
Menjadi penyandang disabilitas sejak lahir tentunya harus memiliki mental kokoh dalam menjalani kehidupan. Hal itu yang dirasakan Herdin Hermawan Utomo peserta didik Paket A UPTD Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sidoarjo.
Herdin mengaku sempat galau selama beberapa tahun karena tidak ada sekolah yang bisa menampung dirinya yang memiliki keterbatasan fisik. Ia merupakan penyandang tuna grahita sejak lahir.
Meski demikian, semangatnya untuk belajar tetap kuat. Terbukti dengan keikutsertaannya dalam program paket A di UPTD SPNF SKB itu. Usianya yang telah menginjak 24 tahun ternyata tidak menyurutkan semangatnya ikut kejar paket selevel sekolah dasar.
“Dulu sebelum di sini sempat galau karena tidak bisa sekolah, dan di rumah tidak ada kegiatan,” kata Herdin.
Hingga akhirnya, ada teman yang memberikan informasi bahwa telah ada lembaga pendidikan yang membuka sekolah paket lengkap dengan fasilitas pelatihan. Artinya, di tempat itu tidak hanya bersekolah tetapi juga untuk mengasah life skill.
Meskipun jarak dari rumah ke tempat belajar sekitar 7 Kilometer, Herdin mengaku sanggup menempuh perjalanan tanpa bantuan orang lain. Meski dengan hambatan fisik ia tidak mau menyerah dan selalu mencari cara dengan mengubah atau memodifikasi kendaraannya.
Selama bersekolah, Herdin menggunakan kendaraan bermotor roda 3. Awalnya, kendaraan yang dipakai adalah kendaraan roda 2, tetapi karena kebutuhan maka kendaraan tersebut harus dimodifikasi supaya tidak bisa roboh.
Ia mengklaim, dengan menggunakan motor tersebut ia bisa mencapai jarak 7 Kilometer dengan waktu 20 menit. “Kalau dari rumah ke SKB kira-kira 20 menitan,” terangnya.
Motor yang dipakai Herdin merupakan wujud dari kemandiriannya untuk menjangkau berbagai tempat tanpa mengharap bantuan dari orang lain. Tak sedikit yang mengapresiasi kegigihannya untuk mewujudkan keinginan dan cita-citanya.
Selain dalam berkendara, di rumah pun ia juga membuka usaha toko kecil dan percetakan undangan. Dari usaha itu ia juga ingin membuktikan bahwa ia bisa mandiri secara ekonomi dan finansial, minimal untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.
Setelah bisa bersekolah, Herdin mengaku bercita-cita menjadi pengajar atau guru. Tak hanya bersekolah saja, ia pun ingin masuk perguruan tinggi.
Di SKB pun ia belajar menguasai teknologi dengan belajar menggunakan komputer. Dan pihak SKB memfasilitasi dengan memberikan pelatihan untuk menguasai beberapa software seperti Microsoft dan aplikasi desain untuk memenuhi pekerjaan Herdin di rumah.
Semangat Herdin setelah bisa sekolah dan mendapatkan bimbingan keterampilan di SKB terasa terpacu. Pasalnya, Herdin mengaku pernah ditolak sekolah lantaran keterbatasan fisik yang ia miliki. Sehingga selama beberapa tahun ia tidak bisa merasakan pendidikan formal maupun nonformal. Artinya, selama itu pula ia tidak melakukan apa-apa di rumah.
“Pernah daftar sekolah tapi ditolak. Jadi ndak sekolah dan ndak tahu harus ngapain di rumah,” terang Herdin.
Saat ini, selain kegiatan bersekolah Herdin juga disibukkan dengan usaha di rumah dengan berjualan alat-alat tulis dan kantor. Usaha tersebut telah ia tekuni sejak 2 tahun lalu. Berawal dari modal kecil-kecilan kemudian mendapat bantuan dari pemerintah.
Pihak SKB berencana mendaftarkan Herdin mengikuti program You Blast yang diselenggarakan oleh USAID. Program tersebut berupa pelatihan dan pendampingan bagi wirausahawan muda yang ingin mengembangkan usahanya.
Rencananya program tersebut akan dilaksanakan pada bulan Mei hingga November 2022. SKB akan mengusulkan 10 hingga 20 anak untuk ikut.
Kepala UPT SKB Farida Prima, M. Pd mengatakan bahwa pihak USAID memberikan kuota 75 anak dari 200 peserta yang terseleksi. Keterisian kuota itu hanya diisi dari Sidoarjo dan Bandung Raya.
Tahun 2022 ini Herdin diperkirakan lulus Paket A. Rencananya ia akan langsung menempuh Paket B dan seterusnya.
Di dalam keluarga Herdin merupakan anak tunggal. Hal itu pula yang mendorongnya untuk membuktikan diri bahwa ia bisa menggapai cita-cita dan keinginannya. Terlebih ia ingin membanggakan kedua orangtua.
“Saya anak satu-satunya. Saya pengen bisa sekolah tinggi, punya ijazah,” tegas Herdin.
Saat umur 17 tahun, meskipun tidak bisa menempuh pendidikan formal ia pernah ikut pelatihan keterampilan khusus penyandang difabel di Kota Pasuruan. Meskipun memiliki keterbatasan fisik tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar.
Apalagi jarak antara Sidoarjo dan Pasuruan cukup jauh dan Herdin harus mendatangi sendiri tempat pelatihan dengan sepeda motor modifikasinya. “Awalnya memang berat, tapi kalau sudah terbiasa tidak berat,” ungkapnya.
Herdin mengaku, bahwa dengan bersepeda melatihnya untuk berani. Yang terpenting baginya adalah rasa percaya diri yang didapat dari usaha dan perjuangan. Dan di tempat belajar ia diberikan motivasi untuk semangat berusaha dan bisa mandiri.
Dengan bersepeda dan keluar rumah, percaya diri itu muncul. Ia pun memberanikan diri kumpul dengan masyarakat dan orang-orang yang ditemui di jalan dan di berbagai tempat.
Hal itu ia lakukan karena awalnya ia merasa minder dan tidak memiliki rasa percaya diri untuk bertemu dengan orang. Artinya, dulu ia menutup diri dengan hanya menghabiskan waktu di rumah. “Dulu hanya di rumah saja, tidak kemana-mana,” ngakunya.
Namun, kondisi itu saat ini berbeda. Herdin tidak hanya percaya diri untuk keluar rumah, ia menambah aktivitasnya dengan menggelar touring bersama-sama kawan-kawannya. Mereka pun membetuk komunitas touring dengan para disabilitas lainnya.
Pembuktian Herdin untuk bisa berprestasi akhirnya dapat diwujudkan. Ia berhasil menjuarai Turnamen Catur tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan di Malang pada awal 2019 lalu. Yang menarik dari kompetisi itu adalah ia harus pergi ke Malang sendirian tanpa adanya pendamping.
“Waktu ikut itu daftar sendiri. Berangkatnya sendiri naik motor,” ungkap Herdin.
Tidak banyak yang mengetahui kemenangan yang ia dapatkan dari turnamen tersebut. Bahkan, pihak SKB tidak mengetahui bahwa ia memiliki prestasi tingkat Jawa Timur.








