Tiada Hari Tanpa Latihan

Tria Yusrina Fatin

Kepala SMPN 1 Tulangan Agus Pujiono mendampingi Tria Yusrina Fatin usai berlaga di kejuaraan Karate Terbuka piala KONI Malang.

Atlet Karate di SMPN 1 Tulangan memang tak sering dijumpai. Namun, bukan berarti tidak ada atlet Karate berbakat dan berprestasi di sekolah itu. Ada nama Tria Yusrina Fatin yang September lalu menjuarai kejuaraan Karate terbuka KONI Malang.

Tria sapaannya menjelaskan, ia berhasil membawa medali emas nomor SMP Plus 45 Kumite Putri. Ia menang dengan skor telak 3 : 0 pada pertandingan terakhirnya. “Alhamdulillah menang mudah,” jelasnya.

Ia mengaku, kemenangan yang ia raih berkat arahan pelatih. Sebelum bertanding, ia diminta tidak melihat bagan pertandingan antar atlet. “Ya itu, dari awal saya tidak boleh lihat. Pokoknya, fokus pertandingan dan strategi sebelum tanding,” ngakunya.

Usai pertandingan berlangsung, official dan tim kepelatihan mengatakan bahwa hal itu dilakukan supaya atlet tidak grogi sebelum bertanding.

Sang pelatih mengaku, tak sedikit hambatan para atlet dikarenakan grogi setelah mengetahui lawannya. Tak jarang pula atlet juga meremehkan lawan.

Kedua faktor tersebut tidak menguntungkan para atlet. Jika dari awal sudah merasa kalah atau grogi dapat mengganggu kepercayaan diri. Sementara, jika dari awal meremehkan lawan dampaknya atlet kurang antisipatif.

Strategi tersebut, lanjut Tria, berhasil dan mengalahkan anak seusia SMA. “Kok, kayaknya lawan saya anak SMA. Sekilas fisiknya tidak seperti anak SMP kebanyakan,” ujarnya.

Keberhasilan Tria merupakan hasil usaha kerasnya selama berlatih. Ia sempat dibina oleh 3 dojo Karate di Sidoarjo. Mulai dari dojo di sekolah hingga ke Delta Karate Sidoarjo tempat dilaksanakannya TC sebelum pertandingan.

Seolah tak cukup latihan di dojo, Tria pun melanjutkan berlatih di rumah bersama ayahnya. Di rumah ia latihan fisik hingga menyempurnakan teknik yang diterima di dojo.

“Kalau latihannya setiap hari. Kadang pelatih kasih PR untuk diasah di rumah,” ujar anak terakhir dari 3 bersaudara itu.

Saat ini bakat Tria sangat tampak dan mendominasi di sekolah. Sehingga, tak jarang ia dipercaya pelatih untuk menggantikannya mengajar ektrakurikuler Karate di SMPN 1 Tulangan.

Ketika di sekolah ia harus membina 12 anak. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang baru mengenal Karate.

Menurut Tria, anak-anak bergabung di ekstrakurikuler Karate karena selama ini cabang olahraga Karate di Kecamatan Tulangan masih jarang ditemui.

Artinya, persaingan tidak terlalu ketat di Tulangan. Sehingga peluang untuk berprestasi masih terbuka. Dan mendorong anak-anak di Tulangan bergabung dengan beladiri asal Jepang itu.

Tria merupakan anak yang memulai karir sebagai atlet Karate sejak kelas 1 SD. Tetapi, sempat berhenti berlatih selama lebih dari 2 tahun. Pasalnya, saat itu terjadi pandemi Covid-19. Selain itu, dojo tempatnya berlatih tutup.

“Kelas 6 kembali latihan lagi,” ngaku gadis kelas 9 itu.

Namun, ia kembali harus berhenti latihan lagi. Dan latihan ke dojo lagi saat kelas 8 SMP.

Di dalam keluarga, ia satu-satunya dari 3 bersaudara yang menggeluti olahraga Karate. Ia diikutkan Karate karena di rumah terkenal nakal.

“Mungkin karena saya nakal, jadi sama papa diikutkan Karate,” kata Tria.

Namun, masuk Karate tak hanya karena alasan nakal. Pasalnya, papa Tria merupakan orang yang senang dengan olahraga beladiri. Papanya merupakan seorang pesilat saat masih muda.

“Kayaknya, bakat papa menurun ke saya,” kata Tria.

Tetapi, ia pun mengaku bahwa hingga saat ini ada satu hal yang membuatnya takut jadi atlet Karate. Ketakutan tersebut yakni rasa jenuh.

Bagi Tria, jika rasa jenuh itu menghampirinya semua aktivitas termasuk Karate ingin ia tinggalkan. Bahkan, bisa 2 bulan rasa tersebut tidak hilang. Padahal, ia harus mempersiapkan diri untuk pertandingan selanjutnya.

“Kalau sudah malas tidak bisa apa-apa. Kalau keterusan bisa 2 bulan tidak mau latihan,” kata Tria.

Karena itu, latihan setiap hari harus ia lakukan. Meskipun hanya dengan latihan ringan.

Tria mengatakan, untuk latihan rutinnya ia lari, squat, lunges, dan menarik karet beban. Semua latihan itu juga untuk meningkatkan kecepatannya.

Volume latihan semakin hari ia tingkatkan. Karena ada kejuaraan besar yang akan ia ikuti pada akhir tahun ini. Yakni kejuaraan Karate Internasional yang berlangsung di Semarang.

Sebelum fokus ke Kumite Tria merupakan atlet Karate nomor Kata. Menariknya, ia pun sempat meraih prestasi.

Namun, setelah 2 tahun tidak berlatih pihak pelatih tidak mengizinkan masuk Kata. Pasalnya, usianya sudah masuk kategori remaja dan tidak memungkinkan untuk berkarir di nomor Kata.

“Kata itu detail dan tidak gampang. Kalau cuma menghafal gerakannya sih mudah,” terang Tria.

Ia menjelaskan, nomor Kata membutuhkan gerakan yang bentuknya sempurna. Pasalnya, selain gerakan juga dibutuhkan speed, ekspresi, power, dan nafas yang terlatih.

Karena itu, untuk menyempurnakan gerakan-gerakan Kata tidak cukup dalam hitungan bulan. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *