Pemimpin harus Menulis

M. Fuad Nadjib bersama Gus Baha.

Memimpin sebuah lembaga pendidikan bukanlah sebuah hal yang mudah dan sederhana. Pasalnya, ia akan menjadi teladan sekaligus tolok ukur bagi semua orang yang dipimpinnya. Selain itu, harus memiliki kelebihan yang menjadi pembeda sekaligus karakter yang mencerminkan seorang pemimpin.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan seorang Mochammad Fuad Nadjib, M.Pd. Di usianya yang ke-30 tahun sudah dipercaya memimpin sebuah sekolah menengah kejuruan, tepatnya di SMK Diponegoro Sidoarjo.

Fuad sapaannya, sebelum jadi kepala sekolah cita-citanya hanya ingin menjadi guru, dan tak menyangka mendapatkan kepercayaan memimpin sekolah setingkat SMA. Meski demikian, ia percaya dengan pertimbangan yang telah putuskan oleh pihak yayasan dan owner.

“Bercita-cita jadi kepala sekolah di usia 30 tahun saja tak pernah, apalagi berambisi. Tapi mau gimana lagi, takdir setiap manusia tidak ada yang tahu,” kata Fuad.

Ia pun mengakui bahwa sejak terpilih sebagai kepala sekolah hingga hari ini ia terus mengasah kemampuan leadership-nya. Caranya bermacam-macam, mulai dari mengikuti pelatihan, bergaul dengan kepala sekolah senior, hingga mencari berbagai macam referensi buku maupun di internet.

Namun, ia juga tidak menutup diri untuk menerima bimbingan dan masukan dari berbagai pihak terkait pengembangan sekolah. Terlebih untuk menata manajemen atau pengelolaan sekolah.

Bagi seorang Fuad yang merupakan lulusan pesantren, mendidik adalah kewajiban bagi setiap manusia yang berilmu. Dan siapapun yang memberikan ilmunya dan memberikan kemanfaatan bagi orang lain akan mendapatkan kedudukan mulia.

“Kalau di pesantrenkan pasti yang diidolakan adalah kiai dan guru-guru ngaji, hampir sama dengan sekolah, kepala sekolah dan guru-guru harus diidolakan anak-anak,” ujar <span;>Alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang itu.

Artinya, kepala sekolah adalah sosok yang tak hanya memimpin tetapi juga harus bisa memberikan teladan. Sosok kepala sekolah juga harus menginspirasi anak-anak supaya bisa berkarya dan memberikan kebanggaan bagi dirinya, orangtua, dan sekolah.

“Minimal anak-anak bisa mencari hal dalam dirinya yang bisa diasah kemudian mendatangkan kebanggaan,” ungkapnya.

Karena itu, Fuad memilih menekuni jalur literasi selama memimpin sekolah. Karya tulisnya tak hanya muncul di sekolah tetapi juga terbit di media massa.

Saat ini, lanjut Fuad, beberapa media online terkadang menunggu tulisannya. “Ada saja media yang telepon atau WA minta tulisan opini,” lanjutnya.

Tercatat ada beberapa media yang menjadi langganan artikelnya, antara lain Media Indonesia, NU Online, Harian Bangsa, Barometer Jatim, Times Indonesia.

Alasannya menulis di media massa karena ia ingin menyampaikan kepada masyarakat tentang keinginan untuk membangun pendidikan bersama-sama. Ia pun sadar bahwa media mewakili keterbatasan ruang dan waktu yang ia miliki.

“Kalau menyampaikan ide ke masyarakat luas secara langsung pasti berat. Melalui media bisa tersampaikan ke masyarakat tanpa terbatas waktu dan tempat,” terang Fuad.

Pria yang memulai jabatan sebagai kepala sekolah pada April 2021 lalu itu juga berharap, minimal warga SMK Diponegoro membaca tulisannya. Supaya visi dan misi kepala sekolah bisa disatukan.

Ia pun menyadari bahwa tulisannya masih belum sempurna. Karena itu ia aktif dalam membentuk jaringan dan berorganisasi supaya bisa menemukan ide atau teman untuk sharing tulisan.

Sebagai seorang kepala sekolah ia ingin mempertegas jati dirinya juga sebagai penulis. Ia pun tergabung dalam Lembaga Talif wan Nasr (LTN) Jawa Timur. Sebuah lembaga milik NU yang membidangi kepenulisan.

Lembaga tersebut juga yang mencetak Fuad jadi seorang penulis. Ia merasa banyak diberikan bimbingan ketika aktif di lembaga itu. “Saya juga banyak diajari teman-teman dan para senior di LTN,” terangnya.

Harapan pun ia sampaikan kepada guru-guru di SMK Diponegoro untuk gemar menulis. Karena dengan menulis orang akan tahu kualitas seseorang. Anak-anak pun diarahkan untuk mulai gemar membaca kemudian mereka akan dibina dalam kegiatan literasi.

“Sebelum menyuruh guru-guru dan anak-anak gemar membaca dan menulis, kepala sekolahnya dulu harus jadi contoh dan teladan,” kata Fuad.

Sebagai kepala sekolah ia sadar bahwa memiliki keterbatasan dalam menyampaikan ide dan gagasan tentang pembangunan sekolah. Tulisan jadi media meringankan dan menembus keterbatasan yang ia miliki.

Selain komunikasi lisan, para pimpinan yayasan dan owner sekolah bisa mengetahui keinginannya melalui tulisan. Harapannya, masyarakat juga mengetahui kondisi SMK Diponegoro dan target sekolah di masa depan.

Sebagai seorang kader dan pengurus NU ia merasa wajib untuk gemar membaca dan menulis. Dan hal itu telah dicontohkan oleh para pendahulu dan pendiri NU yang karya tulisnya masih bisa dijadikan contoh dan teladan bagi generasi selanjutnya.

“Sebagai muslimkan jelas perintahnya tertuang di Alquran, yakni membaca. Ditambah lagi, sebagai warga NU harus bisa menulis seperti Kiai Hasyim yang juga seorang penulis kitab,” tegas Fuad.

Di akhir wawancara Fuad mengatakan, profesi seorang penulis juga tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Pada masa depan kecerdaasan itu akan menggantikan banyak keterlibatan manusia, sehingga anak-anak sekolah harus disiapkan mencari alternatif untuk menciptakan pekerjaan.

“Di masa depan yang bisa survived itu mungkin ada 2, yakni penulis dan desainer atau content creator. Jadi tidak ada alasan untuk tidak belajar menuli, apapun profesinya,” pungkas Fuad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *