
Kecamatan Prambon ternyata menyimpan tim Paskib yang langganan juara. Mereka adalah tim Paskib SDN Wonoplintahan 2. Tim bernama Kopasplinda itu mulai muncul dan menyebet banyak juara sejak tahun 2023.
Kepala SDN Wonoplintahan 2 Sukarto, S.Pd., M.Si menjelaskan bahwa kemunculan tim paskib sekolah itu sejak dirinya menjabat sebagai kepala SDN Wonoplintahan 2. Saat baru menjabat ia merasa sekolah tersebut perlu memiliki ikon yang membawa nama sekolah ke luar.
“Kurang lebih 4 tahun lalu saya menjabat dan saya kembangkan Paskib. Hasilnya bisa dilihat sekarang,” terang Sukarto.
Ia menambahkan, tim paskib sekolah mengawali prestasinya dengan juara harapan. Setelah itu meningkat dengan raihan juara utama, umum, hingga the best.
“Dulu juaranya cuma dapat harapan. Sekarang begitu ikut lomba ke luar bisa bawa pulang 10 tropi,” kata Sukarto.
Ia mengaku, piala sebanyak itu memang sering didapatkan oleh tim-tim bagus yang langganan juara. Pasalnya, setiap Lomba Baris Berbaris (LBB) selalu memperebutkan berbagai macam kategori. Ditambah lagi dengan terbaik individu atau the best untuk personil.
Tak sampai setahuan, Paskib SDN Wonoplintahan 2 berhasil mengumpulkan puluhan tropi juara.
Karena saking seringnya juara di Sidoarjo, tim Wonoplintahan 2 pun memperbayak pengalaman mengikuti lomba di luar kota. Seperti Surabaya, Pasuruan, dan kota-kota sekitar Sidoarjo lainnya. Bahkan, mengikuti LBB se-Jawa hingga se-Jawa Bali.
Sukarto juga menyebutkan, LBB yang digelar institusi selain sekolah pun diikuti. Seperti TNI AL dan Kepolisian. “Kami sempat meraih piala bergilir Lantamal Surabaya, juara I Utama di Polresta Sidoarjo,” terang Sukarto.
Adapun Juara I Utama se-Jawa Bali di pondok pesantren Ngalah Pasuruan. Kemenangan tersebut didapatkan karena pemilihan tema yang tepat. Saat itu, anak-anak memilih tema Sehermania.

“Tema tersebut dipilih karena pas untuk ditampilkan di pondok pesantren,” kata Sukarto.
Tim Paskib SDN Wonoplintahan 2 selain terkenal dengan kekompakan juga memiliki kelebihan menyajikan tema tampilan yang unik. Artinya, tema yang ditampilkan sering mengejutkan juri dan para pesaingnya.
Adapun tema-tema unik lainnya, seperti Bantengan yang juga sempat meraih juara I utama, juara umum, dan 8 the best. Setelah barhasil meraih posisi puncak tema tersebut diganti dengan tema baru yang dirasa sesuai dengan isu-isu terkini.
Karena itu, sempat ada tema Pengangguran. Tema itu juga menarik karena terdapat sesi atau bagian yang mengkritik pemerintah. Raihan tema tersebut juga sempat menyebet Juara Umum, Juara I Utama, dan piala bergilir.
Namun, ungkap Sukarto, dibalik prestasi-prestasi yang diraih dalam perlombaan paskib ternyata tidak bisa dikonversi untuk mendapatkan jalur prestasi. Artinya, tak seperti prestasi olahraga yang bisa digunakan untuk mendapatkan tiket ke sekolah favorit–Padahal, LBB sangat menarik dan menuntut disiplin tinggi selain kekompakan.
“Paskibraka itu nilai positifnya sangat banyak dan bisa mengubah karakter anak jadi lebih baik,” terang kepala sekolah yang juga ketua K3S itu.
Ia menjelaskan, anak paskib di sekolah jadi pembeda dengan anak-anak lainnya. Pasalnya, mereka cenderung lebih disiplin, sopan, pekerja keras, dan memiliki karakter positif lainnya. Karena itulah, sangat layak jika paskib jadi salah satu peminatan yang bisa mendapatkan jalur prestasi.
Karakter positif dari anak-anak didapatkan dari gemblengan saat mereka latihan baris-berbaris. Pasalnya, selama latihan setiap personil dituntut mampu mendisiplinkan diri sendiri.
“Anak-anak tidak diperkenankan ngurusi orang lain. Bereskan dirinya dulu. Kalau masing-masing sudah bagus pasti dampaknya bagus semua,” kata Sukarto.
Sukarto pun mengaku takjub dengan usaha dan kerja keras anak-anak saat latihan. Mereka tak menghiraukan panas siang hari. “Anak-anak kalau latihan totalitas. Jam 1 siang latihan,” ungkapnya.

Melihat semangat anak-anak tersebut akhirnya pihak sekolah memberikan atap jaring di atas halaman sekolah. Jaring tersebut berguna untuk mengurangi terik matahari siang.
Jam latihan anak-anak pun ternyata tidak hanya siang. Pasalnya, menjelang perlombaan mereka juga berlatih hingga malam. Hari latihannya pun bertambah. Yang awalnya dua hari dalam seminggu bisa bertambah hingga setiap hari.
“Kalau latihan normalnya hari Selasa dan Sabtu,” kata Sukarto.
Usaha keras anak-anak, lanjutnya, juga tampak saat akan bertanding. Tak jarang pagi sebelum subuh dan bahkan terkadang dini hari mereka bersiap-siap untuk berangkat ke arena perlombaan. “Pernah setengah 4 pagi mereka sudah berkumpul. Make up dan mempersiapkan propertinya,” jelasnya.
Sukarto mengaku bangga dan mengapresiasi usaha keras anak-anak. Pasalnya, di tengah surutnya suasana kompetisi siswa karena kebijakan pemerintah yang baru anak-anak SDN Wonoplintahan 2 masih berusaha keras untuk bisa bersaing dan jadi yang terbaik.
“Sejak ada zonasi persaingan surut. Dulu anak-anak yang ingin dapat tempat terbaik harus berusaha keras,” ujar Sukarto.
Dari ektrakurikuler Paskib anak-anak mengenal persaingan. Mereka mengerti bahwa zaman saat ini menuntut manusia bisa berkompetisi dan bersaing. Untuk bisa bersaing harus ada usaha keras yang dilakukan.
“Saya sampaikan itu juga kepada para orangtua bahwa menumbuhkan jiwa petarung itu penting,” tegas Sukarto.
Pasalnya, setelah lulus nanti mereka akan dihadapkan pada kondisi zaman yang penuh persaingan. Selain itu, mereka juga dituntut bisa cepat beradaptasi.
Saat inipun, kata Sukarto, persaingan antar sekolah juga terjadi. Jika ingin mendapatkan murid maka image sekolah di masyarakat harus bagus. SDN Wonoplintahan 2 membuktikan hal itu dengan raihan prestasi Paskib.
“Tahun 2025 penerimaan peserta didik baru cukup banyak. Dan rekor penerimaan terbanyak yang pernah ada. Tercatat ada 90 anak yang diterima. Sebelumnya, hanya 50 hingga 60,” kata Sukarto.

Pihak sekolah mewajibkan guru-guru mengunggah berbagai preatasi terutama Paskib ke media sosial sekolah. Setelah itu, membagikan ke grup-grup percakapan yang dimiliki.
Sukarto menegaskan, sebagai kepala sekolah ia juga memikirkan para lulusan. Pasalnya, sejak sistem zonasi diterapkan SDN Wonoplintahan 2 kesulitan mengakses SMPN yang ada di Prambon. “Sebelum ada zonasi anak sini bisa 85 persen diterima di SMPN 1 Prambon,” tegasnya.
Karena pemberlakuan zonasi harapan anak-anak bisa masuk SMPN hilang. Pasalnya, jarak SDN Wonoplintahan 2 ke SMPN 1 Prambon cukup jauh. Meskipun saat ini sudah ada SMPN 2 Prambon.
“Jaraknya sekitar 3500 Meter dari SMPN 1 Prambon. Kalau SMPN 2 Prambon malah lebih dekat dengan Kecamatan Tarik,” terang Sukarto
Harapannya anak-anak untuk bisa masuk sekolah negeri hanya melalui kuota jalur prestasi. Namun, kuota tersebut tidak banyak. Karena prosentasenya 30 persen dari jumlah daya tampung. Kuota 30 persen tersebut juga terdiri dari prestasi akademik dan nonakademik. (Nis)








