
Oleh Nawawi A. Manan
Instruktur Wilayah PKPNU Jawa Timur.
Ketika pulang dari kantor penerbit buku di kawasan Kenjeran, Surabaya, pada akhir 2016, penulis naik angkot Kenjeran-Jembatan Merah. Kondisinya sudah tua tapi tak tampak rapuh karena terawat.
Sopirnya berusia sekitar 40 tahun. Kumisnya agak tebal, rambutnya sebahu berbelah tengah dengan bagian bawah melengkung seperti rambutnya Caca Handika – pedangdut yang namanya melambung melalui lagu Mandi Kembang.
Sambil melajukan angkotnya 20 km per jam, Caca bercerita bahwa jumlah penumpang semakin surut akibat derasnya sepeda motor. Pendapatan sopir angkot pun terus menurun, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Karena semakin sepi, teman-teman saya banyak yang sudah beralih profesi,” kata Caca.
“Apakah Anda juga akan beralih profesi,” tanya penulis.
“Pasti, Mas,” jawab Caca mantap.
Caca menceritakan, dulu ia tidak pernah bercita-cita jadi sopir. Ia meninggalkan kampung halamannya di Madura untuk menjadi kuli bangunan. Setelah proyeknya selesai, ia diajak temannya menjadi kernet angkot, kemudian dipercaya menjadi sopir.
Ketika akan belok kanan di pertigaan Jalan Gembong, di depan ITC Mega Grosir, Caca menginjak pedal rem dengan kuat sambil membaca istighfar karena dari arah kiri meluncur sebuah mobil hitam dengan cepat.
“Sebenarnya saya tidak salah karena posisi mobil saya sudah agak ke tengah, tetapi saya harus menghindari benturan karena polisi akan menyalahkan saya,” kata Caca.
“Kenapa?” tanya penulis.
“Polisi selalu membela orang berduit, Mas. Kalau membela sopir angkot mereka tidak dapat apa-apa,” jawab Caca sambil tersenyum kecut.
Karena itu, lanjut Caca, para sopir angkot berusaha menghindari urusan dengan polisi. Dalam perjalanan mereka selalu bersikap mengalah.
Setelah Caca mengakhiri ceritanya, penulis menceritakan pengalaman membantu seorang keponakan berurusan dengan polisi karena kredit macet, Rp 75 juta. Kreditornya menagih dengan melaporkan keponakan penulis kepada polisi. Setelah uang tersebut dibayar lunas dengan mencicil 3 kali, polisinya minta Rp 10 juta dengan kalimat kasar. Karena sudah tidak punya uang, keponakan penulis minta agar penulis menemui sang polisi.
“Aku sudah siap gelut, Mas. Untungnya, dia tidak datang,” kata penulis.
“Sampeyan kok berani melawan polisi?” tanya Caca.
“Karena sudah terjepit, Mas. Wong keponakanku wis bangkrut kok sik diperes, yo tak lawan,” jawab penulis.
“Sampeyan duwe cekelan opo?” tanya Caca.
“Aku anggota GP Ansor Sidoarjo, balak-balik digembleng tapi gak tau gelut. Ono wong nantang yo tak ladeni, Mas.”
Caca tertawa ngakak.
Ketika terdengar berita dari radio tentang OTT terhadap seorang pejabat tinggi di salah satu Kementerian, Caca mengurangi kecepatan kendaraannya dan mendengarkan berita dengan serius.
Setelah mendengarkan berita, Caca mengatakan bahwa saat ini yang melakukan pencurian bukan orang miskin, melainkan orang-orang kaya. Pada zaman dulu, pengambilan hak orang lain dilakukan oleh para maling, copet, atau rampok karena terpaksa akibat himpitan ekonomi. Sekarang maling-copet-rampok nyaris tidak ada, tetapi korupsi meraja lela.
“Para pejabat yang dibayar dengan uang rakyat untuk menyejahterakan rakyat justeru merampok uang rakyat. Konyol sekali bangsa kita ini,” kata Caca.
Caca juga mengatakan keheranannya karena korupsi dan berbagai pelanggaran hukum juga dilakukan elit politik berlatar belakang pendidikan agama atau orang-orang yang menguasai pengetahuan agama, dalam ekskutif maupun legislatif. Caca menyebut seorang tokoh muda partai berbasis agama dari Jawa Timur terlibat kasus korupsi di Kementerian yang dia pimpin.
“Dalam urusan rejeki dan jabatan, kelakuan semua orang sama, yang berbeda hanya partai dan penampilannya,” kata penulis.
“Betul, Mas,” kata Caca.
Setelah berhenti sejenak di depan Pasar Atom membeli segelas teh dan rokok eceran, Caca bercerita bahwa pada setiap pelaksanaan pilkada dan pileg dia menjadi anggota tim sukses. Yang menarik, dia tidak hanya mendukung seseorang. Dan, uang atau sembako dari siapapun ia terima, ia bagikan kepada para fakir miskin.
Nawaitunya tidak menyukseskan para caleg, tetapi mencari rejeki untuk membantu orang lain. Dia hanya mengambil bagian untuk membeli rokok dan mentraktir teman-temannya di warung kopi.
Caca tidak pernah memberikan uang politik kepada istrinya karena menganggap uang politik bukan termasuk rejeki halalan thayyiba. Uang yang dia gunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari hanya rejeki yang dia peroleh sebagai sopir angkot dan rejeki yang jelas-jelas halal.
“Saya tidak ingin melihat anak istri saya disiksa di neraka karena makan rejeki tidak halal. Aku iki wong bejat, tapi yo mikir akhirat,” kata Caca.







