
Nama sekolah Yos Sudarso memang tak asing di telinga masyarakat Sidoarjo. Tetapi, saat ini lembaga pendidikan itu memiliki 2 sekolah. Yakni Yos Sudarso 1 dan 2.
Kedua sekolah pun terletak di tempat yang berbeda. Sekolah satu berada di pusat kota Sidoarjo, sedangkan sekolah dua berada di Kecamatan Candi.
Kepala SMK Yos Sudarso 2 Dr. Joko Siswanto, M.Pd.I mengatakan, sekolah tersebut mulai beroperasi 2 tahun lalu. Artinya, saat ini masih memiliki 2 angkatan.
Joko menambahkan, antara sekolah 1 dan 2 berbeda. Mulai dari manajerial hingga yayasan atau kepemilikan. “Kalau Yos Sudarso 2 ini yayasannya bernama Asnal Matholib,” tambahnya.
Yayasan tersebut berafiliasi dengan Ma’arif NU Sidoarjo. Sehingga, peresmian sekolah dilakukan oleh Ketua PCNU Sidoarjo H. Zaenal Abidin, M.Pd.
Selain jadi kepala sekolah Yos Sudarso 2, Joko juga masih menjabat sebagai kepala SMK Itaba Gedangan. Tetapi, SMK Yos Sudarso 2 adalah milik yayasan Asnal Matholib. Beda yayasan dengan Itaba.
Berbekal pengalaman mengajar dan memimpin sekolah selama bertahun-tahun memantabkan keyakinan Joko untuk mendirikan atau mempunyai sebuah sekolah. Yos Sudarso 2 jadi pilihannya untuk dibesarkan dan nama tersebut akan dikembangkan di Kecamatan Candi.
“Awalnya, dulu sempat rencana Yos Sudarso 1 dan 2 dimerger. Pasalnya, sekolah tersebut butuh menejemen yang baru,” kata Joko.
Joko pun akhirnya memutuskan untuk mengakuisisi Yos Sudarso 2. Tetapi dengan yayasan yang berdiri sendiri alias lepas dari yayasan sekolah Yos Sudarso 1.
Meski tetap memakai nama Yos Sudarso, sekolah itu memiliki keunggulan dan perbedaan yakni program pembiasan pada pagi hari. Karena berafiliasi dengan Ma’arif, pastinya memiliki program keagamaan khusus ala santri.
“Saat itu coba kita lakukan kajian. Pakai nama baru atau nama lama. Tentunya dengan pertimbangan resiko dan kelebihannya,” kata Joko.
Ia berkeyakinan, meskipun nama Yos Sudarso tidak terlalu besar di masyarakat tetapi nama tersebut telah banyak dikenal dan diketahui. Sehingga, ia bersama pengelola sekolah tinggal menaikkan image dan popularitasnya.
Wilayah Kecamatan Candi juga dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan. Salah satunya, belum ada sekolah kejuaraan yang representatif dan digemari masyarakat dan anak-anak.
Menurut Joko, wilayah Kecamatan Candi merupakan salah satu kecamatan yang padat penduduk. Sehingga, fasilitas pendidikan harus hadir di wilayah yang didominasi kawasan perumahan, tambak, dan sawah itu.

SMK Yos Sudarso 2 pun akhirnya bercokol di wilayah Candi bagian timur condong ke selatan. Letaknya pun berada di sebelah perumahan di Desa Kendalpecabean.
Meski dekat dengan perumahan, target jangka panjang diperluas. Berharap seperti Itaba yang terintegrasi dengan pondok pesantren, SMP, dan SMK.
“Kalau dilihat dari area sekitar sekolah masih leluasa untuk dikembangkan dan diperluas karena masih sawah,” terang Joko.
Untuk jurusan disesuaikan dengan minat anak-anak dan masyarakat. Sebelum menentukan jurusan, Joko mempelajari minat masyarakat di Candi timur. Meski identik dengan pertanian dan tambak masyarakatnya memiliki kecenderungan di bidang teknik.
Karena itu, SMK Yos Sudarso 2 membuka jurusan DKV dan Teknik Kendaraan Ringan. Dua jurusan tersebut terbukti diminati anak-anak. Pasalnya, tahun pertama pihak sekolah menerima 10 peserta didik.
Menariknya, pada tahun kedua jumlah pendaftar meningkat cukup drastis dengan 43 peserta didik baru. Minat tersebut yang mendorong pihak sekolah mentargetkan 150 pendaftar baru di tahun ketiga.
Keyakinan tersebut didapat dari penerimaan pendaftaran di akhir tahun 2025 yang sudah mencapai 40 peserta didik.
Joko mengakui, penerimaan peserta didik baru didapatkan dari anak-anak tahun pertama dan kedua. Artinya, merekalah yang mengajak untuk mendaftar di Yos Sudarso 2.
Karena itu, pada tahun pertama pihak sekolah menerapkan strategi subsidi bagi anak-anak angkatan pertama. Subsidi tersebut masih diterapkan ke angkatan kedua meskipun nominalnya diperkecil.

“Angkatan pertama kita manjakan dengan berbagai program bagus. Tahun ke-2 lebih ringan karena tidak memberlakukan strategi pembiayaan. Ada beasiswa tetapi Nominalnya dibatasi,” terang Joko.
Meski saat ini masih dicukupi secara swadaya olah yayasan, beberapa fasilitas untuk kebutuhan belajar anak-anak telah terpenuhi. Salah satunya komputer grafis untuk kebutuhan desain dan mobil untuk praktek.
Untuk mobil, lanjut Joko, selain jadi media pembelajaran juga sebagai sarana anak-anak untuk latihan nyetir. “Saya ingin semua anak-anak yang lulus bisa nyetir,” katanya.
Meski ada target perluasan dan pengembangan sekolah, pihak Yos Sudarso 2 ingin fokus membesarkan dua jurusan yang ada. Selain itu, image dan brand sekolah jadi prioritas.
“Orang atau anak-anak pilih sekolah karena brand sekolahnya bagus,” tegas Joko.
Ia berkeyakinan, banyaknya murid sebuah SMK ditentukan oleh image sekolah bukan banyak jurusan. Pertimbangan itu ia dapat dari sekolah-sekolah besar yang ternyata jurusannya sedikit.
“Kalau sedikit jurusan, guru-guru bisa fokus. Selain itu efisiensi juga bisa diterapkan,” terang Wakil Ketua PCLP Ma’arif NU itu.
Joko juga menyayangkan masih banyaknya pimpinan SMK yang menganggap banyaknya jurusan menentukan besarnya sekolah. Padahal sebaliknya, karena kebutuhan dipastikan juga besar. Mulai dari tenaga pengajar hingga peralatannya. “Banyak jurusan itu bisa jadi boomerang,” katanya.
Ia juga menegaskan, mind set utama mendirikan sekolah adalah untuk mencetak manusia seutuhnya. Bukan untuk mencetak para pekerja. Pasalnya, jika dihitung kebutuhan industri sebenarnya kecil jika dibandingkan dengan jumlah lulusan.
Karena itu, di sekolah tidak hanya membekali anak-anak kemampuan hidup saja tetapi juga mengarahkan mereka jadi manusia seutuhnya yang cakap spiritual dan intelektual serta mandiri untuk jadi insan yang kuat dan bisa beradaptasi. (Nis)







