Khotim, sapaannya.
Sekolah itu saat ini dipenuhi anak-anak dari beberapa desa sekitar, seperti Larangan, Tenggulunan, Sumokali, Sidodadi, Praban, bahkan Candi.
Khotim mengaku tidak menggunakan patokan zonasi dalam penerimaan peserta didik. Ia menggunakan umur anak sebagai pedoman penerimaan.
“Kalau zonasi hanya radius 200 Meter. Tetapi kami juga pakai pedoman umur,” terang Khotim.
Meskipun dari luar perumahan alias bukan warga perumahan, kesadaran dan kepedulian orangtua terhadap sekolah patut diapresiasi. Pasalnya, tak sedikit kegiatan sekolah diikuti orangtua. Seperti saat perayaan 17 Agustus yang melibatkan orangtua saat perlombaan.
“Lomba-lomba Agustus kemarin orangtua juga ikut lomba sama guru-guru,” kata Khotim.

Tak sedikit orangtua yang mengapresiasi ide sekolah melibatkan wali peserta didik dalam lomba. Bahkan, mereka berharap pada tahun-tahun selanjutnya orangtua selalu dilibatkan dalam kegiatan yang sama.
“Banyak yang bilang kok tidak tahun-tahun lalu diadakan lomba sama orangtua,” terang Khotim.
Tahun depan, lanjut Khotim, lomba-lomba bersama orangtua akan dikonsep lebih menarik dari tahun ini. “Tahun ini pertama kali kami ajak orangtua lomba di sekolah,” lanjutnya.
Dengan memanfaatkan keterbatasan halaman sekolah, para guru dan orangtua menggelar lomba voli buta. Voli dengan menggunakan net tertutup yang tak dapat melihat pergerakan lawan.
Suasana Agustusan di SDN Sidokare 4 tahun ini berlangsung meriah. Kemeriahan itu karena anak-anak, guru, dan orangtua bersama-sama mengikuti lombaan secara bergantian dan saling memberikan dukungan.
Keterbatasan luas halaman sekolah tak menjadi penghalang memeriahkan acara kemerdekaan. Pihak sekolah pun mengatur keterlibatan 295 peserta didik dan orangtuanya dalam setiap lomba.
Khotim mengaku, memang butuh tambahan fasilitas untuk kegiatan bersama, seperti ruang serbaguna. Pasalnya, selama ini menggunakan ruang kelas jika butuh tambahan tempat kegiatan. Sementara halaman dijadikan lapangan untuk ekstrakurikuler Voli dan Futsal.
“Saya ingin ada ruangan serbaguna untuk tambahan ekstrakurikuler lain, seperti tenis meja,” terang guru yang mengawali karir sebagai kepala sekolah di SDN Sarirogo itu.
Khotim menjelaskan, ekstrakurikuler Tenis Meja merupakan keinginan sekolah yang belum bisa diwujudkan. Pasalnya, belum ada tempat yang representatif untuk Tenis Meja.
Ia pun berencana menjadikan Tenis Meja jadi olahraga favorit dan andalan sekolah. Pasalnya, SDN Sidokare 4 memiliki guru sekaligus mantan atlet Tenis Meja putri andalan Jawa Timur. Ia adalah Dean Novianti.
Novi, sapaannya merupakan guru olahraga SDN Sidokare 4 yang saat ini masih aktif dalam cabang olahraga Tenis Meja. Meski bukan atlet muda lagi, ia masih jadi andalan Sidoarjo dan Jawa Timur dalam kejuaraan antar guru dan pegawai.
Bulan Oktober 2025 ini ia kembali jadi andalan dalam Pekan Olahraga Nasional (Pornas) XVII KORPRI di Palembang. Novi akan berlaga bersama 6 atlet Tenis Meja dan cabang olahraga lain dari berbagai kota di Jawa Timur.
Saat ditemui bersama Kepala SDN Sidokare 4 Novi menjelaskan, ia akan bertanding di nomor ganda putri. Novi rencananya dipasangkan dengan atlet dari Mojowarno, Jombang.
Ia pun menargetkan medali emas. “Semoga dapat emas,” harapnya.
Novi merupakan atlet Tenis Meja Sidoarjo yang sudah tak terhitung jumlah prestasinya. Pasalnya, mulai sekolah dasar ia sudah sering memenangi pertandingan.
Ia mengaku, saat masih muda tak sedikit klub Tenis Meja Surabaya ingin mengontraknya. Dan ia sempat masuk di klub Tenis Meja milik Gudang Garam. Saat itu ia masih masih SMP kelas 3.
“Dulu papa tidak mau saya diambil klub selain Gudang Garam,” terang guru olahraga lulusan Unesa itu.
Novi merupakan atlet yang sukses berkat bimbingan kedua orangtuanya. Sang Papa selalu disiplin melatih dan mengawasi latihan Novi sejak kelas 3 sekolah dasar. Mamanya pun ternyata seorang petenis meja.
Karena itulah, ia dan kepala SDN Sidokare 4 berkeinginan melakukan pembinaan intensif cabang olahraga Tenis Meja di sekolah. Pasalnya, pembinaan cabor tersebut harus dimulai pada usia dini.
“SD harus sudah dimulai. Kalau tingkat SMP atau SMA sudah terlambat,” kata Novi.
Novi mengatakan, Tenis Meja merupakan olahraga yang terukur. Selain itu menuntut kesabaran, kecepatan, ketepatan, keuletan, dan lain-lain. Sehingga butuh waktu yang tidak singkat untuk bisa membentuk anak jadi atlet.
Jam latihan pun harus setiap hari. Supaya mata, tangan, dan kaki bisa singkron. Sehingga akurasi pergerakan bola bisa membuahkan poin. (Nis)








