Juara Provinsi dan Runner Up Nasional

Tim Voli SMPN 1 Prambon, Sidoarjo.

Usai menerima tropi juara II nasional Jeva Spike Nation 2025 di Bandung, November 2025.

Gelaran Jeva Spike Nation memang selalu dinanti para pecinta voli dan atlet Indonesia. Terutama para pemula yang baru menggeluti cabang olahraga tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak setingkat SMP.

Kejuaraan tersebut selain menjanjikan karir menjadi atlet profesional, juga jadi media untuk mendapatkan jalur prestasi ke sekolah unggulan. Selain itu, hadiahnya pun cukup besar ketika bisa menjuarai tingkat provinsi.

Akhir tahun 2025 lalu juara pertama mendapatkan uang pembinaan sebesar 7,5 juta Rupiah. Selain itu, kebutuhan atlet juga didukung oleh sponsor saat melanjutkan ke tingkat nasional.

Tahun 2025 lalu, Sidoarjo jadi pusat perhatian karena ada 2 tim voli yang berhasil menjuarai kategori kelompok umur antar sekolah tingkat SMP. Menariknya, kedua tim tersebut berasal dari satu sekolah yakni SMPN 1 Prambon (Spenspra).

SMPN 1 Prambon membuat kejutan karena sebelumnya tidak pernah mencapai prestasi itu. Padahal, sejak tahun 2014 pihak sekolah fokus melakukan pembinaan cabang olahraga bolavoli.

Pada laga final Spenspra berhasil menumbangkan 2 kontingen Mojokerto dari dua sekolah berbeda.

Kapten tim putra Spenspra M. Rasya Pratama mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan selama melakoni pertandingan. Pasalnya, hingga di babak final tim tersebut berhasil mendominasi permainan dengan hasil akhir 3-1 atas SMPN Kemlagi Mojokerto.

“Alhamdulillah, tidak terlalu berat. Sejak pertandingan awal bisa meladeni lawan. Dan, strategi tim berhasil,” ungkap Rasya sapaannya.

Sementara itu, tim putri Spenspra harus berusaha mati-matian untuk mencapai final. Pasalnya, di semi final mereka menemukan lawan tangguh asal Situbondo. Beruntungnya bisa menang dengan skor 3-2.

Kapten tim putri Safa Dwi Ramadani menjelaskan, semi final terasa seperti final. Pasalnya, selalu terjadi kejar mengejar poin. Sehingga, tensi pertandingan tinggi sejak awal hingga akhir.

Kondisi serupa terulang kembali saat di final menghadapi SMPN 4 Kota Mojokerto. Selisih poin setiap pertandingan selalu ketat.

“Mulai semi final dan final berat tapi seru,” ungkap Safa.

Safa merasa kemenangan tersebut berkat usaha keras tim selama latihan di sekolah, klub, dan di rumah. Pasalnya, di tiga tempat tersebut beberapa kemampuan diasah.

Ia menjelaskan, dalam tim Spenspra terisi pemain dari berbagai klub. Tiap-tiap kemampuan dari mereka berbeda-beda. Dan teman bermain mereka pun berganti-ganti, sehingga butuh tempat untuk bermain bersama.

Karena itu, lanjut Safa, sekolah adalah tempat terbaik untuk bertemu, bermain bersama, dan membentuk chemistry antar pemian. Dan, yang terpenting adalah menata strategi bertanding.

“Latihan di sekolah hari Rabu dan Jumat. Latihan kekompakan saja selama 2 hingga 3 jam,” terang Safa.

Kepala SMPN 1 Prambon Yekti dan guru olahraga diapit kapten tim Spenspra putra dan putri.

Sementara di rumah, setiap anak melakukan rutinitas mematangkan kemampuan dan melatih fisik. Hal itu untuk menunjang ketika bertanding melawan musuh yang seimbang.

Spenspra juga diuntungkan dengan beberapa kali pertandingan sebelum gelaran Jeva Spike Nation. Di antaranya kejuaraan di Mojokerto di Perguruan Taman Siswa dengan hasil juara pertama putri maupun putra. Mereka juga membawa pulang piala bergilir.

Ditambah lagi raihan lainnya seperti Liga Voli Kabupaten tahun 2025. Tim putra berhasil meraih juara pertama dan tim putri jadi runner up.

Perolehan juara tak berhenti di kejuaraan itu. Kejuaraan terbuka antar SMP dan MTs sejatim pun sempat berhasil diraih. Yakni dengan membawa pulang tropi juara II.

Sementara itu, saat turnamen sejatim di SMAN 1 Wonoayu Spenspra putra dan putri berhasil menduduki posisi puncak. Sejak saat itu, nama Spenspra selalu diperhitungkan dalam setiap pertandingan.

“Kalau persaingan antar sekolah di Sidoarjo ada 3 tim. SMPN 1 Tanggulangin, SMPN 2 Sidoarjo, dan kami,” jelas Rasya.

Namun, kedua tim tersebut tidak berhasil melaju ke Jeva Spike Nation tingkat provinsi tahun 2025.

Pada Jeva Spike Nation tahun ini pula penghargaan untuk para pemain terbaik juga diberikan kepada tim Spenspra. Terdapat 6 pemain berhasil meraih penghargaan best individual player. Salah satunya Rasya yang meraih MVP.

Nasib baik juga dirasakan Safa. Pasalnya, ia telah diterima klub voli profesional Samator. Maski harus pulang pergi berlatih di Surabaya ia marasa klub voli Proliga tersebut memberikan banyak pengalaman. Salah satunya bisa bermain dengan pemain nasional.

“Senang sekali saat ikut seleksi dan ternyata di terima,” ungkap Safa.

Ia pun saat ini jadi pemain yang harganya cukup mahal. Jika ada tim ingin memanfaatkan jasanya harus bersiap membayar dengan harga ratusan ribu Rupiah untuk sekali pertandingan.

“Istilahnya dibon. Lihat jaraknya juga. Pernah diajak main ke Jember sama Lumajang dibayar 850 ribu,” ungkap gadis berposisi opposite itu.

Gadis yang mulai jadi pevoli sejak kelas 6 itu mengaku, sering diajak main tarkam atau gala desa. Selain untuk mencari pengalaman juga ingin kenal dengan dunia voli profesional.

Akhir tahun 2025 tim putra dan putri Spenspra menutup tahun dengan torehan membanggakan. Pasalnya, kedua tim tersebut meraih juara II nasional Jeva Spike Nation di Bandung akhir November lalu.

Tim putra harus puas dengan skor 3:1 saat meladeni SMP Pasundan. Sementara itu, tim putri harus menelan pil pahit saat lawan SMPN 1 Cicalengka. Tim putri ditekuk tanpa perlawanan dengan skor 3:0.

Menurut Safa, dari awal kekuatan tim lawan tidak bisa diprediksi. Yang diketahui cuma beberapa pemain yang sering muncul di televisi. Pasalnya, para pemain yang bertanding di Jeva Spike Nation mewakili sekolah, bukan klub.

“Pastinya sulit mengukur kemampuan tim. Karena tim sekolah tidak pernah muncul di televisi,” terang Safa. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar