Jadikan Sekolah Kampung Berstandar International

Saat menerima penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Jawa Timur.

Desa Ketegan Kecamatan Tanggulangin ternyata memiliki sekolah tingkat dasar unggulan yang muridnya dari berbagai tempat di Sidoarjo dan kota sekitar. Sekolah tersebut bernama MI Ma’arif Ketegan.

Meskipun terletak di kampung, sekolah yang didirikan pada 1945 itu tergolong cukup besar untuk ukuran sekolah di pedesaan. Pasalnya, memiliki 3 lantai dan setiap angkatan menerima 5 rombongan belajar (rombel).

Dibalik kemajuan sekolah itu terdapat sosok kepala sekolah yang ternyata dulunya mengajar di sekolah internasional. Ia adalah Umi Salamah, M.Pd., M.M yang sebelumnya merupakan guru MINU Pucang Sidoarjo.

Di kalangan pendidikan Ma’arif nama itu memang tidak asing. Pasalnya, ia baru saja memenangkan Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan tingkat Jawa Timur pada 2024 lalu. Ema sapaannya, memenangkan kategori Kepala Madrasah Terbaik.

Selain itu, Ema sering diminta Lembaga Pendidikan Ma’arif Sidoarjo memberikan pelatihan kepada guru-guru.

Ema menjelaskan, sebelum diamanati memimpin sekolah ia telah menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum selama beberapa tahun.

Pola pendidikan di MINU Pucang pun ia terapkan di Ketegan. Meski harus bekerja keras melakukan penyesuaian selama beberapa tahun.

Ema memiliki keyakinan bahwa MI Ketegan bisa diajak berkembang seperti MINU Pucang. Terbukti, saat ini sekolah tersebut memakai kurikulum nasional dengan dikombinasikan kurikulum internasional.

“Kalau pakai kurikulum luar negeri dan suasana belajar seperti di luar negeri kan enak. Kalau anak-anak nanti berkesempatan sekolah di luar negeri mereka menganggap biasa saja,” kata Ema.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Ketegan, sekolah tersebut masih berbentuk L jika dilihat dari atas gedung. Saat ini sudah berbentuk O. Artinya, mengalami peningkatan sekitar 50 persen sejak Ema memimpin sekolah.

“Tinggal kasih atapnya saja,” jelas Ema.

Selain bangunannya, peningkatan juga terjadi pada kualitas pendidikan. Yang awalnya menggunakan kurikulum pemerintah, sekarang terdapat kurikulum  Cambridge yang terintegrasi dalam pembelajaran sehari-hari.

“Kami mengikuti kurikulum internasional yang masuk di Indonesia,” kata Ema.

Ia beralasan, Cambridge adalah kurikulum internasional yang sebenarnya memudahkan anak-anak memahami materi pembelajaran. Karena itu kurikulum tersebut diterima di banyak negara di dunia.

Syaratnya, sekolah harus menerapkan kelas bilingual. Artinya, menggunakan 2 bahasa yakni bahasa nasional dan internasional. Yakni Indonesia dan Inggris.

Buku-buku materi pembelajaran sebagian besar memakai buku dari luar negeri, yang dipakai oleh sekolah Cambridge. Hal itulah yang mengharuskan seluruh warga sekolah bisa berbahasa Inggris dan menyesuaikan model pembelajaran.

Semua guru, tegas Ema, meskipun bukan guru Bahasa Inggris diharuskan bisa berkomunikasi dan menyampaikan pembelajaran dengan bahasa internasional itu.

“Bertahap kita lakukan itu. Buktinya, bisa,” terang Ema.

Ia menambahkan, guru-guru tak hanya bisa berkomunikasi saja, kemampuan bahasa Inggrisnya juga diukur dalam TOEFL. “Tiap tahun kita adakan TOEFL test di sini,” tambahnya.

Namun, sebelum melaksanakan program bilingual kesejahteraan guru-guru diutamakan. Ia meyakini, keberhasilan sekolah ditopang oleh kesejahteraan guru-guru dan tenaga kependidikan.

“Kita tidak mungkin membebani guru dengan program-program baru tanpa mengimbangi dengan kesejahteraan,” kata Umi.

Jika kesejahteraan terpenuhi, dipastikan guru-guru akan terpacu menjalankan program sekolah. Mereka juga menganggap, jadi guru di MI Ketegan merupakan karir dan masa depan.

Madrasah milik NU Ranting Desa Ketegan itu sebelumnya dipimpin oleh kepala sekolah berstatus pegawai negeri. Setelah masa jabatan selesai, pihak yayasan mencari sosok pimpinan sekolah yang visioner dan berpengalaman. Selain itu, berwawasan global.

Pihak yayasan akhirnya mendatangi LP Ma’arif Sidoarjo untuk mencarikan kepala sekolah pengganti. Nama Umi Salamah pun jadi satu-satunya yang muncul untuk diajukan memimpin sekolah.

Setelah itu ia diminta untuk menjelaskan menejemen hingga program-program sekolah. Menariknya, Ema hanya punya waktu 3 hari untuk meyakinkan yayasan dapat memberi kemajuan bagi sekolah.

“Persiapan cuma 3 hari untuk jadi kepala sekolah di Ketegan,” jelas Ema.

Selain berkenalan dengan 23 guru, ia juga diminta yayasan merombak jajaran wakil kepala sekolah. Penerimaan guru baru juga melalui seleksi cukup ketat.

Penambahan guru dilakukan karena jumlah peserta didik setiap tahun mengalami peningkatan. Saat ini, jumlah guru mencapai 55 orang yang melayani 704 peserta didik.

Tak hanya itu, SPP yang awalnya 50 ribu naik menjadi 100 ribu Rupiah. Selang beberapa tahun dinaikkan menjadi 400 ribu Rupiah hingga saat ini.

“Saya sampaikan kepada sekolah-sekolah lain, tidak ada maksud untuk bersaing. Kami hanya menarik segment masyarakat yang ingin pendidikan seperti ini,” ujar Ema.

Alumni Gontor itu menerapkan hari-hari khusus setiap minggu. Seperti Senin berbahasa Inggris, Selasa IPA, dan Rabu Matematika. Hal itu bertujuan untuk menguatkan program bilingual school yang diterapkan.

Ema juga mendorong guru-guru untuk kuliah hingga strata 2 (S2). Alasannya, supaya ada peningkatan keilmuan dan kompetensi serta profesionalitas guru dalam memberikan layanan pendidikan.

“Sebuah obor bisa menyalakan obor lainnya itukan harus menyala dulu,” terang Ema.

Ia pun menunjukkan beberapa program beasiswa yang bisa dimanfaatkan, seperti beasiswa Pergunu. Selain itu, pihak sekolah juga memfasilitasi potongan gaji untuk biaya kuliah.

Peningkatan keilmuan juga untuk menunjang program sister’s school yang diberikan kepada 5 sekolah yang menginduk ke MI Ketegan. Menariknya, ada sekolah dari Jombang yang menginduk ke Ketegan. (Nis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *