
SDN Kesambi Kecamatan Porong merupakan sekolah dengan keunggulan yang unik dan menarik. Artinya, terdapat keunggulan yang tak banyak dimiliki sekolah-sekolah lain di Kecamatan Porong.
Pihak sekolah mencatat ada beberapa keunggulan seperti juara 1 Bolavoli tingkat kecamatan pada 2024 lalu. Selain itu pada 2025 ini ada juara 3 Pildacil, juara 2 O2SN, dan juara 2 Seni Kriya FLS3N. Catatan keunggulan itulah yang menjadikan sekolah diminati warga untuk mendaftarkan anaknya.
Plt. Kepala SDN Kesambi Nafidatul Ummah, S.Pd mengakui kalau sekolah tersebut sering menyebet juara di tingkat kecamatan. Sehingga wajar kalau setiap tahun banyak didatangi para pendaftar.
Nafi, sapaannya mengaku bahwa sekolah yang dipimpinnya saat ini terkenal karena tim Bolavolinya. Pasalnya, mereka sering juara antar sekolah di Kecamatan Porong.
“Memang, dari dulu Kesambi ini diunggulkan kalau urusan lomba Voli,” jelas Nafi.
Hal itu dikarenakan ada sosok guru olahraga bernama Mahmudi, S.Pd yang perhatian terhadap olahraga Bolavoli di sekolah. Sayangnya, guru tersebut tak lama lagi akan pensiun atau purna tugas.
Nafi berharap, nantinya ada pengganti yang setara supaya bisa meneruskan tradisi juara di SDN Kesambi. Sebelum purna, pihak sekolah ingin memaksimalkan dan mengoptimalkan peran Mahmudi. “Kita maksimalkan kemampuan dan peran beliau sekarang,” kata Nafi.
Maski hanya sebagai Plt Nafi ingin menjadikan SDN Kesambi tak hanya unggul tetapi juga tertata dengan perwajahan yang baru. Artinya, menambahkan yang masih belum ada di sekolah dan merawat yang sudah bagus.
Selama sebulan sejak ditunjuk sebagai Plt ia melakukan pemetaan dan evaluasi di sekolah. Selama di Kesambi pun ia tak hanya memimpin tetapi juga mendekatkan diri dengan masyarakat dan pemerintah desa.
“Saya petakan dulu. Yang perlu perbaikan, yang dipertahankan, dan diwujudkan jika belum ada. Intinya di sekolah nyaman,” ujar alumni Guru Penggerak itu.

Hal terpenting lainnya yakni mencari bakat dan potensi anak-anak untuk dimaksimalkan. Selain itu, ia juga akan menggali potensi guru. Pasalnya, guru muda di sekolah tersebut lebih banyak.
Menurutnya, hal itu merupakan nilai tambah untuk mengembangkan sekolah. Karena usia mereka adalah usia produktif untuk berfikir dan bekerja. Apalagi, guru-guru muda lebih familiar dengan teknologi dan sosial media.
“Yang muda tak hanya memiliki kelebihan fisik tetapi juga diharapkan bisa berinovasi dan berani bikin terobosan untuk sekolah,” harap Nafi.
Nafi menambahkan, pasca peristiwa SPMB yang sempat viral Agustus lalu ia merasa sudah saatnya pihak sekolah membangun kedekatan yang lebih erat dengan masyarakat. Pasalnya, SD Negeri adalah sekolah yang besar dan maju bersama warga sekitar.
Selain itu, SD Negeri merupakan cerminan masyarakat setempat. Mulai dari kultur hingga karakternya.
“Kalau masyarakat sekitar sini terkenal dengan home industry alat masak seperti panci dan lain-lain,” terang Nafi.
Karena itu, kemampuan seni kerajinan tangan atau kriya juga jadi unggulan di SDN Kesambi. Potensi dan karakter tersebut diaplikasikan di sekolah, bahkan diikutkan dalam lomba.
Usaha itu juga bagian dari menjalin kedekatan dengan warga dan wali peserta didik.
Nafi pun belajar dari kesalahan SPMB SDN Kesambi tahun ini. Karena itu, ia tak hanya memimpin sekolah tetapi juga menjadi jembatan atau fasilitator kebijakan pemerintah dengan realita masyarakat desa.
Nafi sadar, sebagai kepala sekolah ternyata tugasnya tak hanya mengelola dan menata sekolah saja tetapi juga harus bisa menjalin hubungan dengan warga dan pemerintah desa. Sehingga, selain kemampuan manajerial mengelola sekolah juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi.
Hal itu cukup efektif membantu jika ada permasalahan antara sekolah dengan warga. Sehingga, kemampuan edukasi kepala sekolah harus dilengkapi dengan skill komunikasi dan dedikasi.

“Dari permasalahan kemarin itu saya mencoba berempati. Artinya, mencoba merasakan yang mereka alami,” terang Nafi.
Tak hanya itu, lanjut Nafi, ia juga terus mengawal anak-anak hingga mereka mendapatkan kepastian sekolah. Pasalnya, kegalauan orangtua dikarenakan ketakutan anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah.
“Alhamdulillah, 12 anak yang tidak masuk kuota SDN Kesambi sekarang bisa mendapatkan sekolah. Dan, ada 1 anak yang usianya memang belum memenuhi syarat,” terang Nafi.
Untuk mendapatkan sekolah Nafi berkoordinasi dengan beberapa sekolah di sekitar Desa Kesambi. Di antara sekolah-sekolah itu ada SDN Kebakalan yang menampung 6 anak, MI. Sunan Ampel 1 anak, SDN Gedang 2 menerima 1 anak, dan SDN Juwetkenongo 3 anak.
Meski berada di luar Desa Kesambi para orangtua mengaku senang. Pasalnya, pihak SDN Kesambi berusaha dan berupaya mencarikan dan mengurus kepindahan anak-anak.
“Ada pendekatan, ada komunikasi, dan ada solusi. Dan, yang terpenting lagi menjaga semangat anak-anak untuk bersekolah,” kata Nafi.
Belajar dari permasalahan SPMB tahun ini pihak sekolah akan memetakan calon peserta didik. Pemetaan tersebut dilakukan dengan cara pendataan di sekolah-sekolah TK yang ada di Kesambi.
Sehingga, jumlah kuota penerimaan bisa diperkirakan. Dan hal itu menjadi pertimbangan dalam membuka kuota penerimaan peserta didik.
Nafi pun membenarkan bahwa sebelum ia ditugaskan memimpin sekolah tersebut telah banyak bangunan atau fasilitas baru yang didirikan oleh kepala sekolah sebelumnya. Namun, menurutnya area parkir dan kantin masih perlu revitalisasi. (Nis)








