Usia 61 Tahun Gigi Masih Utuh

Aksi John Subiyanto, menarik mobil dengan gigi.

Kemajuan dan prestasi cabang olahraga Karate Sidoarjo tentunya tak lepas dari peran para pelatih. Tahun inipun, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2022 Sidoarjo meraih Juara Umum.

Dengan raihan 6 medali emas, 3 medali perak, dan 3 medali perunggu yang menggunakan sistem reverchance durasi 2-3 menit.

Sebelumnya, pada Kejurda Karate 2021 juga berhasil menjadi juara umum setelah mengumpulkan 5 medali emas 2 perak dan 2 perunggu.

Hal itu dikarenakan proses pembibitan di Kota Delta dimulai secara masif dan dilakukan sejak dini, yakni mulai usia sekolah dasar. Selain itu, pemerintah dan Federasi Karate kompak untuk menggelar kejuaraan di berbagai tingkat.

Berbicara tentang Karate pastinya insan Karate Sidoarjo tak asing dengan sosok John Subiyanto. Pria berusia 61 tahun itu telah menekuni Karate lebih dari 30 tahun. Dan mulai mengajar Karate pada tahun 1990.

“Saya sudah lama ngajar Karate. Dan di banyak tempat,” ungkap John.

Tercatat, ia mengajar mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Ada SDN 2 Gedang Porong, SDN Juwet Porong, SMPN 2 Porong, SMPN 1 Buduran, dan sekolah Alfudollah mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah.

Orang paling senior di Inkado Sidoarjo itu mengaku telah melahirkan banyak atlet berprestasi.

Meski sudah senior, ia mengaku tak ingin kalah dengan para Karateka muda. Intinya, John hanya ingin menjadi teladan bagi anak-anak muda supaya giat berlatih dan meraih prestasi.

“Yang tua saja masih bisa cetak rekor, masak yang muda tidak bisa,” tegas John.

Beberapa tahun lalu, lanjut John, saat Bupati Saiful Ilah masih menjabat, dirinya sempat membuat rekor yang hingga hari ini belum ada yang menandingi. Yakni menarik mobil mini truck yang berisikan sekitar 50 orang dengan mulut alias gigi.

Aksi tersebut disaksikan bupati dan wakil bupati serta jajaran Forkopimda Sidoarjo. Selain itu, tak sedikit pula awak media yang turut menyaksikan aksi gila tersebut.

“Waktu itu saya bisa menempuh jarak sekitar 50 Meter dengan gigitan,” terang John.

Tak cukup dengan aksi itu, John juga sempat mencoba menarik mobil panser jenis Anoa yang bobotnya sekitar 12500 Kilogram. Aksi tersebut sempat viral karena tak sedikit media nasional meliputnya. Dan sempat mendapat undangan stasiun TV nasional.

John mengaku, saat menjalankan aksinya tak sedikit orang menganggap yang dilakukannya adalah atraksi debus yang identik dengan kekuatan gaib atau spiritual. Namun, ia menampik tudingan itu, karena aksinya tersebut merupakan kekuatan asli manusia atas keyakinan kepada Tuhan. “Ndak, saya asli ndak pakai tenaga dalam,” ngakunya.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kekuatan yang tidak banyak diketahui. Kekuatan tersebut bisa muncul jika ditopang dengan keyakinan kuat kepada Tuhan dan latihan.

Di usia 61 tahun ia masih tampak bugar, lengkap dengan jumlah gigi asli yang utuh -jika dibandingkan dengan kebanyakan orang seusianya. Padahal pernah 2 kali digunakan untuk menarik beban berat.

Usai melakukan aksinya, tak sedikit teman sejawat dan orang-orang di perguruan menganggap John adalah orang terkuat di Forki. Karena belum ada yang meniru atau menandingi aksinya.
John pun membeberkan beberapa tips supaya tubuh bugar dan memiliki kekuatan. Kekuatan fisiknya terbentuk oleh aktifitas keseharian. Aktifitas tersebut berupa aktifitas sederhana yang semua orang bisa lakukan. Di antaranya dengan lari pagi, push up, dan yang paling menarik ia senang mencuci baju secara manual.

Sementara itu, untuk makanan ia tidak mengkonsumsi makanan khusus. Yang ia konsumsi adalah makanan biasa tanpa adanya batasan yang konon katanya dapat menimbulkan penyakit tertentu.

“Yang jelas olahraga setiap hari. Makan ya biasa saja, tidak ada pantangan  takut diabet, asam urat, maupun kolesterol,” terang John.

Keberhasilan cabang olahraga Karate juga dikarenakan banyaknya perguruan yang berdiri di berbagai tempat, mulai di desa, kecamatan, hingga di kota. Sehingga tak heran jika olahraga asal Jepang itu sangat familiar di masyarakat. Begitu pula ketika meraih prestasi, pastinya tidak butuh waktu lama untuk diketahui orang.

John mengatakan, hampir tidak ada perguruan atau Dojo Karate di Sidoarjo tanpa prestasi. Mulai yang ada di sekolah-sekolah maupun di tempat-tempat umum lainnya.

Artinya, regenerasi atlet selalu ada. Selain itu, wadah kejuaraan juga tidak pernah sepi tiap tahun. Sehingga, para atlet akan terpacu dan memiliki target dan capaian tertentu selama latihan.

Dukungan pemerintah dan sekolah juga turut memberikan dorongan kepada para atlet. Kemudahan mendapatkan fasilitas dan reward juga tersedia dengan jumlah yang cukup menggiurkan.

John mengakui, hal itu jadi harapan para atlet menata masa depan. Selain itu, menjadi harapan negara dalam memenangi even bergengsi tingkat internasional.

Tak heran, beberapa atlet Karate Sidoarjo sempat berlaga di kejuaraan dunia. Dan hasilnya pun memuaskan dengan membawa pulang medali. Tahun 2019 lalu ada anak SD bernama Raditya Rimba Adhyaksa juara dunia Karate di Belgia.

 

Aksi John Subiyanto menarik kendaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *