
H. Muflich Hasyim, punya cara unik menikmati masa-masa menjelang purna tugas. Ia menganggap masa-masa mendekati akhir jabatan merupakan kesempatan berharga untuk semakin giat berbuat. Ia pun membuat opsi untuk dirinya sendiri, yakni mengakhiri jabatannya dengan Khusnul Khotimah atau sebaliknya.
“Saya anggap ini masa akhir saya. Saya ingin mengakhiri dengan husnul hotimah,” tegasnya sebelum pensiun.
Husnul hotimah memiliki makna sebuah akhir usia yang baik. Mendekati masa pensiun yang saat itu kurang 5 bulan lagi, ia ingin menjadikan jabatannya berarti bagi dirinya dan banyak orang.
Layaknya seperti orang yang mendekati tutup usia, yang selalu ingin mengisi hari-hari dengan kebaikan.
“Semakin dekat dengan masa pensiun semakin ingin banyak berbuat untuk sekolah,” tegas kepala sekolah yang juga motivator sekolah inklusi itu.
Muflich Hasyim merupakan kepala sekolah berprestasi yang dimiliki Sidoarjo. Meski prestasinya sudah mencapai tingkat nasional, ia tak ingin puas dan berhenti.
Selama memimpin SMPN 4 Sidoarjo, tercatat 2 kali menerima penghargaan dari presiden RI. Selain itu, penghargaan sebagai kepala sekolah pendidikan inklusi terbaik.
Meski masa jabatannya hanya kurang lebih 1 tahun di SMPN 3 Sidoarjo banyak perubahan yang ia lakukan. Ia bersama-sama warga sekolah memperbarui masjid sekolah. Selain itu perpustakaan, ruang konseling, tata usaha, taman, redesain ruangan, dan beberapa perbaikan dinding tak luput dari perhatiannya.
Ruangan-ruangan yang dulunya tertutup sekarang berubah menjadi terbuka. Kedekatan dengan peserta didik pun ia jalin saat jam pelajaran kosong.
Selain itu, ia ingin menjadi teladan bagi warga sekolah dalam hal berinfak dan bersedekah. Ia sering memulai memberikan sumbangan sebelum ada orang menyumbang.
“Kalau tidak dimulai, kapan sedekahnya,” jelasnya.
Selama ini banyak yang tidak paham tentang pungli, sehingga berdampak pada ditiadakannya uang sumbangan sosial.
Muflich mengaku banyak mendapatkan apresiasi positif dari wali peserta didik atas program infak dan sedekah yang ia jalankan di sekolah. Pembangunan masjid yang saat ia kerjakan banyak mendapat sumbangan yang jumlahnya diluar perkiraan.
Program infak sedekahnya pun tidak hanya diperuntukkan untuk pembangunan masjid saja. Ia menganggap bahwa pembangunan karakter dan akhlak tak hanya dibangun di masjid saja, tetapi bisa dilakukan di mana saja. Karena itulah pihak sekolah ingin menyalurkan dana infak dan sedekah untuk pemenuhan fasilitas dengan pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel serta tepat sasaran.
“Agama itu tidak hanya di masjid saja. Membangun kelas sama dengan membangun masjid, karena kebaikan juga diajarkan di kelas. Bertakwalah engkau di mana-mana” tegas Muflich.
Basic pendidikan madrasah juga pernah diterima Muflich. Hal itu berpengaruh dalam mengambil sikap dan kebijakannya. Ketegasannya lantaran memang gambaran ideal yang dikaji dari sudut pandang sosial keagamaan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia.
Bagi Muflich tidak ada kata santai menjelang pensiun. Prinsip itu ia pegang teguh. Sehingga untuk datang ke sekolah pun ia harus berangkat pukul 5 pagi hari.
Sebagai seorang pimpinan ia ingin memberikan teladan dan etos kerja melebihi siapa pun yang ada di sekolah. Usaha yang ia lakukan merupakan apa yang seharusnya seorang pimpinan lakukan.







