Menang tanpa Training Center

Tim sepakbola Porprov Sidoarjo usai penyerahan medali emas.

Porprov 2023 yang digelar di Sidoarjo September lalu menorehkan prestasi membanggakan bagi tuan rumah Sidoarjo. Pasalnya, tim sepakbola putra dan putri berhasil meraih medali emas.

Salah satu pelatih sepakbola putra Sidoarjo Kodari Amir menjelaskan, keberhasilan tim Sidoarjo kali ini berkat mentalitas pemain yang dari awal penjaringan sudah terasah.

“Saya merasakan, mental anak-anak kali ini sangat bagus dan layak untuk menang,” jelas Amir.

Saat latihan mereka tampak bersemangat karena pertandingan berada di Sidoarjo. Sehingga, keinginan menjadi juara sangat kuat.

Hal itu tampak saat penjaringan dan seleksi dilaksanakan. Ada sekitar 30 klub sepakbola Sidoarjo antusias mengikuti. Tak ketinggalan pula pemain-pemain yang berasal dari Liga 3.

“Selama kurang lebih seminggu kita adakan seleksi,” ungkap Amir.

Dalam seleksi tersebut, kata Amir, diambil 250 terbaik. Kemudian diseleksi lagi hingga menyisakan 30 pemain. Bahkan, tim seleksi menerapkan promosi degradasi kepada pemain.

Setelah itu, ke-30 pemain tersebut menjalani training center selama 15 hari. Namun, sebelumnya hampir 6 bulan mereka menjalani latihan intensif di stadion Jenggolo Sidoarjo.

“Tidak ada TC, cuma mereka masuk mes pemain selama 15 hari sebelum pertandingan,” terang Amir.

Amir mengaku, keberhasilan anak asuhnya didapat dari latihan rutin yang digelar setiap hari. Mereka menerapkan disiplin ala pemain profesional sebelum menjalani pertandingan.

Namun, ungkap Amir, bukan berarti tidak ada kendala. Pasalnya, sempat ada ketidakjelasan pelaksanaan Porprov di Sidoarjo. “Kami dan pemain-pemain sempat bingung, karena awalnya Porprov kabarnya dilaksanakan bulan Juli,” ungkapnya.

Karena itu, sempat ada pemain yang mengurungkan diri untuk membela Sidoarjo, dan kembali ke klubnya. Pemain tersebut adalah pemain profesional yang sudah terikat kontrak dengan klub Liga 3.

“Sempat ada 4 pemain bagus yang memilih absen, karena harus membela klubnya di Liga 3,” ungkap Amir.

Untungnya, kata Amir, kualitas pemain pelapis juga bagus. Karena di klubnya mereka juga menjadi pemain andalan.

Tetapi, kata Amir, dalam permainan sepakbola mental jadi penentu keberhasilan. Pasalnya, jika bermasalah dengan mental, pemain harus melawan dirinya sendiri.

“Berbagai hambatan dan kondisi yang ada, tak menyurutkan semangat para pemain. Tetapi jika berkenaan dengan mental, dikembalikan lagi kepada pemain,” ujar Amir.

Apalagi, tim sepakbola Sidoarjo merupakan tim yang selalu menjadi langganan berlaga di babak final. Namun, selama ini harus puas membawa pulang medali perak.

“Dari 7 kali gelaran Porprov Jatim, 4 kali kami masuk final,” terang Amir.

Untuk membentuk mental tim Sidoarjo pihak pelatih menggelar uji coba dengan tim liga 1. Tercatat ada Persebaya Surabaya dan Arema Malang.

“Membentuk mental ya harus meladeni tim-tim kuat,” kata Amir.

Tim pun dituntut memainkan formasi yang berbeda-beda. Pasalnya, itu menjadi bagian dari strategi bermain dan menghadapi formasi yang dimainkan lawan.

“Saat bertanding kita pakai formasi 442. Tetapi, tidak ada formasi baku yang dimainkan saat latihan, bisa ganti-ganti,” terang Amir.

Porprov yang digelar di Sidoarjo tahun ini disempurnakan dengan mendapatkan emas di cabang olahraga sepakbola di nomor putra dan putri. Meskipun Sidoarjo harus puas dengan peringkat 2 perolehan medali, kesuksesan di sepakbola menjadi capaian baru yang belum pernah dipecahkan.

Amir pun mengakui, sebelum bertanding ia bersama official sepakbola menerima mandat cukup berat dari Bupati Sidoarjo. Bupati tidak mempermasalahkan Sidoarjo berada di peringkat 4 besar perolehan medali, namun untuk sepakbola harus dapat emas.

“Sepakbola ini target Gus Bupati. Ditambah lagi kami harus mengawinkan sepakbola putra dan putri. Dan, alhamdulilah tahun ini terwujud,” terang Amir.

Meskipun ia menerima tugas berat yang langsung diberikan oleh bupati, Amir merasa yakin dengan materi pemain yang ia miliki.

“Ukurannya mental, karena kalau skill saya rasa tidak beda jauh dengan tim lainnya,” kata Amir.

Semangat pemain juga bertambah dengan banyaknya penonton yang hadir pada laga final. Tak hanya itu, beberapa talent coaching dari klub besar Indonesia juga turut hadir.

Kata Amir, mereka sengaja hadir pada laga tersebut dengan tujuan mencari bibit pemain muda berkualitas untuk membela klub mereka. “Salah satunya yang saya tahu ada dari Arema dan Kaltara,” katanya.

Informasi yang didapat dari beberapa pemain, ada 8 anak yang diminati oleh klub professional. Selain itu, pihak pemerintah kabupaten juga memberikan bonus kepada para pemain senilai 100 juta dan paket tour ke Bali.

“Akhirnya, kerja keras kami membuahkan hasil. Saya salut sama tim pelatih dan pemain yang selalu menjaga kekompakan dan saling mendukung dan menguatkan,” kata Amir.

Artinya, selama berproses tidak pernah sedikitpun ditemukan perasaan iri atau kecemburuan sosial para pemain saat mereka tidak dimainkan. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *