Petuah Kiai Sugik: NU = Narik Urunan

Nawawi A. Manan

Gambar ilustrasi.

Oleh: Nawawi A. Manan
Jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus), Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo.

Senin (6/7) sore lalu, ketika melintas di Jalan Pasar Ikan — lokasi markas PC GP
Ansor Sidoarjo era 2000-an — saya teringat pada pesan Almaghfurlah Ketua PC GP
Ansor Sidoarjo Drs. H. Sudirman Aly.

Cak Dirman sering menyampaikan petuah bahwa kedudukan pengurus NU dan banom
setara dengan kedudukan pejabat pemerintah sesuai tingkatannya. Kedudukan ketua
PCNU dan banom tingkat kabupaten/kota sama dengan kedudukan bupati/wali kota.
Kedudukan ketua MWC NU dan ketua banom tingkat kecamatan sama dengan
kedudukan camat.

“Ketua PCNU tidak boleh ndunuk-ndunuk di depan bupati atau wali kota. Jika ada ketua
MWC NU nggreges ketika dipanggil camat, kongkonen mundur ae,” katanya.

Ketika mendengar kabar saya menolak menjadi pengurus salah satu lembaga NU, dia
berkata, “Saya tahu Sampeyan tidak ingin jadi pengurus. Tapi kalau diberi amanat ya
harus dilaksanakan, Cak.”

Saya jawab dengan guyon tapi tegas, “Saya tidak mau dipimpin oleh orang-orang
bermental inferior. Dalam posisi subordinasi, saya bisa kehilangan kreatifitas.”
Dia tersenyum sambil mengembuskan asap rokoknya.

Saya juga teringat pada petuah Bendahara PC GP Ansor Drs. H. Sugiono – sekarang
Ketua MWC NU Porong — bahwa NU juga berarti Narik Urunan. Maksudnya, semua
kader dan warga NU harus siap menyumbang untuk kegiatan NU.

Urunan dari kata “urun” mendapat akhiran “an”. Dalam bahasa Jawa, “urun”
merupakan kerata basa tembung “udhu agawe rukun” (saling membantu bisa
menciptakan kerukunan).

Derajat urunan warga NU tidak sama dengan urunannya warga RT; arti dan dimensinya
sangat luas karena terikat kaidah ushul fiqih: al-umuru bi maqashidiha (semua
urusan/perbuatan tergantung pada tujuan atau niatnya).

Kiai Sugik menyampaikan petuah tersebut dengan mengutip dawuh Al-Maghfurlah
K.H. Anas Al-Ayyubi (Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo 2001-2006) kepada para santrinya,
bahwa orang berjuang kudu sak duwike sesuai perintah Allah SWT dalam Surat At-Taubah 41: …dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.

Tokoh penggerak NU K.H. Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang tuan tanah.
Tanahnya di Jombang, Mojokerto, Surabaya, dan Sidoarjo habis dijual untuk membiayai
perjuangan NU dan perjuangan merebut kemerdekaan RI. Jadi, urunan merupakan
jihad harta warga NU skala lingkup personal.
Urunan sebagai implementasi sifat ta’awun (tolong-menolong), salah satu butir utama
Mabadi Khaira Ummah, pedoman dasar mengandung nilai-nilai utama sebagai langkah
awal pembentukan umat terbaik.

Dasarnya perintah Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 2: Dan tolong-menolonglah
kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kamu tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran. Kerja sama dalam NU bukan simbiosis mutualisme,
hanya berdasar saling menguntungkan, tetapi untuk meningkatkan kebaikan dan
ketakwaan.

Urunan juga berarti sedekah, bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga NU. Sejak
dalam kandungan hingga kembali ke alam kelanggengan, warga NU selalu diiringi
dengan sedekah, dikemas dalam bebagai budaya masyarakat.

Meskipun hasil sensus ekonomi banyak warga NU berstatus dhuafa, tetapi derajatnya
yadul ‘ulya (pemberi), bukan yadis sufla (peminta-minta). Masjid, langgar, madrasah,
dan berbagai tempat kegiatan warga NU di mana-mana dibangun dengan hasil
urunan, bukan uang subsidi yang sering berakibat panitianya berurusan dengan KPK
karena “harus” merekayasa SPJ.

Pada era 1980-an, ketika PC Muslimat NU dan PCNU Sidoarjo mengajak warga NU
urunan untuk mengembangkan RSI Siti Hajar, seorang pedagang kelapa di Pasar
Larangan setiap hari mengumpulkan bikir (serpihan kulit kelapa). Setelah terkumpul
cukup banyak dijual kepada pengepul, hasilnya disumbangkan kepada panitia
pembangunan.

Urunan merupakan ekspresi keikhlasan dan keikhlasan adalah fondasi spiritual
peradaban. Karena itu, saya amat sangat jengkel ketika seorang caleg mengiming-iming dana tetap kepada salah satu MWC NU untuk menghapus tradisi urunan.

NU juga berarti Ngurusi Umat, membantu menyelesaikan berbagai persoalan
masyarakat. Siapa pun memfungsikan NU untuk Nunut Urip dengan Ngadali Ummat,
pasti kualat. Sumprit!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *