Sejak SD Suka Jualan dan Bantu Orangtua

Wildan saat di warung baksonya.

Keberhasilan pendidikan anak-anak di sekolah tidak bisa diukur dari prestasi akademik maupun nonakademik. Pasalnya ada prestasi dan kebanggaan yang berbeda-beda bagi setiap peserta didik selama menjalani masa-masa pendidikannya.

Seperti yang dirasakan peserta didik SMPN 3 Waru bernama Wildan Wika Saputra. Ia jadi potret seorang anak yang mandiri secara ekonomi sejak masih sekolah dasar.

Wildan mengaku bahwa sejak sekolah dasar yang ada dibenaknya  ingin membantu orangtua dan bisa mencukupi sebagian kebutuhan hidupnya. Karena itu, saat SD ia sudah bekerja dengan menjajakan makanan di sekolahnya. “Waktu SD sudah jualan makanan di sekolah,” ngakunya.

Jualan tersebut ia lakukan saat jam istirahat. Ia berkeliling dari kelas ke kelas membawa makanan untuk dijual ke teman dan seluruh warga sekolah. Makanan yang dijual ia bawa dari rumah.

“Dari rumah bawa buku di tas, sama kantong plastik berisi jajanan untuk dijual,” ungkap Wildan.

Semangat berwirausaha muncul karena terinspirasi dari kedua orangtuanya. Ayahnya seorang pengerajin kubah masjid dan ibunya membuka warung nasi di pinggir jalan Raya Bungurasih, dekat pintu masuk terminal.

Ibu adalah sosok yang paling berpengaruh bagi kehidupan Wildan. Pasalnya, Sang Ibu adalah sosok wanita yang mandiri karena memiliki keinginan kuat memiliki penghasilan meski ada Sang Ayah yang mencukupi kehidupan keluarga sehari-hari.

Begitu pula dengan kakak Wildan yang selalu membantu ayah bekerja membuat kubah masjid. Dan itu dilakukan kakaknya sejak usia sekolah dasar.

Pemandangan kemandirian di dalam keluarga Wildan mendorongnya untuk giat berusaha menghasilkan uang, minimal untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri. Dan Seolah tak terasa bahwa usaha orangtua untuk menanamkan pendidikan karakter telah terwujud.

Mental itu yang menjadikan Wildan tak canggung berjualan ke teman-temannya. Hingga saat ini Wildan juga telah membuka warung bakso di daerah Bungurasih, tepat di samping warung ibunya.

Bahkan saat mengawali jualan, ia mengaku tak ada sedikit pun rasa malu atau canggung menawarkan dagangannya. “Biasa saja, kalau malu sih ndak ada,” ngakunya.

Hal itu dikarenakan terbiasa melihat ibunya berjualan. Ibunya pun mengajari cara melayani pembeli di warung, mulai menyapa hingga menjelaskan harga dagangan yang dijual.

“Kata ibu, yang pertama harus dikuasai saat jualan adalah cara berkomunikasi dengan pembeli,” terang Wildan.

Dari berbagai pengalaman berjualan Wildan akhirnya memutuskan untuk berjualan sendiri dengan membuka warung bakso pada Januari lalu. Warung bakso itupun jadi tolok ukur kemandirian Wildan yang semakin matang mempersiapkan masa depan dirinya sendiri.

Baginya, minimal ada pengalaman berusaha sendiri mulai dari nol. Berhasil atau tidak yang terpenting ada pembelajaran yang bukan sekedar teori.

Karena ada kewajiban bersekolah, warung bakso yang telah ia dirikan dibuka pada siang hari. Artinya, warung tersebut buka setelah ia pulang sekolah. Dan rutinitas tersebut ia lakukan setiap hari.

Jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya, yang sebagian besar digunakan untuk barmain, fokus belajar, dan menjalani hobi, Wildan menghabiskan waktu dengan bekerja dan membantu orangtua. Ia pun mengakui bahwa waktu bermain sangat terbatas baginya.

“Biasanya kalau main setelah jualan habis,” kata Wildan.

Artinya, jika sebelum pukul 9 malam semua dagangan habis kesempatan itu ia gunakan untuk bersantai dan bermain. Tetapi kalau belum pastinya tidak bisa untuk main, karena warung tutup pukul 1 hingga 2 dini hari.

“Karena besok pagi harus kembali bersekolah, jadi mending langsung tidur saja sepulang dari warung,” terang Wildan.

Ia pun tak menampik bahwa rasa ngatuk sering ia rasakan saat bangun pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tetapi tekadnya bisa mengalahkan rasa itu, sehingga menjadi kebiasaan yang bisa ia jalani setiap hari.

Meski tak memiliki banyak waktu untuk bermain, Wildan tidak terlalu mempermasalahkan. Ia telah memutuskan untuk lebih mementingkan bekerja dibandingkan bermain.

Jika luang dan tak ada kegiatan pun ia memilih membantu ayahnya buat kubah masjid bersama kakaknya. Dengan melakukan hal itu Wildan merasa mendapatkan 2 hal positif, yakni membantu orangtua dan membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masjid.

“Kalau bantu ayahkan bisa bantu keluarga juga. Kalau bikin kubah masjid semoga dapat pahala,” ungkap Putra kedua dari pasangan Joko Kuswantoro dan Sri Winarti itu.

Aktivitas pekerjaan di warung juga mendapatkan respon positif dari teman-temannya. Tak jarang juga teman sekolahnya makan di warung Wildan.

Usai lulus SMP Wildan berencana melanjutkan ke sekolah menengah kejuaraan. Pastinya, target yang diharapkan adalah memiliki keterampilan kerja kemudian membuka usaha, sesuai dengan passion yang ia miliki sejak sekolah dasar.

Namun, ia mengaku sebenarnya ada keinginan untuk menjadi seorang tentara. Tetapi harapan itu pupus karena patah tulang yang pernah ia alami saat ikut pertandingan silat. “Dulu pernah punya keinginan untuk jadi tentara, tapi tidak jadi,” curhatnya.

Anak kedua dari 4 bersaudara itu juga berencana mengembangkan usaha baksonya. Alasannya, minat masyarakat terhadap bakso masih tinggi meskipun tak sedikit yang membuka usaha serupa.

Wildan saat membantu ayahnya membuat kuba masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *