Muhammadiyah dan NU Kompak Kuatkan Kebudayaan

Ketua Lesbumi PCNU Sidoarjo Akhmad Anis Fahmi.

Dalam sebuah perbincangan santai bersama para penggiat seni dan budaya di sebuah warung kopi, salah seorang seniwati muslim menyampaikan keresahannya. Terkait kekhawatirannya terhadap kebudayaan asli Indonesia yang menurutnya tergerus oleh agama.   

“Menurut pendapat, Mas. Penting mana budaya dengan agama (Islam)?” cetus seniwati itu kepada penulis.

Karena waktu di warung masih panjang, kopi juga baru disajikan, sebagai ketua Lembaga Seni dan Budaya milik NU penulis menyempatkan untuk memberi penjelasan. 

Di mulai dari prespektif masyarakat tentang seni-budaya dan agama. Tak hanya masyarakat umum, di kalangan para kiai terkadang masih muncul perdebatan, karena menganggap kebudayaaan dan kesenian terdapat hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Terutama kebudayaan yang memiliki kecenderungan mistis.

Bagaimanapun perdebatannya, permasalahan di atas harus dimaklumi, tetapi bukan berarti tidak ada tindakan untuk memberikan pencerahan. Pasalnya, kebudayaan merupakan bagian penting yang hukumnya wajib untuk diketahui dan dipahami. Ingat, Wajib ya!

Seorang budayawan Muhammadiyah bernama Kiai Khusen dalam sebuah seminar budaya bertemakan Khazanah Kebudayaan Islam di Era Kontemporer yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 14 Oktober 2023 lalu mengatakan, ketika ada hal yang sifatnya wajib, maka hal yang mendukungnya juga bersifat wajib.

Beliau pun memberikan contoh, jika salat wajib (5 waktu) adalah hal wajib, maka menutup aurat saat salat hukumnya juga wajib. Sehingga, adanya pakaian juga wajib bagi orang yang melaksanakan salat.

Dari pernyataan di atas, kita harus sadari bahwa ada aspek budaya dalam agama. Karena, pakaian atau baju merupakan produk budaya.

Poinnya, hal yang bersifat wajib dalam agama pun ternyata mengikutkan aspek budaya sebagai penopang. Padahal, masih pro dan kontra.

Wakil Rais Syuriah NU Sidoarjo Kiai Abdi Manaf Sholeh saat Ngaji Budaya di acara Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Sidoarjo juga mengatakan, ada salah satu fikih dalam Islam namanya Fikih Al-Muhadarah yang artinya Fikih Kebudayaan.

Di dalam kajian Fikih tersebut membahas tentang sifat Allah Swt yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang artinya Maha Pengasih dan Penyayang. Sifat tersebut menjadi dasar dan penguat para budayawan dan seniman Islam dalam merawat kesenian dan kebudayaan local.

Bahkan, beliau menyembutkan, siar Lesbumi tidak memandang hitam dan putih. Artinya, pergerakan kebudayaan dan keseniannya seperti kasih sayang Allah Swt yang tidak memandang baik dan buruk makhluknya.

Islam dan Kebudayaan tidak boleh dipertentangkan. Harus saling berkolaborasi untuk menjaga dan membangun karakter ke-Indonesiaan. Dan, itu sebenarnya sudah dilakukan para ulama terdahulu yang mempertahankan ke-Islaman namun tidak menghilangkan adat dan budaya masyarakat. 

Kita harus sadar bahwa agama dan budaya telah menyatu dan menjadi pondasi di Indonesia. Wujudnya, yakni Pancasila yang sempurna dengan unsur Ketuhanan dan Kebudayaan dalam sila-silanya. 

Kebudayaan menjadi pondasi, karena kebudayaan adalah pemikiran, yang melahirkan cirikhas dan karakter. Berpengaruh juga terhadap sikap masyarakatnya karena pondasi menjadi titik temu.

Dari berbagai dinamika permasalahan kebudayaan, sebenarnya masyarakat sejak dulu telah memiliki wadah untuk melestarikan kebudayaan. Apapun agamanya.

Bahkan, setingkat ormas Islam saja telah memiliki lembaga khusus kebudayaan, seperti NU dan Muhammadiyah. Menariknya, wadah budayanya bersifat mandiri.

Jika di NU ada Lesbumi dan di Muhammadiyah ada Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO), itu lebih dari cukup untuk mempertahankan budaya Indonesia. Tetapi, syaratnya persamaan pemikiran tentang kebudayaan.

Pasalnya, tak akan ada kebudayaan dan produk budaya yang kuat serta abadi tanpa didukung oleh kekuatan pemikiran. Masyarakat tinggal mengkolaborasikan dengan aturan dan batasan tertentu dalam agama.

Wali Songo dulu telah menghadirkan Islam yang dinamis dengan zaman, logis dengan keadaan, dan kreatif dalam menghasilkan karya seni dan budaya.  Sehingga Islam Indonesia, Islam Pancasila, hingga Islam Nusantara menjadi Islam yang penuh warna. Dan, itu merupakan tanda kebesaran Allah Swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *