Bancaan Bubur Abang

Oleh: Nawawi A. Manan

Pembina Lesbumi PCNU Sidoarjo; jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).

Pada pagi hari kelima lebaran lalu, ketika saya  menikmati segelas teh sambil membaca buku (terjemah) The Great Disruption karya Francis Fukyama, seorang tetangga  mengantarkan bungkusan kupat lepet.

Bungkusan itu berisi 3 buah lontong, 3 buah lepet, dan sayur lodeh kacang panjang dibungkus plastik transparan. Bungkusan itu segera saya tutup lagi. Hati saya masygul karena distorsi kemasan ketupat dan lepetnya makin parah.

Dalam beberapa literasi disebutkan bahwa ketupat merupakan hasil ijtihad  Sunan Kalijaga pada abad ke-15. Ketupat atau kupat berbentuk segi empat, dibungkus daun kelapa disebut janur. Kupat berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Sedangkan janur dari kata jaa’an-nuur, artinya telah datang cahaya.

Eyang Sunan Kalijaga  melaksanakan riyaya kupat untuk mengajak kaum Muslimin menyempurnakan  ibadah  Ramadan dengan melakukan unjung-unjung untuk saling memaafkan.

Meski setelah direbus bungkus ketupat  berwarna merah, isinya tetap putih. Itu adalah  analogi  hati manusia pada hari lebaran, berwarna merah tetapi bagian dalamnya bersih setelah mendapat ampunan Allah SWT dan meminta maaf kepada sesama manusia.

Setelah saling memaafkan, hubungan persaudaraan kaum Muslimin diharapkan  semakin erat, seperti eratnya ketan dalam lepet. Lepet dari tembung (kata) silep (simpan) dan rapet (rapat). Asal ukara (kalimatnya) ialah ‘mangga dipun silep ingkang rapet’,  berarti semua kesalahan mari kita simpan dengan  rapat.

Kuliner khas lebaran berbahan beras ketan, parutan kelapa, dan sedikit garam ini dibungkus klulik,  daun pohon buyuk – tanaman liar di daerah pantai. Uniknya, lepet diikat dengan tali iratan bambu  pada tengah dan kedua ujungnya menyerupai mayat.  Artinya, maafkan semua kesalahan orang lain, sakit hati jangan di bawa ke alam kubur.

Entah sejak kapan, secara tidak sadar, banyak orang membuat kupat lepet dengan mengabaikan pakemnya. Meskipun di pasar banyak orang menjual selongsong ketupat dan daun kelapa untuk bungkus lepet, mereka lebih senang membuat kupat dan lepet dengan daun pisang.

Substansi sedekahnya memang tidak berubah, tetapi pesan-pesan moral yang disampaikan mujtahidnya melalui kemasan sudah hilang. Ini adalah gambaran derajat  umat Islam  saat ini: memertahankan saja tidak bisa, apalagi berkreasi.

Perubahan  juga terjadi pada makanan-makanan lain, di antaranya bubur abang. Bubur abang terbuat dari beras ketan direbus dengan air dan gula merah sehingga tampak kecoklatan, disajikan dengan diberi toping santan kental. Di beberapa daerah, pembuatan bubur abang sudah tidak sesuai pakem. Gula merahnya dikurangi sehingga tampak pucat, topingnya kelapa parut dicampur gula putih untuk menambah rasa manis.

Orang membuat bubur abang untuk dibagikan kepada para tetangga tujuannya bermacam-macam, terutama untuk tolak bala. Sedekah bubur abang memiliki filosofi luar biasa. Bubur dari kata  mlebu kubur (masuk ke alam kubur), pengingat  bahwa semua orang akan mati (kullu nafsin dzaa’iqatul maut); marilah  bersedekah karena “Orang yang senantiasa memberikan sedekah akan terhindar dari siksa kubur” (H.R. Tirmidzi).

Bersedekah bubur juga berarti mengamalkan  hadis “Orang  yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya” (H.R. Bukhari-Muslim) dan melaksanakan  perintah: “Wa’taṣimụ biḥablillāhi jamī’aw wa lā tafarraqụ” (Ali Imran: 103).

Bagi orang-orang yang kemampuan ekonominya terbatas, sedekah bubur abang dilakukan dengan bancaan. Mereka membuat bubur sekitar 4-5 piring untuk dikendurikan  anak-anak tetangga pada sekitar pukul 10.00.

Mereka makan bubur  tidak menggunakan sendok, tetapi daun pisang selebar 3-4 cm ditekuk disebut suru. Suru berasal dari kata surur, berarti bahagia. Ketika makan bubur anak-anak merasa bahagia karena dari pagi belum makan; emak mereka baru menanak nasi pada waktu dzuhur.

Setelah makan bubur, seorang di antara anak-anak berteriak, “Soraaak!”

Teman-temannya menyambut, “Horeee!”

Sorak  dari kata “syarruka” (keburukanmu); “hore”  dari kata al-khair (baik). Jadi, teriakan “sorak hore” mengandung dua tujuan.  Pertama, ekspresi kegembiraan anak-anak karena perutnya tidak lagi keroncongan.  Kedua, mereka  mendoakan  segala keburukan (penyakit, kesialan, atau kemalangan) orang yang telah bersedekah akan hilang  dan berubah menjadi kebaikan (keselamatan,  kesejahteraan, dan kebahagiaan).

“Meski kemasannya ada yang berubah, kupat lepet tetap lestari karena ada momennya. Sedangkan bubur abang semakin langka,” kata saya kepada serombongan kader NU ketika riyayan di rumah saya.

“Lare sakniki dijak bancakan bubur abang nggih mboten purun, Cak!” kata si A.

“Tapi tradisi bancakan niku tetep rame, Cak,” kata si B.

“Iyo. Bancakan duwik APBD,” kata si C disambut tawa teman-temannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *