Pernah Sutradarai Para Pejabat

Mulyono Maksim.

Minimnya apresiasi terhadap para pekerja seni tak menyurutkan semangat mereka untuk terus menghasilkan karya. Mereka terus mencoba konsisten di era pra, saat, dan pasca. Terutama saat pandemi yang tak memperbolehkan menggelar pertunjukan secara langsung.

Padahal, seni pementasan tidak akan sukses jika tidak disaksikan banyak orang. Karena targetnya menginspirasi melalui pesan yang disampaikan dalam peran.

Hal itulah yang dirasakan Mulyono Muksim, seorang guru teater yang hingga saat ini masih istikomah menjalani aktivitas mengajar teater di beberapa sekolah.

Mulyono menjelaskan, sebelum pandemi dirinya sempat menerima banyak tawaran untuk mengajar teater di sekolah-sekolah. Bahkan, sempat mengajar 9 sekolahan. Namun, seiring dengan perumbahan tuntutan saat ini ia hanya mengajar di 3 sekolahan.

“Dulu sempat ngajar 9 sekolahan. Dan tawaran dari sekolah-sekolah juga ada belum sempat diterima,” ungkapnya.

Ia juga sempat merasakan padatnya jadwal pementasan mulai dari lomba hingga pertunjukan biasa. Namun, kondisinya berubah dan ditambah dengan adanya pandemi. 

Peraih penghargaan Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo sebagai Kreator Bidang Seni Teater itu mengatakan bahwa teater sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Namun, hal itu masih belum tersampaikan. Apalagi, teater sangat bermanfaat untuk membangun karakter anak.

Jika hal itu dipahami oleh sekolah-sekolah, orangtua, dan pemangku kebijakan pendidikan lainnya pastinya seni bermain teater digemari di banyak sekolah. Penghargaan kepada guru dan anak-anak pemain teater pastinya bisa dimanfaatkan untuk masa depan pendidikan.

Masyarakat pun dapat menikmati pertunjukan dan penampilan anak-anak di banyak tempat. Yang pasti nilai-nilai edukasi bisa tersampaikan kepada mereka.

Pasalnya, teater tidak hanya seni peran saja. Ada pesan penting yang ingin disampaikan dalam setiap pementasan. Hal itu terbukti dengan ekspresi masyarakat saat menyaksikan pementasan dan pertunjukan teater.

Cak Mul, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa masyarakat juga butuh media lain untuk menyadarkan dan membuka wawasan mereka. Teater dapat menjadi media alternatif dalam membuka dan membangun kesadaran.

Ia mengatakan bahwa dalam pembuatan naskah dan gerak serta mimik peran butuh kontemplasi. Artinya, pemikiran dan emosi untuk ditampilkan harus menjadi cermin kejadian sesungguhnya.

“Sebagai sutradara saya juga memikirkan bagaimana aktor mengungkapkan, bagaimana ia membuat gerakan. Itu semua membutuhkan pemikiran dan inspirasi,” kata Cak Mul.

Bahkan, ia mengakui sempat belajar dan membaca kitab suci agama lainnya. “Saya sempat membaca kitab Injil perjanjian lama dan perjanjian baru saat ngajar di Santa Maria. Itu demi mencari pesan yang disampaikan kepada masyarakat,” akunya.

Dari pementasan anak-anak Santa Maria Mulyono sempat menerima tawaran untuk membuat naskah cerita tentang masuknya Katholik ke Indonesia. Terutama awal mula Katholik di tanah Jawa.

Cak Mul mengatakan bahwa naskah tersebut sudah jadi. Isinya antara lain perjalanan pastur dan suster hingga mereka harus mendiami rumah di Trawas yang saat ini masih digunakan untuk kajian dan pendalaman keagamaan.

Pria yang sempat menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur tahun 2018 lalu mengaku bahwa ia mendapatkan penghargaan itu karena memiliki sebuah masterpiece yang menurut tim penilai lebih baik dibanding karya-karya lainnya. Karya itu adalah Drama Kolosal K.H. Mukmin.

Dari drama kolosal itulah sosok Mulyono Muksim menjadi perhatian pemerintah dan para seniman di Jawa Timur. Pasalnya, baru kali itu ada drama kolosal yang pemerannya adalah para petinggi dan pejabat pemerintah.

Tak hanya menjiwai peran yang diberikan Cak Mul, mereka seolah terbuai dengan arahan yang diberikan Sang Sutradara. Para pejabat itu juga bersedia menjalani latihan selama beberapa hari di pendopo belakang Pemkab Sidoarjo.

Terutama yang paling serius menjalani latihan adalah Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin yang harus melakoni pertarungan dengan Komandan Kodim 516 Letkol Infantry Andre Julian. Selama latihan mereka berdua memperagakan bantingan, tendangan, dan pukulan.

Dan hasilnya, wakil bupati Sidoarjo dan Komandan Kodim menjadi pusat perhatian ribuan penonton di Alun-alun Sidoarjo. Background wakil bupati yang merupakan pendekar Pagar Nusa dipertontonkan dalam pertarungan melawan seorang komandan tentara.

Keseruan pun berlanjut, kata Cak Mul, hingga istri Komandan Kodim (Dandim) berpesan kepadanya untuk berbicara kepada wakil bupati supaya tidak terlalu serius dalam melakukan adegan pertarungan. Pasalnya, saat usai latihan sebelum pementasan Sang Komandan mengalami cidera ringan.

Drama Kolosal jadi bagian karya Cak Mul yang paling seru dan menantang. Pasalnya, ia harus mengarahkan puluhan orang dengan perbedaan gaya dan cara gerak.

Jika ditotal, hingga saat ini ia telah menyutradarai 3 drama kolosal dan lebih dari 50 drama teater.

Jumlah tersebut ia mulai dari tahun 1980, yang saat itu percobaan pertamanya menjadi sutradara. Kemudian, 1981 cerita yang ia sutradarai dipentaskan. Naskahnya yakni tentang perjuangan yang kala itu dipentaskan di Taman Budaya Surabaya.

Sekilas ia menceritakan tentang naskah pertamanya itu. Yakni seorang pejuang yang mengalami nasib tragis karena jadi korban perang dengan tangan dan kaki diamputasi. Namun, semangatnya untuk berperang masih berkobar.

Pejuang tersebut telah bersumpah dan bermpamitan kepada anak dan istrinya untuk pergi dari rumah. Ia meminta keluarganya mengihlaskan demi kemerdekaan bangsa dan negara supaya anak cucunya kelak bebas dari penjajahan.

Bersama rekan-rekannya, ia pun sempat menjuarai lomba drama 5 kota. Dengan judul pementasan Umang-umang karya Arifin C. Noer.

Sekilas tentang karya tersebut yakni bercerita tentang seorang bramocora di sebuah kampung. Tetapi menjadi panutan masyarakat karena banyak membantu orang. Kemudian, saat ia terbaring karena sakit tak sedikit warganya yang kebingungan.

Singkat cerita, awalnya pria tersebut tak percaya adanya Tuhan. Namun, sebelum kematiannya ia percaya dan mencari keberadaan Tuhan. Ia bertanya kepada keluarganya, apakah ia bisa masuk surga dengan semua kebaikan yang pernah dilakukannya?

Namun, cerita tersebut belum selesai. Karena Arifin C. Noer belum menuntaskan karyanya tersebut hingga dirinya wafat.

Diskusi pembuatan naskah drama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *