Usai Ditarik Keluar, Sidoarjo Alami Kekalahan

Naila Putri Nurmalasari, persepakbola putri Sidoarjo saat bertanding di Porprov Jatim 2025.

Nama Naila Putri Nurmalasari sempat menjadi perbincangan karena baru saja ia dikunjungi Bupati Sidoarjo H. Subandi, SH., M.Kn. Gadis kelas 9 SMPN 1 Jabon itu mengalami cidera saat berlaga di Porprov Jatim 2025 di Malang.

Naila, sapaannya, mengaku harus ditarik ke pinggir lapangan jelang akhir babak pertama usai. Saat itu ia bersama tim sepakbola Sidoarjo menghadapi tim dari Lamongan.

Ia menjelaskan, saat kejadian ia sedang menghalau serangan dari striker Lamongan. Kaki kanannya terdorong kaki lawan kemudian terjatuh.

“Iya, ikut arah kaki lawan. Kemudian jatuh dan kaki kanan jadi tumpuan,” jelas Naila.

Untungnya, tidak ada tulang yang patah. Tetapi, saat diperiksa di rumah sakit terdapat gumpalan darah di kaki kanan dan harus mendapatkan perawatan intensif cukup lama.

Usai kejadian itu tak berselang lama, Bupati Sidoarjo berkunjung ke rumah Naila. Usai mengetahui kondisi Naila pemerintah kabupaten akhirnya bersedia menanggung semua biaya pengobatan hingga pemulihan untuk Naila.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo hal itu dilakukan untuk meyakinkan para atlet bahwa Pemerintah Sidoarjo memberi jaminan kepada atlet yang berjuang membawa nama Kota Delta. Selain itu, untuk memberikan semangat kepada para atlet untuk giat berlatih.

Tak tanggung-tanggung, bantuan senilai 21 juta Rupiah disiapkan untuk penanganan awal cidera yang dialami Naila. Artinya, Pemkab Sidoarjo juga memberikan jaminan hingga Naila pulih dan bisa berlatih kembali.

Pemerintah Kabupaten berkomitmen tidak hanya menghargai prestasi para atlet saat di lapangan saja. Ada jaminan kesejahteraan dan kesehatan bagi atlet yang prestasinya terus meningkat.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Pak Bupati dan semua yang sudah membantu saya,” ujar Naila.

Bupati Sidoarjo pun memberikan bantuan tambahan berupa perbaikan rumah. Alasannya, Naila merupakan atlet potensial Sidoarjo yang telah membanggakan kota Delta di usianya yang masih belia, sehingga layak diberikan tambahan apresiasi.

Selain jadi andalan Sidoarjo peserta didik SMPN 1 Jabon itu juga jadi andalan tim PSIS Semarang Putri. Menariknya, ia sempat meraih juara nasional kelompok usia bersama klub Semarang tersebut.

Tim sepakbola putri Sidoarjo.

“Dulu menang saat bersama PSIS. Waktu itu kejuaraan nasional piala Pertiwi tahun 2023 di Jakarta,” terang Naila.

Gadis binaan SSB Arrosyid Porong itu mengawali karir di PSIS saat bergabung di SSB HBS Surabaya. Para pencari bakat PSIS mengetahui potensinya kemudian diberi tawaran bergabung untuk dipersiapkan mengikuti kompetisi.

Sosok Naila juga dikenal gigih dalam berlatih. Pasalnya, ia berlatih di lebih dari satu sekolah sepakbola. Bahkan, ia pun menambah jam latihan dengan private.

“Seminggu 4 kali latihan, ditambah ada latihan privat,” terang Naila.

Meski masih usia belia, ia sadar bahwa sepakbola adalah olahraga yang terukur dan membutuhkan proses panjang. Persaingannya pun cukup ketat. Sehingga, untuk bisa masuk ke tim utama Sidoarjo saja harus bersaing dengan 40 pemain terbaik dari semua klub.

“Waktu seleksi tim Sidoarjo itu yang ikut banyak. Mereka anak-anak SSB terbaik dan pilihan klub masing-masing,” jelas Naila.

Dari 40 anak terbaik yang ikut seleksi kemudian diambil 25 untuk masuk tim utama. Naila berhasil mengambil posisi center back utama yang jadi penentu selalu dimainkan.

Keberhasilan Naila menembus tim utama juga berkat peran Sang Ayah M. Mansyur. Saat masih kelas 3 bakat sepakbola Naila tampak. Ayahnya pun selalu memberi dukungan untuk giat berlatih. Bahkan, masuk klub sepakbola meskipun jauh dari rumah.

Sang Ayah mengaku ingin mewujudkan cita-cita Naila untuk bisa menembus timnas putri. Selain itu, berusaha mewujudkan dan menyemangati keinginan Naila untuk menjadi polisi.

“Pengen masuk squad timnas putri dan jadi polisi,” kata gadis penggemar Sergio Ramos itu.

Namun, cidera yang ia alami saat ini mengharuskan ia bersabar untuk fokus persiapan operasi dan pemulihan. Tak tanggung-tanggung, butuh sekitar 6 bulan untuk berhenti berlatih dan bertanding.

Perasaan sedih sempat ia rasakan sepulang dari Porprov. Tak hanya karena cidera, tetapi juga karena tim Sidoarjo harus kalah dari Lamongan dengan skor 1:2. Kekalahan Kota Delta terjadi di babak ke-2 setelah Naila ditarik keluar lapangan.

“Sebelum saya ditarik keluar skor masih 0:0. Saya keluar sebelum babak pertama selesai,” ungkap Naila.

Di babak ke-2, lanjutnya, tim Sidoarjo harus kebobolan 2 goal. Lini pertahanan pun sering mendapat ancaman dari Lamongan. Dan, akhirnya harus puas dengan hanya mengoleksi 1 goal saja.

Seminggu setelah kejadian Naila diizinkan masuk sekolah, meski harus memakai alat bantu untuk berjalan. Ia mengaku senang karena bisa berkumpul dengan teman-temannya kembali.

“Senang bisa ke sekolah meski pakai alat bantu. Kalau di rumah sepi,” kata Naila.

Teman dan guru-guru di SMPN 1 Jabon pun memberi perhatian dan mengawasi aktivitas Naila di sekolah. Pasalnya, kaki kanannya masih rentan jika digunakan untuk aktivitas yang melebihi anjuran dokter. Bahkan, saat berjalan ia harus didampingi satu orang teman kelasnya.

Setelah pulih dari cidera Naila berniat kembali berlatih untuk mencapai target yang ingin ia capai. Keinginan besarnya bisa merasakan latihan dan bermain di luar negeri. Pasalnya, semua pemain sepakbola berharap bisa menembus liga sepakbola di negara maju. (Nis)

Harus pakai alat bantu saat bersekolah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *