Panen Amplop

Oleh Nawawi A. Manan

Gambar ilustrasi.

Pembina Lesbumi PC NU Sidoarjo, Jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).

Di hamparan padi menguning dengan variasi lajur hijau, puluhan orang bekerja sesuai peran masing-masing. Para perempuan memotong tangkai padi satu per satu dengan ani-ani. Bapak-bapak mengumpulkan, mengikat dengan tali pelepah pisang, lalu mengusung ikatan padi beriringan melalui pematang.

Karena terik sinar matahari dengan berbagai tampilan fatamorgana, suara gemerisik gesekan dedaunan akibat tiupan angin, dan kicau burung manyar di kejauhan, areal persawahan pada musim panen menjadi lanskap sangat indah dan memancarkan harmoni kehidupan masyarakat desa.

Dalam lagu Pesta Panen ciptaan M. Aby dirilis 1980, Elvy Sukaesih berseru:

Betapa senang rasa hati
Di hari yang bahagia ini
Semua kita bergembira
Menyambut pesta panen ini
Hilanglah semua perasaan lelah
Mari, marilah kita menari bersama

Setelah melalui musim tanam, perawatan, dan beberapa tahapan pengerjaan melelahkan, panen adalah saat yang ditunggu dan sangat menyenangkan. Musim panen membawa petani ke etape kehidupan baru.

Mereka bersyukur dengan membayarkan zakat harta dan bersedekah makanan, di antaranya dengan melakukan tradisi wiwitan atau miwiti, mulai memanen padi dengan berkenduri sebagai persembahan kepada Dewi Sri – Dewa pemberi kesuburan dan kemakmuran: Allah SWT.

Akibat perubahan kebijakan ekonomi dari swasembada ke sistem pasar bebas sejak era 1980-an, petani kelimpungan karena penguasa orde baru secara bertahap mengurangi subsidi. Biaya produksi semakin mahal, sedangkan harga jual hasil panen tidak stabil.

Dalam penen raya — padi dan semua jenis tanaman — terdapat sisi getir karena harga barang pasti anjlok akibat permainan tengkulak. Penen raya yang paling menyenangkan adalah ‘panen amplop’; dan pesta paling menyenangkan bukan pesta panen, melainkan ‘pesta demokrasi’.

Istilah “panen” untuk menyebut pembagian amplop politik muncul pada era reformasi dalam setiap kontestasi, termasuk di lingkungan NU. Komentar Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng Dr. K.H. A. Musta’in Syafi’ie, bahwa Muktamar NU sebagai masa panen raya bagi PCNU, adalah legitimasi bahwa Muktamar NU sudah bergeser dari fondasi peradaban dibangun para muassis.

Dalam Muktamar Cipasung 1996, Gus Dur hampir dikalahkan oleh Abu Hasan karena PWNU dan PCNU lebih senang panen amplop daripada mempertahankan NU dari intervensi rezim orde baru dengan memilih Gus Dur.

Panen amplop dalam forum-forum musyawarah NU semakin lama semakin jelas dan terang-terangan, tetapi nyaris tidak pernah dibahas dalam forum bahtsul masail, sehingga statusnya otomatis menjadi ijma’ bilaa syuraa (kesepakatan tanpa musyawarah).

Ketika PC GP Ansor Sidoarjo bermarkas di Jalan Pasar Ikan, saya pernah memancing para yunior untuk mendiskusikan masalah tersebut. Pembicaraan sangat seru karena semua pendapat berdasar dalil ‘aqli dan dalil naqli. Saya hanya jadi pendengar karena tidak punya dalil.

Ketika diminta menyampaikan pendapat, saya mengutip pepatah Jawa amat sangat sarkastis, “Manungsa kaya dene kirik, tansah manut marang wong kang menehi daging.”

Mereka tertawa cekikikan.

“Konsekuensinya, Cak?” tanya si A.
“Wujuduhu ka ‘adamihi,” jawab si B.
“Hayatuhu ka mautihi,” tambah si C.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *