Jadikan Al-Qur’an Landasan Berprestasi

Kegiatan rutin MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo.

Meski baru didirikan pada tahun 2015 lalu, MA Bilingual Muslimat NU telah mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Terutama mereka yang menginginkan putra-putrinya menerima tambahan pendidikan agama.

Menurut kepala MA Bilingual Muslimat NU Dwi Sulistyanto, S.T., M.Pd.I, meskipun sekolah bilingual lembaga pendidikan itu menempatkan aspek agama sebagai unggulan. Seperti program hafalan Alquran.

“Kita ini sekolah NU, jadi ada aktifitas di pondok pesantren yang kita adopsi untuk dilaksanakan di sekolah,” terang Dwi.

Bukan hanya menampung anak-anak yang ingin meneruskan hafalan yang sudah dilaksanakan saat SMP atau MTs, sekolah itu juga melakukan bimbingan kepada anak-anak yang baru ingin menghafal Alquran.

“Kita punya murid yang dari nol menghafal di sini, sekarang sudah hafal 13 juz,” ungkap Dwi.

Hal itu ditopang oleh keberadaan guru-guru di sekolah yang juga hafal Alquran. Terhitung ada 4 guru agama yang hafal Alquran. Selain itu, ada waktu khusus yang disediakan sekolah untuk menghafal.

Lingkungan sekolah yang sangat cocok untuk anak-anak mendalami Alquran, mendorong mereka bisa hafalan di sekolah. Pasalnya, tidak hanya terstandar internasional, tetapi juga menerapkan lingkungan yang ramah dan Islami.

Sama seperti MINU dan MTs NU Pucang, yang menjadi sekolah bersandar Cambridge tetapi dengan nuansa NU. Pasalnya, ke-3 sekolah tersebut dinaungi oleh satu yayasan, yakni Muslimat NU Sidoarjo.

Didirikannya MA itu juga didasari atas keinginan supaya anak-anak memiliki pendidikan yang berjenjang. Termasuk program hafalan Alquran yang dirintis dari MI hingga MA.

Pihak sekolah yakin, keberadaan Alquran di sekolah bisa membantu anak-anak dalam menguasai pembelajaran lainnya. Hal tersebut dijadikan prinsip oleh MA Bilingual Muslimat NU Sidoarjo.

“Memang ada tambahan pembelajaran bagi anak-anak yang menghafal. Otomatis mereka pulang sore. Tetapi itu bukan menjadi beban, malah membantu mencerdaskan pikiran,” kata Dwi.

Pasalnya, kecerdasan merupakan anugerah dari Tuhan. Untuk itu, anak-anak harus kita dekatkan dengan Sang Pencipta supaya mendapat kemudahan.

Dwi pun tidak menampik, bahwa sekolah itu menerima banyak  kemudahan dalam menghasilkan anak-anak yang unggul. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri (ptn).

Menurut Dwi, kehadiran MA yang dipimpinnya dapat menjadi alternatif pendidikan bagi anak-anak yang ingin berwawasan global namun tetap menjadi karakter Indonesia dan Islam.

Perkembangan sekolah itupun cukup dinamis, karena adanya pandemi Covid-19. Namun pihak sekolah optimis, dengan jumlah pendaftar yang masuk madrasah aliyah milik Muslimat tersebut.

Dwi menceritakan bahwa awal penerimaan peserta didik baru bertempat di MINU Pucang. Kelasnya pun ada di MINU. Kegiatan belajar mengajar berlangsung hingga tahun ke-2.

Penerimaan tahun pertama mencapai 42 peserta didik. Kemudian tahun kedua meningkat menjadi 48 anak.

Dengan bertambahnya jumlah peserta didik, akhirnya pihak manajemen sekolah memutuskan untuk berpindah. Anak-anak menempati bangunan baru di Desa Siwalanpanji pada tahun kedua semester 3.

Di tempat baru itu, kata Dwi, telah tersedia 6 lokal. Tetapi kondisi gedung belum sepenuhnya selesai. “Anak-anak harus berbagi tempat karena peruntukannya untuk ruang kelas, kantor, dan ruang guru,” katanya.

Proses pembangunan kedua pihak sekolah menginginkan rumah ibadah. Sehingga masjid menjadi bangunan kedua yang diprioritaskan. Dan hingga tahun 2021 belum ada penambahan kelas.

Tetapi, Dwi menyebutkan, di tahun 2019 geliat pendaftar mulai tampak. Diawali dari hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang dilaksanakan secara nasional.

Hasil UTBK menempatkan MA tersebut menduduki posisi keenam tingkat provinsi. Sementara itu, ditingkat kabupaten meraih terbaik pertama. Dan setelahnya, tidak bisa menggunakan ukuran ujian nasional karena dihapus pemerintah.

Dwi pun menyayangkan dihapusnya ujian tersebut. Pasalnya, ia harus mencari standarisasi persaingan madrasah di Sidoarjo. Dan, akhirnya ia memakai ukuran keterserapan anak-anak masuk perguruan tinggi negeri (ptn).

“Kita sempat cari-cari tolok ukur keberhasilan anak-anak lainnya. Karena untuk laporan keberhasilan sekolah,” terang Dwi.

Keterserapan anak-anak ke ptn, lanjut Dwi, sebenarnya telah dihitung. Lulusan pertama mencapai 30 persen, kemudian lulusan kedua mencapai 40 persen.

“Hampir semua ptn, kecuali ITB ada anak-anak kita di sana,” tegas Dwi.

Dari jumlah itu ada pula yang diterima di kampus Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN). Dan sejak lulusan pertama sudah ada yang diterima di perguruan tinggi milik negara itu.

Madrasah aliyah itu sekarang telah banyak mengalami perubahan. Dan, bersiap memberlakukan standarisasi yang ada di Cambridge seperti MINU dan MTs NU.

Dwi mengakui, setingkat sekolah aliyah atau sekolah menengah atas persyaratannya lebih sulit. Meski begitu, ia tetap berusaha karena amanah yayasan.

Tujuannya tidak hanya mengangkat brand sekolah, tetapi juga mempersiapkan anak-anak yang ingin melanjutkan ke luar negeri. Namun, dengan karakter dan adab yang kuat.

Hal menarik dari MA itu yakni, setiap hari Jumat pihak sekolah mengintruksikan anak-anak untuk bertugas sebagai petugas Jumatan. Mulai dari yang adzan, bilal, hingga hatib Jumat. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *