
Oleh Nawawi A. Manan
Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (AsiaBagus).
“Kurang bancaane arek iku!”
Kalimat itu selalu diucapkan orang-orang yang melihat seorang anak terjatuh ketika sedang bermain – dan lain-lain — pada masa hingga era 1990-an. Dia memang bergurau, tetapi yang diucapkan bukan kalimat sembarangan.
Bancaan ialah bersedekah makanan berupa bubur merah, bubur putih, atau jajan pasar pada waktu weton atau hari lahir seseorang, seperti Senin Kliwon. Bancaan merupakan bentuk selamatan sederhana agar terhindar dari kesialan atau marabahaya.
Seperti selamatan, bancaaan tidak dikenal dalam ajaran Islam. Akan tetapi, bancaan merupakan wujud pelaksanaan sedekah atau shadaqah. Jadi, bancaan atau selamatan adalah sedekah dengan kemasan sesuai kondisi masyarakat Nusantara.
Dalam The Religion of Java, Antropolog Amerika Clifford Geertz menyebutkan selamatan terbagi menjadi 4 macam: (1) peristiwa-peristiwa siklus kehidupan: kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian; (2) berhubungan dengan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha; (3) berkaitan dengan integrasi sosial desa; dan (4) karena adanya peristiwa penting, seperti pindah rumah.
Dalam kehidupan pribadi, selamatan dimulai ketika seorang anak berada dalam kandungan disebut mitoni atau tingkeban, untuk mendoakan agar bayi dan ibu yang sedang mengandung selalu sehat, terutama pada masa kelahiran.
Dikutip dari beberapa sumber, siklus selamatan dilaksanakan masyarakat Jawa terdiri atas: (1) mendem ari-ari dan brokohan; (2) sepasaran, pada hari kelima setelah bayi lahir; (3) puputan atau pupak puser, ketika tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus; (4) paring asma, pemberian nama disertai pelaksanaan aqiqah; dan (5) selapanan, pada 35 hari setelah kelahiran bersamaan dengan bancaan weton.
Setelah berusia 7 bulan, anak diperkenalkan dengan tanah disebut tedhak siten. Tedhak siten juga disebut mudhun lemah dan anak mulai dibimbing belajar berjalan. Bancaan weton dilaksanakan sepanjang tahun pada setiap hari bertepatan dengan pasaran kelahiran.
Selamatan merupakan hasil ijtihad para wali untuk menyampaikan ajaran Islam sesuai kemampuan masyarakat dengan mengubah ajaran gugon tuhon untuk mengajak bersedekah karena hasil bumi tanah Nusantara melimpah. Ajakan tersebut dilaksanakan berdasar perintah berbagi karena sesungguhnya rejeki dari Allah SWT tidak hanya untuk individu.
Dalam pengajian Tafsir Jalalain disiarkan kanal Tebuireng, Dr. K.H. Mustain Syafi’i menjelaskan bahwa dalam Alquran tidak ada kata mal dan amwal — berarti harta — idhofah-nya kepada pribadi (maluka atau amwaluka); semua kata tersebut menggunakan dhamir jama’, seperti amwalakum.
Para wali tidak pernah memerintah bersedekah, tetapi mengajak dengan memberikan keteladanan. Mereka tidak mengajari kita ndalil, tetapi melaksanakan dalil untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Ajakan itu dikukuhkan dengan menyampaikan hadis diriwayatkan Imam Muslim, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah (Al-yadul-‘ulya khairun minal-yadis-suflaa), sehingga masyarakat Nusantara menjadi manusia berkalung sedekah.
Dalam seluruh aktivitas seremonial kita tidak terdapat perbuatan ornamentatif yang bisa dikategorikan sinkretik atau syirik. Semua produk seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi nihilisme irasionalisme telah diubah serta dikontekstualisasikan dengan ajaran Islam dan didesain menjadi konstruksi budaya untuk mewujudkan maslahatul ‘ammah (kemaslahatan bagi orang banyak).
Hilangnya sebagian konstruksi budaya akibat modernisasi tidak perlu dipersoalkan karena tradisi bukan syariat yang wajib dipertahankan. Akan tetapi, hal itu merupakan inkonsistensi kader NU dalam melaksanakan kaidah ‘al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah’ (memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).
Kaidah yang sekarang dipegang erat kader NU ialah ‘maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu’ (sesuatu yang tidak bisa diperoleh seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya). Mereka mengartikan: jika dana hibah, jasmas, prokir, reses, dan lain-lain tidak bisa diterima 100 persen, 55 persen saja oke-lah!
Nek bab urusan duwik kok cik cerdase awakmu, Cung!








