Mengenal Sidoarjo Lewat Lagu

Imam Musta'in

Ada hal menarik saat kita berselancar di internet atau di youtube untuk mencari lagu khas Sidoarjo. Di sana kita akan menemukan beberapa karya seperti Lagu Daerah Sidoarjo Dewi Sekardadu, Lontong Kupang, dan beberapa lagu yang menyebut cirikhas atau karakter Kota Delta.

Salah satu akun yang memposting karya-karya tersebut bernama Imam Musta’in Channel. Ternyata, akun itu milik seorang guru SMPN 2 Sedati yang namanya sesuai dengan nama channel tersebut.

Beberapa lagu lain yang tentang Sidoarjo dan tutorial bermain musik juga ada di channel Imam Musta’in. Selain itu, juga terdapat aktifitas kelas peminatan seni musik di SMPN 2 Sedati.

Saat ditemui ia menjelaskan bahwa ia seorang guru seni budaya SMPN 2 Sedati sejak 2009. Namun, saat kurikulum Merdeka diterapkan, ia fokus mengajar seni musik.

Inspirasi membuat lagu bertemakan Sidoarjo berawal dari tahun 2016. Saat itu ia sedang mencari lagu daerah atau lagu tentang Sidoarjo di internet. Tetapi, tidak pernah menemukan. Akhirnya, pada 2017 ia berinisiatif menulis lagu tentang Sidoarjo.

Keberadaan lagu tersebut tidak dikomersilkan atau dijual. Hanya sekedar ingin mengenalkan Sidoarjo lewat musik dan lagu. Selain itu, peruntukannya juga untuk internal SMPN 2 Sedati.

“Anak-anak saya wajibkan bisa. Karena Sidoarjo banget. Selain itu dipakai untuk berbagai kegiatan anak-anak lainnya seperti musik untuk iringan tari,” terang Imam.

Dengan adanya lagu-lagu tentang Sidoarjo Imam berharap anak-anak mengerti Kota Delta lebih mudah. Selain itu, bisa promosi daerah dengan cara bernyanyi. Serta, untuk mendukung keberhasilan pembelajaran seni dan budaya.

Menurut Imam kurikulum Merdeka membantu memaksimalkan potensi anak, termasuk anak-anak yang memiliki bakat seni. Pasalnya, kurikulum tersebut memberi kesempatan anak memaksimalkan potensi nonakademik di sekolah.

Artinya, pembelajaran yang dulunya kaku dan monoton berisi teori-teori belajar di kelas berubah dan berkembang dengan diselipkan materi minat bakat.

“Saya dulu guru seni budaya. Ada seni musik, teater, rupa, dan lainnya. Sejak Kurikulum Merdeka cabang seni itu difokuskan,” kata Imam.

Sehingga, saat ini ia fokus mengajar seni musik. Pelajaran tersebut jadi bagian dari pembelajaran intrakurikuler, artinya masuk pada mata pelajaran peminatan. Dan anak-anak menempuhnya selama satu fase, mulai kelas 7 hingga 9.

“Nanti saat fase berakhir ada tampilan anak-anak musik,” jelas Imam.

Ia menambahkan, pembelajaran musik yang ia berikan berdurasi 120 menit setiap minggu. Artinya, 3 jam pelajaran. Selama mengajar di SMP itu melakukan beberapa penyesuaian dalam pembelajaran.

Meskipun kelas peminatan, materinya berbeda dengan sekolah musik. Selama di kelas ia membagi porsi 85 persen praktek dan 15 persen teori.

Keseharian di ruang musik SMPN 2 Sedati.

Menurut Imam, anak-anak masih kesulitan memahami teori-teori musik. Pasalnya, menggunakan bahasa asing. “Lebih mudahnya kita praktekkan dulu kemudian dikasih tahu namanya. Itu lebih mudah untuk anak-anak,” katanya.

Ia menganggap porsi tersebut cocok dan efektif untuk diterapkan. Pertimbangannya yakni bakat atau pemahaman, dukungan, hingga keseriusan belajar setiap anak berbeda.

Apalagi, kata Imam, anak-anak harus membaca not balok atau partitur. Hal itu dipastikan akan membutuhkan waktu yang tak singkat. Dikhawatirkan, waktu mereka mengasah skill hilang karena harus memahami teori.

Tetapi, ia mempersilahkan bagi anak-anak yang ingin serius belajar musik untuk belajar dengan porsi melebihi yang diajarkan di sekolah. “Kalau ada yang ingin serius bermusik malah bagus. Bisa mengawali dari sekarang. Karena membaca not balok itu butuh proses,” tuturnya.

Imam menambahkan, target pembelajaran di sekolah bukan teori-teori yang harus dikuasai seperti di sekolah musik atau di perguruan tinggi. Target minimalnya yakni mereka bisa memainkan lagu secara utuh kemudian ditampilkan.

Selain itu, materi yang diberikan akan ditambahkan jika sudah dikuasai. Artinya, materi pelajaran akan bertambah dengan syarat harus menguasai materi sebelumnya.

“Yang cepat bisa saya tambahkan materinya. Yang belum harus tetap di materi sebelumnya,” tegas Imam.

Imam pun mengaku, keberhasilan kelas peminatan tersebut masih belum maksimal. Jika dihitung hanya sekitar 25 persen dari jumlah keseluruhan anak-anak di kelas peminatan yang layak untuk ditampilkan.

Meskipun, terang Imam, saat awal penjaringan kelas peminatan pihak sekolah melakukan seleksi.

Ia menambahkan, dalam bermusik tidak cukup dengan modal bakat saja. Banyak dukungan yang dibutuhkan, seperti alat musik yang harus dimiliki untuk latihan di rumah dan porsi latihan berjam-jam selama sehari.

Pria asal Blitar itu mengaku, untuk memenuhi kebutuhan bermusik pun dibutuhkan biaya yang cukup besar. Pasalnya, harga alat musik bervariasi tergantung kualitasnya. Mulai ratusan ribu hingga puluhan juta.

Karena itu, pihak sekolah berkewajiban memberikan dukungan berupa menyediakan alat-alat musik di sekolah. Hal itu untuk meringankan anak-anak yang ingin latihan musik tetapi tidak memiliki alat musik di rumah.

“Kalau ingin bakat mereka maksimal harus punya alat musik sendiri. Karena bermusik itu prosesnya panjang,” ungkap Imam.

Saat ini kelas peminatan SMPN 2 Sedati cukup banyak. Terdiri dari 2 kelas untuk kelas 7, 3 kelas untuk kelas 8, dan 5 kelas untuk kelas 9. Untuk kelas 7 anak-anak dibebaskan memilih alat musik yang ada di sekolah.

Setelah itu mereka akan dipantau perkembangannya. Jika tidak ada perkembangan atau tidak mencapai target yang ditentukan maka akan dialihkan ke alat musik lainnya hingga ia menemukan alat musik yang paling cocok.

Selain dibina satu per satu, anak-anak juga dibuatkan grup. Mereka akan dikumpulkan untuk membentuk ensemble kecil dengan minimal terdapat aspek melodis, ritmis, dan harmonis. (Nis)

Sedang mengajar kelas musik di SMPN 2 Sedati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *